Rabu, 17 Juni 2026 | 20:57
NEWS

Peringatan Potensi Gempa Kuat di Maluku Utara dan Sejarahnya, Begini Penjelasan BMKG

Peringatan Potensi Gempa Kuat di Maluku Utara dan Sejarahnya, Begini Penjelasan BMKG
Peta Gempa Maluku Utara (Dok BMKG)

ASKARA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali menelisik gempa bumi yang terjadi di Morotai, Maluku Utara, berkekuatan 6,8 magnitudo dengan kedalaman 111 km, Kamis 4 Juni 2020 pukul 15.49.40 WIB lalu. 

Pasalnya gempa bumi tersebut telah menimbulkan kerusakan ratusan bangunan di Kabupaten Pulau Morotai. Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, informasi terbaru hasil monitoring BMKG hingga Minggu pagi 7 Juni 2020 menunjukkan aktivitas gempa susulan hanya terjadi 5 kali. 

"Magnitudo gempa susulan terbesar 4,8 magnitudo dan terkecil 2,9 magnitude. Gempa susulan terakhir tercatat pada hari Minggu 7 Juni 2020 pukul 10.58.23 WIB berkekuatan 3,9 magnitudo," ungkapnya, Minggu (7/6).

Menurut Daryono, minimnya aktivitas gempa susulan di Morotai lantaran karakteristik batuan pada Lempeng Laut Filipina sangat homogen dan elastis (ductile). Sifat elastis pada batuan ini menjadikan batuan tidak rapuh, sehingga gempa susulan yang terjadi di Morotai sangat sedikit.

Sementara, monitoring BMKG selama bulan Mei 2020 menunjukkan adanya peningkatan aktivitas seismisitas, khususnya untuk aktivitas gempa menengah di kedalaman sekitar 100 km di wilayah Morotai.

"Sehingga wajar jika di zona aktif gempa yang terjadi sebulan sebelumnya, kini terjadi gempa kuat," ujarnya.

Wilayah Morotai, Maluku Utara merupakan salah satu kawasan seismik aktif di Indonesia, lokasi Pulau Morotai bersebelahan dengan zona subduksi Lempeng Laut Filipina. 

Kemudian, di sebelah timur Pulau Halmahera melintas subduksi Lempeng Laut Filipina yang berarah utara-selatan dengan panjang mencapai sekitar 1.200 km, dari Pulau Luzon, Filipina, di Utara hingga Pulau Halmahera di selatan. Zona subduksi aktif ini memiliki laju penunjaman lempeng antara 10 hingga 46 milimeter per tahun.

Daryono mengatakan, zona megathrust Lempeng laut Filipina adalah ancaman terjadinya bencana gempa dan tsunami yang potensial bagi wilayah Maluku Utara Khususnya Halmahera, Morotai, dan Kepulauan Talaud. 

"Khusus segmen zona megathrust di Pulau Halmahera memiliki magnitudo tertarget 8,2 magnitudo. Jika aktivitas gempa Kamis lalu berkekuatan 6,8 magnitudo maka masih jauh lebih kecil dari magnitudo tertargetnya," ungkapnya.

Catatan sejarah gempa kuat dan merusak yang dipicu tunjaman Lempeng Laut Filipina yakni gempa merusak Kepulauan Talaud 23 Oktober 1914 (7,4 magnitudo), gempa merusak Halmahera 27 Maret 1949 (7,0 magnitudo), gempa merusak Kepulauan Talaud 24 September 1957 (7,2 magnitudo), gempa merusak Halmahera Utara dan Morotai 8 September 1966 (7,7 magnitudo), gempa merusak Kepulauan Talaud 30 Januari 1969 (7,6 magnitudo) dan gempa merusak Maluku Utara dan Morotai Morotai pada 26 Mei 2003 (7,0 magnitudo).

Catatan sejarah 6 gempa kuat dan merusak tersebut merupakan bukti bahwa zona Megathrust pada tunjaman Lempeng Laut Filipina, khususnya Segmen Halmahera-Talaud menjadi salah satu sumber gempa yang patut diwaspadai dan tidak boleh diabaikan. 

"Tunjaman Lempeng Laut Filipina ini selamanya akan menjadi sumber gempa potensial di wilayah Halmahera, Morotai dan Kepulauan Talaud," tandasnya.

Komentar