Perempuan Cantik Gunung Argopuro (1)
ASKARA - Tanggal 5 Maret 2020 kemarin sebelum wabah corona menyerang. Aku dan temanku Candra dari Kalimantan pergi ke Gunung Argopuro. Setelah melakukan registrasi dan mengurus perijinan pendakian kami pun memulai perjalanan.
Hari pertama kami nge-camp di gubuknya petani karena hujan tak kunjung reda kami pun memutuskan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Hari kedua kami nge-camp di savana 1 atasnya mata air 2, lagi-lagi karena cuaca yang gak bersahabat.
Di gunung ini cuma ada kita berdua gak ada pendaki lain mungkin karena kami mendaki pas bukan hari libur. Hari ketiga kita bongkar tenda lalu packing lalu ada tiga orang penampilannya seperti petani memakai baju lengan panjang dan celana cingkrang. Mereka berjalan melewati kami, aku pun menyapa mereka.
"Mau ke mana pak ?" tanyaku
"Cikasur," jawab salah satu di antara mereka bertiga sambil terus jalan dan tanpa menoleh ke arah kita.
"Dari sini ke Cikasur berapa jam pak ?" tanya temanku Candra
"Dua jam," jawab petani itu dengan singkat sambil terus jalan meninggalkan kami.
"Terima kasih pak nanti saya susulin," kata Candra. Namun mereka diam dan berlalu meninggalkan kita berdua. Habis ngisi air kita melanjutkan perjalanan.
Singkat cerita sampailah kita di savana ketiga kalau gak salah. Di situ ada bangunan gak tahu bekas apaan mungkin bekas shelter yang sudah rusak parah atapnya pun sudah gak ada hanya sebagian bangunan yang masih berdiri. Awalnya aku gak tertarik dengan bangunan itu, tapi pas dekat bangunan itu aku ngerasa bangunan itu gak asing kayak pernah berada di tempat itu sebelumnya. Temanku Candra ngajakin aku mendekati bangunan itu.
"Kenapa bang?" Tanyaku.
"Aku kok kayak pernah ada di sini ya kayak ngalamin de javu," ujar Candra
"Sama aku juga iya bang," jawabku
Candra menuyuruhku mengambil foto di tempat itu. Pas aku ngambil gambar di dekat tembok di bawah pohon aku melihat perempuan memakai gaun putih memakai topi wajahnya cantik seperti orang Belanda tapi pucat dia ngelihatin kita tatapan matanya itu sedikit menakutkan. Aku lihat perempuan itu dari layar hp-ku dia gak ada. Aku buru-buru ngajakin Candra pergi dari tempat itu. Aku gak cerita ke temanku tentang orang yang aku lihat tadi. Aku khawatir dia takut/gimana. Kami pun melanjutkan perjalanan kembali dan sampailah di Cikasur. Dari sini kita bingung jalan ke arah puncak yang mana karena banyak persimpangan di situ cuma ada plang bertuliskan Cikasur strip bawah puncak. Kita kira itu puncak Cikasur. Peta yang kami buat dadakan dari hasil nanya-nanya sama orang yang kita temui di perkebunan ternyata gak akurat sama di lapangan. Tiba-tiba aku melihat ada dua orang duduk di bawah pohon dan empat orang lainnya mondar mandir di bangunan gak tahu apaan kayak rumah mungkin itu shelter/pos aku gak tahu. Mungkin itu tiga petani yang kita sapa tadi pikirku.
"Bang itu di sana ada orang kita nanya sama mereka aja!" Ujarku
"Mana?" tanya Candra
" Di bawah pohon sama di rumah itu!" jawabku
"Mana ada orang di bawah pohon?" tanya Candra
"Mungkin mereka sudah jalan ke rumah itu," jawabku
Kita pun jalan ke arah rumah itu tapi pas sampai bawah pohon Candra berhenti dia diem aja lihatin rumah itu terus dia balik lagi jalan ke arah utara.
"Bang! Malah balik gak jadi nanya?" ujarku
"Gak usah nanya ayo pergi aja ke sana!" kata Candra sambil jalan ninggalin aku. Aku masih diam di situ aku sambil planga plongo aku bingung kita gak tahu jalan kalau gak nanya takutnya nyasar tapi kalau aku pergi ke rumah itu dan nanya sama mereka aku ditinggalin Candra.
"Hoy ndut ayo jalan ngapain diem aja di situ?" kata Candra.
Pas aku nengok ke arah Candra terus lihat plang eh Nona Belanda yang tadi aku lihat di savana tiga berdiri di situ ngelihatin aku. Aku langsung lari ngejar Candra.
"Ngapain kamu lari-lari jatuh tahu rasa!" kata candra.
"Gak papa" jawabku.
