Rabu, 17 Juni 2026 | 16:52
COMMUNITY

Wanita Bergaun Merah yang Penuh Dendam dan Amarah

Wanita Bergaun Merah yang Penuh Dendam dan Amarah
(Dok. Machmud Khadim)

ASKARA - Waktu itu tahun 2017 pukul 01.00 AM di sekitaran daerah Pondok Indah. Saya masih jadi ojol. Saya habis mengantarkan penumpang di daerah Pondok Indah lalu saya mencoba melipir ke arah Bintaro. Rasa penat juga capek, aku meminggirkan motor sejenak lalu mengambil rokok yang saya taruh di dashboard kemudian kunyalakan rokok sambil ngutak-ngatik aplikasi ojol di HP melihat poin yang kudapat hari ini karena saya harus mendapatkan 30 penumpang dalam empat hari agar bisa mendapatkan bonus. Berasa bete aku pun kembali melipir ke Bintaro berharap bisa mendapatkan penumpang di Stasiun Kereta Bintaro.

Memasuki Jalan Deplu kulihat kanan kiri rumah-rumah besar tapi keadaannya sepi mungkin karena sudah malam banget, mungkin pemilik-pemilik rumah sudah pada tidur. Melewati turunan juga melewati jembatan lalu tanjakan lagi, tiba-tiba mataku terpaku oleh sebuah rumah yang sedikit membuatku aneh dan heran lalu aku berhenti di seberang rumah tersebut dan aku melihat seorang wanita di jendela yang sedang melihatku sambil melotot. Kutegaskan lagi penglihatanku karena posisi rumah tersebut gelap gulita tak ada satu pun yang menyala, hanya lampu-lampu sekitaran jalan dan lampu-lampu ruko-ruko di samping saya yang nyala. Ternyata wanita itu mengenakan gaun berwarna merah. Lalu aku ambil HP-ku di holder kemudian aku foto wanita itu, setelah aku foto (seperti foto jendela yang ada di kisah ini) dan melihat hasilnya "Kok di foto kagak nampak itu cewe?" gumamku dalam hati. Tapi setelah saya menengok kembali ke arah jendela ternyata wanita itu masih ada beberapa detik kemudian cewe itu langsung hilang, "Masyaallah" ucapku. 

Kemudian aku jalan ke sebelahku yaitu ruko-ruko yang ada di depan rumah itu lalu memarkirkan motorku di depan ruko persis menghadap rumah tersebut. Kemudian keluarlah seorang bapak-bapak dari ruko tersebut, dia juga mau menyalakan rokok lalu aku memanggil bapak itu "Pak.. pak saya mau nanya" lalu bapak itu menghampiri saya lalu berkata "Ada apa bang?" kemudian saya jawab "Itu rumah yang di depan ada orangnya pak?" lalu dia menjawab "Aahh...itu mah rumah kosong bang!" Walau saya sedikit kaget lalu saya menanyakan lagi "Yang bener pak?" lanjut saya "Tadi saya lihat cewe berbaju merah di jendela itu pak" sambil menunjuk ke arah jendela tersebut. Setelah saya menunjukkan jendela itu lalu melihat ke arah si bapak tadi tiba-tiba jendela langsung tertutup sendiri "Prak" seperti dibanting, sontak saya dan bapak itu kaget.

"Astagfirullah" ucap si bapak lalu dia ngomong "Wah bang, kalau kejadian kayak tadi mah udah biasa saya lihat tiap hari, tiap malam". Lalu saya bertanya "Aahh... beneran itu pak?" Bapak itu jawab "Iya". Sambil diam saya berfikir "Aneh". Lalu saya ngomong lagi ke bapak itu "Emang itu rumah kasus ya pak?", lalu dia jawab "Wah itu mah udah lama bang, dari tahun 2005, kasus pembunuhan". Kemudian saya bertanya "Pembunuhan sekeluarga apa pak?" kemudian dia jawab "Bukan bang, itu kasus pembunuhan istrinya, suaminya yang bunuh, sekarang suaminya masih di penjara barangkali". 

