Cerita Penemu Teknologi Pensteril Tubuh yang Ditolak Istana
ASKARA - Di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang sedang melanda Indonesia seorang anak bangsa Rudy Sumardi menemukan teknologi terbatu yang diberi nama Recovery Sistem Imun Korona atau RESIK.
RESIK sendiri berbentuk serupa bilik untuk mensterilkan tubuh namun cairan yang digunakan bukan disinfektan melainkan 100 persen berbahan herbal yakni dengan kandungan daun sirih. Di dalam bilik juga dilengkapi sinar ultraviolet serta teknologi nano ozone.
Rudy mengatakan, khasiat daun sirih sudah terbukti ampuh untuk membunuh bakteri atau kuman, termasuk peran dari ultraviolet dan juga nano ozone yang turut mendukung khasiatnya.
"Ketiga unsur tersebut itu semua sudah mampu membunuh bakteri dan kuman secara instan, termasuk membersihkan dari corona," katanya saat berbincang dengan Askara, Rabu (29/4).
Dijelaskan Rudy, penciptaan teknologi RESIK sekaligus bentuk keprihatinan dengan banyaknya masyarakat mensterilkan tubuh dari virus corona di bilik dengan cairan disinfektan yang efeknya tidak aman bagi tubuh.
"Kebanyakan orang mencegah itu hanya menggunakan kimia, disemprot bagi disinfektan. Kalau untuk benda mati boleh, kalau makhluk hidup tidak dianjurkan. Akhirnya saya membuat ini," ujarnya.
Sayangnya, Rudy mengaku mendapat respon tidak baik dari hasil temuannya tersebut. Teknologi RESIK ditolak oleh Kementerian Pertahanan dan juga pihak Istana.
Beberapa waktu lalu, Rudy sempat bertemu dengan perwakilan pihak Kemenhan dan Istana untuk mempresentasikan temuannya dan sempat diminta agar temuannya itu didatangkan dan bisa dilihat secara langsung. Sayangnya harapannya itu pupus.
"Begitu saya siap, hari Senin saya mau bawa barang ini jawab mereka bilang 'mas pimpinan kami belum menyetujui alat ini untuk dipakai'. Sedih memang mau ngomong apalagi itu kenyataannya," jelasnya.
"Mereka tersugesti dengan cairan disinfektan sehingga informasinya pimpinan tidak menyetujui alat ini. Jadi mereka belum tahu persis (teknologi RESIK) sehingga menyamaratakan dan sungguh terlalu jika alat ini disamaratakan dengan disinfektan," sambung Rudy.
Padahal, sudah jelas dalam alat yang ciptaannya tidak ada sama sekali partikel kimia, di mana keseluruhannya adalah bahan alami.
"Nol persen pun tidak ada kimia, yang ada air daun sirih. Jadi saya sempat kecewa ketika pihak Istana seperti itu," ujar Rudy yang bermukim di Jakarta.
Padahal alat tersebut dibuat dengan menggunakan tabungan sekolah sang anak. Bahkan Rudy juga menegaskan tidak pernah terlibat dengan pihak swasta.
Dia pun menekankan teknologi itu menggunakan bahan stainless, bukan baja ringan atau besi biasa yang digunakan pada umumnya dalam bilik disinfektan.
"Coba deh flash back kembali semua peralatan kedokteran semua harus menggunakan stainless steel, itu basic-nya saja bahwa stainless itu identik dengan steril. Justru dalam box itu harus steril dan yang mensterilkan adalah stainless, kalau logam lain tidak bisa apalagi kayu," tutur Rudy.
Dia menyayangkan, sikap pemerintah tidak mengapresiasi teknologi RESIK. Padahal alat sejenis itu di negara lain dipatok dengan harga hingga Rp 1,2 miliar.
"Teknologinya jauh dengan temuan saya, dan temuan saya hanya menghabiskan uang kurang lebih 70 juta rupiah dan sudah dipakai alatnya. Dan alatnya sendiri tidak memalukan jika dipakai di Istana dibandingkan mereka menggunakan terpal dan kotaknya dengan kayu. Kan malu pejabat masuk pakai begitu, manual lagi," jelas Rudy.
Menurutnya, pemerintah terlampau latah ketika dalam kondisi sekarang ini lebih memilih impor alat penanganan virus corona yang harganya tidak murah. Sementara alat ciptaan Rudy dibuat dengan biaya terjangkau namun dapat berkinerja lebih baik.
"Saya sedih ya tapi mau ngomong apalagi. Ini uang tabungan untuk sekolah anak saya, saya korbankan, dan bahan bakunya tidak asal," kata Rudy.
Menengok ke belakang, Rudy mengaku menyukai dunia inovasi sejak usia 14 tahun dengan melakoninya secara otodidak. Dia pun pernah mendapatkan tawaran dari pemerintah Singapura, Malaysia hingga Timor Leste atas inovasi-inovasi yang dihasilkan.
"Timor Leste akan memfasilitasi saya dengan catatan saya harus pindah kewarganegaraan, tawaran ini sekitar dua tahun yang lalu. Dan juga Malaysia, Singapura juga pernah tapi saya demi bangsa dan negara ini tawaran itu saya biarin saja," demikian Rudy.

Komentar