Bertemu dengan Tiga Pendaki Menakutkan
ASKARA - Setiap pendaki pasti memiliki pengalaman sendiri saat menapaki sebuah gunung. Tidak terkecuali mengalami hal-hal mistis.
Namun selalu ada pelajaran penting yang dapat diambil dari pengalaman tersebut.
Pendaki asal Jakarta bernama Randi menceritakan pengalaman mistisnya saat mendaki Gunung Gede Pangrango di tahun 2000. Dia bersama teman-temannya mendaki bertepatan dengan malam 1 Suro.
"Kala itu pemuda Jakarta biasanya mendaki gunung di wilayah Jawa untuk menikmati alam, malam dan menghayati makna malam 1 Suro," ujar Randi dalam akun Youtube RJL 5.
Mereka berangkat delapan orang dari Jakarta. Randi menyebutkan salah satu temannya bernama Uwi yang membuat jalan cerita menjadi lebih seram. Mereka tiba di Cibodas pukul 23.00 WIB, perjalanan ke puncak gunung pun dimulai.
"Sebenarnya sudah malam. Tapi pada tahun 2000 itu walau kita datang malam masih bisa naik. Kalau sekarang tidak bisa, batas waktu naik itu pukul 18.00 WIB," kata Randi.
Perjalanan dari Pos Cibodas menuju pos terakhir Pos Kandang Badak belum menemukan hal mistis. Mereka tiba di pos terakhir pukul 03.00 WIB. Akhirnya memutuskan untuk istirahat dan makan.
"Jam empat kita summit sampai pukul enam. Kebetulan masih dapat sunrise. Kabutnya tipis jadi kita masih lihat sunrise di sana," tutur Randi.
Semula mereka ingin turun ke Surya Kencana. Tapi mereka memutuskan untuk bermalam lagi di puncak. Kemudian besoknya turun via jalur Gunung Putri, waktu menunjukkan sudah sore.
Tidak jauh melangkah mereka menemukan tenda dan di dalamnya terdengar suara adzan dari radio. Namun mereka memilih tetap terus jalan. Nahas, mereka pun mendapat suatu pertanda.
"Adik saya terpeleset. Kita sempat bercanda tapi baru sadar itulah sebuah pertanda," ungkap Randi.
Sesaat hendak mau turun dari Pos Gunung Putri mereka tidak bertemu dengan pendaki lain. Ketika sampai Simpang Maleber, jalur untuk turun yang benar mengambil jalur kanan.
Namun jalur tersebut seperti ada kubangan besar tertutup sampah. Padahal seingatnya jalur turun ke basecamp harus melewati jalur itu. Akhirnya memutuskan lewat jalur kiri dan langsung dikejutkan dengan tiga orang pendaki.
"Satu orang berdiri kemudian satunya lagi jongkok dan orang yang ketiga merangkak di tanah menuju ke atas. Begitu melihat wajahnya selalu menoleh," cerita Randi.
Randi sempat berbincang dengan ketiga pendaki itu. Dari menanyakan alamat hingga kalimat terakhir sebelum mereka pamit berkata untuk berhati-hati di jalan.
"Perkataannya biasa, hati-hati di jalan bang. Tapi kata-kata bang itu selalu terngiang di telinga saya, padahal sudah jauh," tutur Randi.
Kemudian salah satu temannya berteriak bahwa jalur ini tertutup portal tapi akhirnya bisa dibuka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan rasa ketakutan seakan tidak hilang.
Di tengah perjalanan Randi menemukan bungkus rokok yang dianggapnya sebagai bukti bahwa jalur ini pernah dilalui oleh manusia. Itu pula yang membuat mereka yakin untuk terus berjalan.
Waktu pun hampir larut malam, akhirnya mereka memutuskan membuka satu tenda. Mereka tidur saling berbagi tempat.
"Tidak ada yang berani untuk jaga di luar," ucap Randi.
Tiba-tiba ada suara auman harimau. Alhasil mereka langsung mematikan senter di dalam tenda dan berharap pagi segera tiba.
"Ketika pagi kami keluar tenda kaget karena di samping tenda itu jurang hanya ada satu pohon tumbang," tandas Randi. (Bersambung)

Komentar