Selasa, 09 Juni 2026 | 02:48
NEWS

Punya Gunung Api Aktif Terbanyak di Dunia, Masyarakat Indonesia Jangan Kaget

Punya Gunung Api Aktif Terbanyak di Dunia, Masyarakat Indonesia Jangan Kaget
Erupsi Anak Krakatau yang terjadi 2018 lalu. (Twitter)

ASKARA - Dentuman keras pada Sabtu dini hari (11/4) yang didengan warga Jabodetabek hingga Lampung Selatan tidak perlu dikhawatirkan. 

Ahli vulkanologi yang juga mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono menduga kuat sumber dentuman dari aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang sedang mengalami erupsi. 

Menurutnya, hal itu bercermin dari fenomena yang sama ketika erupsi Anak Krakatau terjadi pada Desember 2018. 

Surono mengatakan, yang harus dipahami masyarakat adalah bahwa Gunung Anak Krakatau memang harus sering meletus. Layaknya manusia Anak Krakatau sedang dalam masa pertumbuhan menuju dewasa. Material tubuhnya yang meninggi adalah hasil letusannya termasuk dari erupsi-erupsi yang terjadi. 

"Anak Krakatau menurut saya ini gunung api yang memang harus terus sering meletus karena gunung api muda seperti anak kecil harus bergerak, dinamis supaya sehat, supaya cepat tumbuh tinggi dan besar. Gunung api besar dan tingginya dari material letusannya," jelasnya saat berbincang dengan Askara, Sabtu (11/4).

Surono menuturkan, letusan Anak Krakatau tidak perlu dianggap momok menakutkan sebab hanya berdampak di area gunung itu sendiri.

"Kenapa saya katakan tidak bahaya, ya paling hanya di sekitar pulau itu adalah abu tipis mungkin. Kalau misalnya agak tinggi mungkin 1000-2000 meter ke bawah terbawa angin tapi yang tipis itu tidak membahayakan masyarakat," paparnya.

Yang seharusnya diwaspadai adalah longsor dari material gunung yang berpotensi menyebabkan tsunami dan gempa.

"Tahun 2012 papers scientific yang terbit di suatu jurnal bahwa potensi tsunami di Selat Sunda adalah longsoran tubuh tanah Krakatau dan sudah terjadi Desember tahun 2018 kemarin. Kalau letusannya baik-baik saja, itu khas gunung api muda, dia harus sering meletus materialnya tidak mau dibuang ke mana-mana untuk membesarkan dari ketinggian tubuhnya. Dan ini sering sekali meletus," jelas Surono. 

Surono menganggap wajar jika masyarakat khawatir. Berkaca dari erupsi dan dentuman-dentuman keras yang terjadi Desember 2018 hingga menyebabkan ribuan orang luka-luka dan sekitar 400 meninggal dunia.

"Tidak perlu khawatir, waktu tsunami tahun 2018 itu bukan langsung letusannya tetapi longsorannya yang menimbulkan tsunami dan tidak perlu dikhawatirkan. Dan semua sekarang termehek-mehek karena memori Desember 2018 masih tertanam," ujarnya.

Surono mengatakan bahwa semua gunung api di Indonesia yang aktif dan mengalami letusan maupun erupsi seharusnya tidak dijadikan kekhawatiran. Selain itu, masyarakat juga harus menyadari bahwa Indonesia memiliki 139 gunung aktif atau yang masuk katagori terbanyak di dunia.

"Gunung api itu bukan virus Covid-19 yang bisa menular ke mana-mana. Saya kira kita harus belajar menjadi pemilik gunung api terbanyak di dunia. Kalau gunungnya meletus jangan kaget, ya biasa saja selama masih dalam batas yang wajar," katanya.

"Saya kira saya bersyukur sekarang ini dengan menghadapi Covid-19 tidak ada gunung api yang meletus yang berisiko terjadi bencana sehingga perlu adanya pengungsian. Sehingga kita bisa konsentrasi betul-betul mitigasi Covid-19," demikian Surono. 

Komentar