Tipe Peternak Perkutut
1. Tipe Peternak Wahid
Tipikal peternak yang seperti ini senang sekali dengan hitungan matematis, di mana 1+1 maunya harus 2. Jantan bagus dikali betina yang bagus pasti hasilnya akan bagus. Matematikanya pinter banget, mungkin waktu sekolah walau sering bolos nilainya 100 terus. Kenyataanya dari 40 pasang hasil ternakan cuma ada satu yang bagus, itu pun dapat bagus dari anakan kandang ke-36.
Lalu kenapa kandang unggulan kualitasnya medok di bawah indukannya, padahal jantannya jelas-jelas burung legend, burung juara, yang paling hebat dan paling tidak terkalahkan. Kalau dilihat betinanya, wah trahnya nomor satu di kolong langit deh, nggak perlu diragukan lagi, belahannya yang jantan saja pialanya banyak banget sampai-sampai kalau sedang dilombakan semua penonton akan hening mendengar suara emasnya. Hampir semua pemain peternak menginginkan trah burung tersebut, peminat akan trah burung tersebut juga tidak berhenti seperti orang yang lagi antri sembako murah.
Peternak ini cuma senang melihat hitungan matematik saja, logikanya sangat kuat bahwa burung bagus dikali burung bagus sama dengan anak burung bagus. Peternak jenis seperti ini cepat naik daunnya tapi juga cepat hilangnya, mungkin karena frustasi atau sudah kelelahan dimakan waktu dan biaya.
2. Peternak Pembelajar, Pemerhati, Pengamat dan Pendengar yang Baik dan Telaten
Peternak yang satu ini seneng banget ngumpulin informasi, pengetahuan, teori-teori dan tanya sana sini bagaimana cara ternak yang baik dan benar. Dan obsesinya adalah menemukan indukan yang baik dan mencetak anak-anak yang terbaik. Prinsipnya sama dengan peternak jenis pertama tapi ada perbedaan yang amat sangat mendasar yaitu tidak terburu-buru untuk menghasilkan perkutut lomba tapi memprioritaskan menghasilkan super breeder terlebih dahulu yang telah teruji.
Peternak ini senang berkutat dengan kerumitan dan pengamatan, dan sangat bebas untuk menikmati hasil ternakannya. Bukan semata-mata untuk dimainkan tapi cuma sekadar untuk diamati, diseleksi dan di-upcare (sortir).
Terkesan aneh, tapi peternak ini justru visioner. Peternak jenis ini juga amat senang matematik tapi lebih luwes, realistis dan pragmatis dalam menjawab. Dia tahu bahwa 1+1=2. Kalau peternak pertama terlalu cepat menjawab tapi kalau peternak kedua bukan segera menjawab melainkan berupaya untuk memastikan bahwa 1+1 jawabannya adalah dua atau setidaknya mendekati dua. Dia sadar betul ada banyak faktor yang membuat jawaban 2 itu menjadi tidak pasti karena faktor-faktor itu menjadikannya nisbi dan relatif. Memperhatikan kondisi yang jadi serba tidak pasti maka peternak kedua kemudian bereksplorasi dan berfilosofi yaitu berpikir keluar dari kelumrahan (out of the box) bahwa kalau ada jawaban yang lebih baik dari angka 2 kenapa harus memilih angka 2.
Siapa sih orangnya yang tidak ingin memperoleh sesuatu yang lebih baik Dari sini mulai ketahuan dan bisa disimpulkan bahwa sebenarnya breeding itu memang bukan hitungan matematis. Yang menjadi persoalan sekarang, sebenarnya apa sih yang dikerjakan oleh peternak untuk meminimalisir ketidakpastian? Salah satu metode yang bisa diadopsi adalah menggunakan teknis inbreeding, linebreeding, cross/out breeding dan hibridasi.
Peternak jenis ini pada akhirnya memiliki superbreeder yang secara terus menerus mampu mencetak burung bagus, bahkan dalam waktu yang lama. Kualitas ternakannya jauh melampaui standar awal indukan. Satu keuntungan lagi adalah bahwa peternak ini menjadi punya ciri khas yang menonjol (strain tertentu).
3. Peternak yang Cerdas, Senangnya Potong Kompas
Jenis peternak ini sadar betul betapa tragisnya menjadi peternak ke satu tapi juga tidak mau terlalu lama untuk menjalani proses peternak ke dua. Akhirnya dia putuskan bagaimana caranya mendapatkan superbreeder dari peternak ke dua dan melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh peternak ke dua. Hebatnya lagi, konsepsinya yang matang menjadikannya mencari strain lain super breeder model peternak ke dua untuk memperkuat satu strain atau membuat suatu strain baru.
Jadilah peternak yang mana. Salam damai.
Nunu Nugraha
(Pencinta perkutut, pemilik Pagoda Bird Farm)

Komentar