Festival Sastra Banggai 2020, Menelisik Pandemi Corona
ASKARA - Festival Sastra Banggai (FSB) tahun 2020 bakal digelar 12-15 Juni 2020 secara virtual. Mengangkat tema Manusia di Simpang Dongeng dan Data. Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Babasal Mombasa.
Direktur Festival Sastra Banggai, Ama Achmad mengatakan, tema yang diambil menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Karena semua hal tertunda akibat pandemi Covid-19 yang masih melanda.
"Kami pun jadinya mengangkat isu-isu selama pandemi, menyelisik jauh aspek-aspek di dalamnya," ujar Ama Achmad dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/6).
Pembicara dalam FSB virtual ini sangat variatif mulai dari jurnalis, hingga relawan medis di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Kemudian penulis dari Aceh sampai tokoh perempuan dari Melbourne.
"Beberapa sesi, secara khusus akan bicara tentang Covid-19, beberapa lainnya tentang bahasa, buku, dan festival literasi lain yang tertunda," tuturnya.
Pembicara yang akan dihadirkan terdiri dari berbagai latar belakang. Mereka adalah Gladys Elliona (Jakarta), Dwi Ratih Ramadhany (Yogyakarta), Almer Kasa (Palu), Neni Muhidin (Palu), Kepala Riset Tirto.id Ign. L. Adhi Bhaskara (Jakarta).
Psikolog I Putu Ardika Yana (Palu), aktor Breyfi Talanggai (Manado), Theoresia Rumthe (Salatiga), Weslly Johannes (Salatiga), Windy Ariestanty (Yogyakarta), serta Ivan Lanin (Jakarta).
Turut hadir juga Lily Yulianti Farid (Melbourne, Australia), Pemimpin Redaksi Mojok, Prima Sulistya (D. I Yogyakarta), Reza Nufa (D.I Yogyakarta), Ama Achmad, Alfinrizal (D.I Yogyakarta).
Dokter relawan medis Wisma Atlet, Falla Adinda (Jakarta), Aan Mansyur (Makassar), Azhari Aiyub (Aceh), Editor Gramedia Pustaka Utama, Siska Yuanita (Jakarta), Penulis dan Pemimpin Redaksi Asumsi.co Dea Anugrah (Jakarta), serta Safar Nurhan (Jakarta).
Perbincangan hangat di FSB virtual ini dapat disaksikan pada siaran langsung Instagram dan Facebook via aplikasi Webex. Festival ini sudah diselenggarakan sejak 2017.
"Khusus program yang melakukan registrasi, kami berharap terbangunnya diskusi dan interaksi antara audiens dan para pembicara," kata Ama Achmad.
Festival ini seperti tangan yang memanjang, menjangkau semua. Dari Aceh ke Palu, dari diagnosa ke bahasa, dari Melbourne ke Makassar, dari puisi ke perbincangan lainnya.

Komentar