Corona Oh Corona (2)
Tulisan ini memakai judul yang sama dengan tulisan sebelumnya https://www.askara.co/read/2020/04/14/3251/Corona-oh-Corona dengan saya tambahi angka (2).
Saya masih di Singapura, menjalani tugas belajar.
Beberapa saudara dan teman dalam chat WhatsApp mendiskusikan kapan kira-kira partial lockdown (PSBB) yang berlaku di Indonesia saat ini selesai. Tentu saja sebagaimana orang lain juga, saya tidak bisa menjawabnya. Bahkan ada yang menimpali dalam chat group dengan meme “tanyakan saja pada Mukidi”. Yang pasti, kita semua sudah bosan dengan kondisi ini dan ingin kembali hidup normal sebagaimana sebelum masa pandemic.
Sehari-hari saya menonton televisi channel Singapura yang memberitakan berita-berita internasional. Di Korea Selatan mulai memperlonggar pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat. Mulai dipikirkan juga untuk memulai lagi beberapa even olahraga. Di China, yang diduga menjadi titik awal penyebaran Covid-19 ini, sudah lama melonggarkan aturan-aturan lockdown. Spanyol mulai berpikir untuk menormalkan aktifitas sehari-hari. Hongkong sudah mengijinkan penduduk untuk bergerombol dalam jumlah tidak lebih dari 8 orang. Singapura begitu juga, mulai mengijinkan toko-toko dan pelayanan-pelayanan tertentu buka.
Sudah banyak relaksasi atas pembatasan sosial di beberapa negara di dunia. Walaupun begitu, tentu saja negara-negara tersebut tetap memperhatikan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.
Negara yang belum ada tanda-tanda merelaksasi aturan-aturanya adalah India dan Indonesia. 2 negara ini adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 2 dan 4 di dunia. Bahkan India mencatat kenaikan jumlah penduduk terinfeksi harian akhir-akhir ini.
Tentang Indonesia, hari ini televisi Singapura memberitakan tentang catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 3 bulan pertama tahun ini menjadi yang terendah sejak 2001. Juga tentang peringatan Presiden Jokowi tentang tantangan musim kemarau tahun ini yang diperkirakan lebih kering dari biasanya. Musim kemarau bisanya dimulai bulan April dan berakhir hingga Oktober.
Wooow,… 1 masalah belum selesai dan masalah yang lain sudah menanti.
Mungkin begitulah hidup. Perpindahan dari 1 masalah ke masalah yang lain. Oleh karena itu mungkin kita tidak perlu meratapi masalah tapi lebih baik kita konsentrasi mengatasi masalah.
Tentang menyikapi coronanya sendiri sudah saya bahas sebelumnya. Tentang menggunakan menggunakan masker kemanapun pergi, tidak perlu keluar rumah kalau memang tidak untuk hal yang sangat penting dll.
Dan sekarang akibat dari PSBB tersebut, kita semua sudah menghadapi konsekuensi ekonomi. Banyak usaha yang tutup, banyak karyawan dirumahkan, produk pertanian dan peternakan kurang pasar, sektor usaha informal berhenti beraktifitas dll. Intinya kegiatan ekonomi mulai dari level UMKM hingga perusahaan besar kena imbasnya. Mulai rakyat kecil hingga pengusaha besar mengalami penurunan pendapatan.
Apakah ini hanya Indonesia saja yang menghadapi, tentu saja tidak...
Sering kita dengar para ahli ekonomi yang menjelaskan keadaan saat ini dengan teori yang panjang lebar dengan menggunakan bahasa yang rumit. Pada tulisan ini saya ingin menulis sesuatu yang mudah dimengerti.
Saya ingin menggambarkan keadaan saat ini dengan satu paragraf di bawah ini.
Karena kita harus stand by di rumah maka tidak banyak kegiatan ekonomi yang kita lakukan. Karena tidak banyak kegiatan ekonomi maka uang yang beredar juga turun. Karena uang yang beredar turun maka orang susah cari uang. Makin lama PSBB, maka makin menurun kegiatan ekonomi. Itu artinya juga makin sedikit uang beredar di masyarakat dan itu artinya juga makin susah cari uang. Itu artinya juga total produk barang dan jasa suatu negara yang lebih dikenal dengan nama Produk Domestik Bruto (PDB) makin turun. Siklus ini terus bekelanjutan apabila PSBB juga berkelanjutan.
Okay, saya rasa cukup segitu saja kita mikir tentang ekonomi. Kecuali kalau kita memang lagi kuliah jurusan ekonomi. Silahkan cari referensi yang lebih lengkap.
Kembali ke prediksi kapan kita akan mengalami masa-masa normal? Saya setuju dengan beberapa pendapat tokoh, salah satunya Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong yang mengatakan bahwa bencana corona ini mungkin bisa berlangsung setahun atau lebih.
Lalu bagaimana? Jawabanya ya kita hadapi. Yang jelas kita tidak bisa merubah situasi. Ada ungkapan yang terkenal bagi seorang pelaut yang berbunyi “kita tidak bisa menentukan arah angin, tapi kita bisa menentukan arah layar”. Begitu juga kita saat ini. Kita harus merubah pola pikir dan tindakan-tindakan kita menyesuaikan keadaan.
Pertama, yang jelas kita tidak bisa melawan angin. Dengan turunnya pendapatan maka kita harus menurunkan gaya hidup. Kalau tidak mau besar pasak daripada tiang. Berhutang hanya akan memperburuk keadaan.
Kedua, tetaplah produktif walaupun stand by di rumah. Kita bisa jualan online, bikin tulisan, bikin video musik dll. Intinya kita cari alternatif pendapatan yang kita bisa kerjakan dari rumah. Internet adalah media yang bisa menjadi solusi atas situasi ini.
Ketiga, untuk petani, peternak dan nelayan, tetaplah bekerja. Kalau perlu lebih giat. Karena sektor-sektor ini menjadi penopang ekonomi kita saat ini. Tidak mungkin juga bertani, berternak dan mencari ikan secara online.
Okay, saya sudahi tulisan saya ini dengan mengutip salah satu ayat dalam Alquran bahwa “Allah tidak menguji hambaNya di luar kemampuannya”. Akhirnya, mari kita terus berdoa semoga wabah corona ini segera berakhir. Dengan banyak berdoa kesehatan mental kita bisa tetap terjaga dan membuat kita bisa tetap bahagia.
Demikian tulisan saya semoga ada manfaatnya. Terima Kasih telah membaca. Stay healthy and happy.
Dedi Gunawan Widyatmoko
Mahasiswa di Singapura

Komentar