Kita pun lanjut jalan naik turut bukit ngelewatin sabana lagi karena hari sudah sore kita nge-camp di dekat shelter Cikasur. Habis Salat Ashar kita masak, Candra nyuruh aku ngambil air di sungai yang gak jauh dari tempat kita nge-camp. Aku pun ngambil air sekalian cuci muka, beh airnya dingin banget kayak es, habis nyuci muka pas mau berdiri eh Nona Belanda sudah nangkring aja duduk di pohon tumbang yang ada di seberang sungai di depanku, hmm langsung aja lari, jalannya nanjak lagi, saking takutnya aku sampai jatuh-jatuh, kakiku berdarah kena batu. Aku langsung masuk dalam tenda.
"Kenapa kamu ndut lari-lari? Itu kaki kenapa berdarah kayak gitu?" tanya Candra
"Jatuh di sana kepleset," jawabku.
"Pecicilan aja kamu itu," ujar Candra sambil mengobati kakiku. Habis makan malam kita pun tidur.
Hari keempat kita jalan lagi naik turun bukit lagi keluar masuk hutan lagi dan sampailah kita di Rawa Embek. Di sini kita break sebentar ngambil air di mata air. Langit pun mulai mendung kita segera melanjutkan perjalanan, baru 10 menit jalan hujan turun.
"Ayo ndut cepat kita pasang flyseet di dekat batu besar itu," ujar Candra. Kita pun mempercepat langkah. Setelah sampai di batu yang dimaksud kita langsung bongkar flyseet, aku mengikatnya di pohon dan memasukkan tas kami ke bawah flyseet, Candra motongin ranting kayu untuk dibuat pasak. Sementara Candra masang pasak di flyseet aku berteduh di bawah flyseet sambil megangin flyseet-nya pas flyseet-nya sudah kepasang eh hujan reda. Candra yang basah kuyup dia langsung marah-marah.
"Muhammad hari....hari. Babi dasar bangsat ini hari," ujar candra
"Sabar saudara ini ujian!" Kataku sambil ketawa ngakak. Kita pun bongkar flyseet dan lanjut jalan lagi, baru 5 menit jalan hujan turun lagi. Kita lanjut jalan saja hujan-hujanan sudah. Sampai Savana Lonceng hujan belum juga reda malah makin deras. Kita gak kuat jalan lagi karena sudah kedinginan banget dari tadi kehujanan badan sampai menggigil, kita diriin tenda di sini. Habis diriin tenda kita duduk di dalam tenda, bibirnya Candra sampai membiru aku takut kalau dia kena hypo.
"Bang gak papa?" tanyaku
"Iya gak papa dingin banget aku," jawabnya.
Aku pun nyalain kompor lalu kita api-api di dalam tenda. Setelah sedikit hangat kita masak air bikin cokelat panas. Hujan pun mulai reda
"Ndut kamu masih kuat berdiri? " tanya candra
"Masih! Kenapa emangnya?" aku balik nanya.
"Tolong dong pasangin pasaknya tadi tendanya belum sempat dipasangin pasak, dingin banget aku gak kuat berdiri," ujar candra. Aku pun keluar dari tenda sambil membawa pasak. Pas buka pintu tenda aih dingin banget. Tenda sebelah kiri sama belakang sudah terpasang pasak, tinggal sisi kanan sama teras. Pas masang pasak sebelah kanan tiba-tiba aku merinding, bulu kudukku berdiri buru-buru aku masang pasak lalu berdiri dan melihat sekelilingku, eh si Nona Belanda muncul lagi, dia lagi nangkring duduk di atas batu. Heran gerimis-gerimis, angin lagi malah nangkring di situ, gak takut pilek apa ya itu Nona Belanda.
Langsung aku lari masuk tenda bodo amat teras belum aku pasangin pasak.
"Kamu itu kenapa sih ndut masuk buru-buru kayak gitu," ujar Candra.
"Di luar dingin aku gak kuat," jawabku.
"Tendanya sudah dipasangin pasak semua?" tanya Candra
"Terasnya belum dipasang," jawabku
"Ya sudah gak papa nanti biar aku aja yang masang," kata Candra.
Di dalam tenda kami pun masak makanan karena udara sangat dingin kita tiduran dan masuk ke dalam sleeping bag kami masing-masing. Aku membenamkan kepalaku di dalam sleeping bag.
"Heh ndut kamu kenapa?" tanya Candra.
"Tanganku linu," jawabku.
"Kumat lagi?" tanya Candra .
"Iya ini kedinginan," jawabku.
"Ini pakai sarung tanganku," kata Candra sambil melepas sarung tangannya dan menyodorkan sarung tangannya padaku.
"Sudah gak usah," jawabku. Tapi dia menarik tanganku dan memakaikan sarung tangannya padaku yang sudah memakai sarung tanganku sendiri. Hujan turun lagi, makin lama makin deras. Sekitar jam tujuh malam ada badai.
"Ndut tadi kamu waktu masang pasak di sekitar kita ada pohon mati gak?" tanya Candra.
"Gak ada, tenda kita kuat kan bang?" aku pun balik nanya.
"Insya Allah aman. Jangan tidur ya ndut," ujar Candra.