Lalu saya hanya bisa jawab "Ooo". Kemudian si bapak bertanya "Lah tadi abang emang bener-bener ngelihat dia?" lalu saya jawab "Iya pak". Kemudian si bapak bertanya lagi "Loh emang abang dari mana?" saya jawab "Saya dari Pondok Gede pak, tadi habis nganter penumpang di daerah Pondok Indah". Lalu si bapak nanya "Ooohhh abang ojol?" ane jawab "Iya pak". Lalu si bapak ngomong "Biasanya kalau abang habis ngelihat gituan bisa hoki dong? bisa dapet banyak penumpang" lalu saya jawab "Wah kalau masalah rejeki mah saya cuma bisa ucap Allahualam".

Lalu saya bertanya lagi ke si bapak "Itu rumah dikunci gak pak?" Maklum karena saya masih penasaran. Lalu si bapak jawab "Pintunya mah gak dikunci, yang dikunci pagernya doang". Lalu dia melanjutkan omongannya "Emang abang mau ngapain?" lalu saya jawab "Oohh... gak pak saya cuma penasaran aja". Lalu si bapak ngomong "Coba aja abang ke sana!" Lalu ane turun dari motor dan kemudian menuju rumah tersebut sambil ngomong "Pak tolong bentaran jagain motor saya". Lalu si bapak jawab "Tenang aja saya di sini kok". Lalu saya menghampiri pagar samping rumah tersebut, sontak bulu kuduk saya berdiri dan mencium wangi melati di sekitaran rumah padahal di sekeliling rumah itu tidak ada satu pun tanaman melati. Sampailah saya di pagar depan rumah tersebut tapi saat melihat pagar ternyata sudah digembok dan saya langsung melihat ke arah si bapak-bapak tadi yang sedang melihat ke arah saya lalu saya balik lagi ke depan ruko tersebut dan menghampiri si bapak. 

Kemudian saya bertanya "Itu rumah kenapa digembok pak?" lalu si bapak jawab "Iya memang sengaja digembok oleh salah satu warga sini yang dipercaya oleh RT karena rumah itu sering digunakan tongkrongan bocah-bocah nanggung. Apalagi waktu itu dijadiin tempat mesum dan mabok-mabokan oleh anak-anak itu. Akhirnya warga dan pak RT memutuskan untuk menggembok pagar rumah tersebut. Kalau kunci pintu-pintunya ditahan oleh pihak bank". Wah makin heran lagi saya, lalu saya bertanya "Kok bisa ditahan pihak bank pak?" lalu bapak itu ngomong sambil menggeleng-gelengkan kepala "Wah kalau masalah itu saya gak tahu. Coba abang tanya sama yang megang kunci gemboknya, dia yang tahu kasusnya persis". Lalu saya jawab "Tuh yang megang kunci gembok tinggal di mana pak?" kemudian si bapak jawab "Itu rumahnya di belakang ruko, mau saya anterin?" ane langsung jawab "Wah boleh tuh". Lalu kami jalan menuju rumah si jurkun, tak lupa saya lepas HP dari holder lalu mengunci stang motor. Sampailah saya di rumah si jurkun lalu si jurkun keluar sambil bertanya kepada si bapak tadi "Ada apa pak?" kemudian si bapak ngomong "Ini orang mau lihat rumah" lalu si jurkun jawab "Sebentar saya ambil kuncinya". Tak lama kemudian si jurkun keluar sambil membawa kunci gembok dan berjalan bersama kami menuju pagar depan rumah itu. Sampailah kami di depan rumah itu.

Kemudian si jurkun membuka gembok pintu pagar sambil bertanya kepada saya "Emang mau ngapain bang?" ane jawab "Ooohhh... saya mau lihat keadaan di dalam rumah pak" lalu jurkun jawab "Ooo... gitu". Kemudian terbukalah pagar pintu depan, saya dan jurkun jalan menuju pintu depan. Jika si bapak tadi dia nunggu di depan, saya hanya berdua bersama si jurkun yang memasuki rumah. Di saat membuka pintu depan tiba-tiba berasa angin menghembus dari dalam rumah keluar.

