Keistimewaan Mengucap Istighfar
ASKARA - Sebagai upaya memohon ampun atas dosa yang telah diperbuat, istighfar menjadi salah satu cara dan jalan yang tersedia bagi umat muslim. Kendati demikian tersimpan makna yang besar dari ucapan istighfar.
Pendiri Komunitas Tasawuf Underground Halim Ambiya menceritakan suatu kisah seorang ulama masyhur Imam Ahmad bin Hanbal yang tinggal di Baghdad. Dia salah satu murid terhebat Imam Syafi'i. Kala itu dia berkeinginan pergi ke Bashrah.
Keinginannya tersebut menggebu-gebu seperti ada dorongan yang kuat dalam hatinya. Kisah Imam Ahmad ini tersimpan pelajaran berharga tentang beristighfar. Setibanya di Bashrah dia ikut salat Isya berjamaah di suatu masjid.
Akibat kelehahan akhirnya dia mencoba beristirahat di dalam masjid tersebut. Namun takmir masjid melarangnya. Dengan kesabarannya akhir dia keluar ke koridor masjid tapi tetap dilarang.
"Tapi dia tidak menyombongkan diri sebagai ulama besar saat kejadian itu ada yang melihat seorang penjual roti yang mengajak Imam Ahmad mampir ke rumahnya," kata Halim Ambiya dalam akun Instagram @tasawufunderground, Senin (27/4).
Di dalam rumah tersebut Imam Ahmad menyaksikan penjual roti tersebut selalu beristighfar saat membuat adonan roti. Hingga akhirnya Imam Ahmad pun bertanya, wahai penjual roti sejak kapan engkau beristighfar? sejak berujualan roti jawabnya. Dia sudah berjualan roti selama 30 tahun.
Imam Ahmad lanjut bertanya, kata Halim Ambiya apa yang didapat dari istighfar? sejak mengucapkan istighfar kebutuhannya terpenuhi. Tidak ada permintaan yang saya mohonkan kepada Allah tidak pernah terkabul.
Kemudian dia bertanya lagi, kenapa sekarang masih beristighfar? karena penjual roti tersebut masih memiliki keinginan bertemu dengan ulama pujaannya yaitu Imam Ahmad sendiri yang membuatnya kaget. Akhirnya mereka berpelukan. Doa penjual roti itu dikabulkan.
"Ini jadi pelajaran bagi kita. Ucapkan istighfar semampu mu menjadi napas dalam hidup. Istighar sebagai cari mendekatkan diri kepada Allah," ucap Halim Ambiya.
Bahkan bayangkan, Rasulullah yang ma'sum saja beristigfar setiap hari lebih dari 70 kali, lalu mengapa kita yang banyak bergelimang dengan dosa-dosa tidak pernah mau beristighfar dan bertobat kepada Allah?
"Sungguh beristighfar memang memiliki keutamaan yang luar biasa. Istighfar adalah cara kita mendekat kepada Allah, mengakui salah dan dosa kepada-Nya," tandasnya.

Komentar