"Iya," jawabku.
Kita saling diam di dalam tenda, suara angin begitu keras bercampur dengan suara hujan. Tenda kami pun bergoyang-goyang kena angin. Blug! tiba tiba terdengar suara sesuatu dari luar tenda.
"Suara apa itu bang?" tanyaku.
"Tongkat kayu penyangga flyseet jatuh," jawab Candra.
Aku diam gak melanjutkan obrolan, aku takut dengar suara angin yang kencang ini. Gak lama kemudian terdengar lagi suara gluduk-gluduk dari luar tenda.
"Suara apa itu bang?" tanyaku lagi.
"Batu yang aku pakai untuk mengikat flyseet ngegelinding kayaknya gak kuat nahan flyseet yang ditiup angin," ujar Candra.
Kita pun saling diam lagi. Aku membuka tutup kepala sleeping bag-nya Candra, aku lihat Candra sudah memejamkan mata aku gak tahu dia sudah tidur atau cuma merem aja. Aku pun membenamkan kepalaku ke dalam sleeping bag-ku dan memejamkan mataku mencoba untuk tidur tapi aku gak bisa tidur. Tiba tiba terdengar suara lonceng tiinngggg...... Suaranya sekali tapi panjang. Aku mau nanya lagi sama Candra tapi kuurungkan niatku karena aku gak mau gangguin dia tidur. Lima menit kemudian suara lonceng itu berbunyi lagi. ting..ting..ting.., kali ini lebih banyak. Aku fikir mungin itu suara pendaki, kan ada tuh pendaki yang suka bawa lonceng tapi ini kan lagi hujan badai masak iya ada pendaki yang lanjut jalan. Nekat sekali dia. Aku tungguin aja hampir lima menitan gak ada tanda-tanda adanya pendaki karena dari tadi gak ada cahaya senter ataupun suara langkah kaki. Tapi bunyi lonceng itu terus terdengar dan makin lama semakin keras berisik sekali sampai telingaku sakit mendengarnya. Aku pun mulai semakin ketakutan, aku membenamkan kepalaku lagi ke dalam sleeping bag aku terus-terusan membaca Ayat Kursi sambil memejamkan mataku. Gak tau sudah berapa banyak aku terus membacanya berulang kali hingga aku pun tertidur. Aku pun terbangun dari tidurku.
"Jam berapa bang?" tanyaku.
"Jam 10," jawab Candra.
Aku pun kembali memejamkan mata dan terbangun lagi.
"Jam berapa bang?" tanyaku lagi.
"Jam 12," jawab Candra.
Aku kembali tidur lagi dan untuk yang ketiga kalinya aku terbangun.
"Jam berapa bang?" tanyaku lagi.
"Jam dua," jawab Candra.
"Kenapa lama sekali paginya aku ingin cepat pagi," ujarku.
"Sudah tidur lagi aja nanti kalau sudah waktunya pagi juga pagi sendiri," jawab Candra.
Di luar hujan belum juga reda dan angin juga masih bertiup kencang. Malam ini rasanya begitu lama aku benar-benar gak nyaman, aku ingin hari segera pagi. Ketika aku terbangun untuk yang ke empat kalinya ternyata hari sudah pagi. Kita jemurin barang-barang kita yang basah terus kita tinggal pergi ke Puncak Rengganis. Kita di puncak sekitar 20 menit ambil gambar lalu turun balik ke tenda dan packing. Aku duduk di depan tenda sambil melipat baju kami yang masih basah sedangkan Candra dia di belakang tenda melipat flyseet. Ada bapak-bapak lewat di depanku, aku pun menyapanya dan menawari bapak itu kopi tapi dia gak mau dan jalan ke arah selatan. Setelah itu aku pergi ke arah batu besar untuk ngambil hp-nya Candra dan sepatu, di sini lewat lagi bapak-bapak penampilannya kayak petani yang kulihat kemarin makai baju lengan panjang lusuh dan celana cingkrang tanpa alas kali. Di atas gunung udara dingin tanpa alas kaki gak kebayang gimana dinginnya itu kaki aku pun bermaksud memberikan sandal dan kaos kakiku pada bapak itu, aku juga menawari bapak itu kopi dan mengajaknya ke tenda. Tapi bapak itu gak mau, dia pamit pergi dan jalan ke arah selatan. Tiba-tiba Candra memanggilku.
"Heh ndut sini!" ujar Candra.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu itu jangan nawarin orang kopi mulu. Persediaan kopi kita itu tinggal dikit kalau kehabisan mau minum apa kita? Di sini gak ada pasar," ujar Candra.
"Iya-iya," jawabku.
Kami pun melanjutkan packing-nya setelah itu sarapan. Habis sarapan kita lanjut jalan ke Puncak Argopuro.
Bersambung.
Wahyu Pujiningsih
(Pencinta alam, tinggal di Madiun)
Selanjutnya:
Perempuan Cantik Gunung Argopuro (2)

Komentar