Dalam hatiku "Wiihh... dingin bro" kemudian si jurkun ngomong "Maaf nih bang, ini rumah gak ada listriknya jadi gak ada satu pun lampu yang bisa nyala. Soalnya listriknya udah dicabut oleh PLN". Ane jawab "Oohh begitu" lalu kami jalan ke ruang depan sambil ngelihat kondisi rumah yang gak pernah dibersihin, debu di mana-mana lalu penglihatan saya terpaku di tangga yang menuju lantai atas karena saya melihat sekelebat bayangan hitam menuju lantai atas tapi saya cuma diemin aja karena saya positif thinking aja. Mungkin ada orang lewat di samping rumah jadi bayangannya terlihat di dalam karena sorotan lampu yang ada di jalan "walaupun sebenarnya tidak ada satu orang pun yang melintas." Lalu saya ngomong ke si jurkun "Pak sepertinya cukup" lalu si jurkun jawab "Gak nyoba naik ke atas bang?" ane jawab "Gak perlu bang" (walaupun saya mencium anyir dan melati). Kemudian kami jalan keluar rumah, si jurkun pun menggembok kembali pagar itu, saya langsung menuju si bapak yang dari tadi menunggu di depan kemudian kami kembali ke depan ruko si bapak.

Sampailah kami di depan ruko tadi lalu si jurkun bertanya kepada saya tapi si bapak yang menjelaskan maksud saya tadi untuk memasuki rumah. Bla..bla..bla... kemudian si jurkun kaget sambil ngomong ke saya "Aahh...yang bener bang?" Saya jawab "Iya bang" lalu saya meneruskan bertanya "Kok ini kunci-kunci pintunya bisa ditahan oleh bank?" Kemudian si jurkun menjelaskan kronologinya dari A sampai Z "Gini bang, ini yang punya rumah pasangan orang ambon, nah denger ceritanya nih sertifikat rumah digadai oleh istrinya ke bank tanpa pengetahuan suaminya, udah gitu ternyata istrinya selingkuh dengan laki-laki lain, pria selingkuhannya itu meminta uang besar terhadap istrinya yang punya rumah ini. Lalu ketahuanlah perbuatan istrinya itu oleh suaminya lalu terjadilah perang hebat nyampe bikin berisik para tetangga termasuk saya yang tinggal di depan. Lalu si suami mematikan lampu yang kemudian membunuh istrinya, paginya si suami udah tidak ada di rumah sedangkan pintu depan rumah gak dikunci. Saking herannya warga dan pak RT mencoba masuk ke rumah dan menemukan istri si pemilik rumah sudah berlumuran darah akibat benturan kepalanya di tembok. Itu pun saya yang mengangkut  mayat istrinya ke ambulan." 

Lalu saya jawab "Ooo... begitu". Lalu si jurkun bertanya kepada saya "Emang abang tadi melihat cewe bergaun merah di atas dekat jendela?" lalu saya jawab "Iya pak" kemudian si jurkun menanyakan cirinya kepada saya, ya saya jelasin dong lalu si jurkun menjawab "Lah itu bener bang, saat mati istrinya mengenakan gaun merah, matinya pun di lantai atas". Sontak ane bergeming "Astagfirullahaladzim. Masyaallah. Subhanallah. Lalu ane bertanya "Kok pihak bank tidak mengurusi masalah listrik ini bang?" lalu dia jawab "Gak tahu saya bang". Lalu ane ngomong lagi ke si jurkun "Kalau bisa bapak bilangin ke pihak bank untuk mengaktifkan kembali listriknya, soalnya kalau rumah ditinggal lama-lama pokoknya salah satu lampu harus dinyalain, entah mau lampu yang mana dinyalain. Jika saran saya sih cukup lampu WC yang dinyalain.. Takutnya nanti malah banyak yang ngumpul di sini tuh mahluk-mahluk kayak gitu". Lalu si jurkun ngomong "Ooooo... begitu ya bang. Okelah nanti saya omongin sama pak RT setempat." 

Lalu saya melihat HP untuk melihat jam, walah udah jam 03.30 AM aja, koplak.. Lalu saya pamit dengan mereka untuk pulang karena saya juga udah agak lelah ngebit dari Maghrib sampai pagi gini.

Ya itulah kisah nyata saya tentang kejadian ini. Saksi hidup masih ada, lokasinya pun masih ada.
Wassalam.

Machmud Khadim
(Karyawan swasta, tinggal di Jakarta)

Baca juga: 
Malam-malam Dikerjain Kuntilanak

 

Komentar