Komunitas Tasawuf Underground, Gabungan Anak Punk yang Belajar Mengaji
ASKARA - Jika biasanya pengajian digelar di masjid, musala, atau di rumah tapi tidak dengan komunitas satu ini.
Ya, Komunitas Tasawuf Underground namanya. Komunitas ini merupakan gabungan dari anak-anak punk. Rutinitas komunitas ini terbilang unik lantaran menggelar pengajian di kolong jembatan layang, tepatnya di kolong jembatan layang (fly over) Tebet, Jakarta Selatan. Jamaahnya, kelompok punk yang tinggal di jalanan.
Anak-anak punk itu datang dari berbagai wilayah di Jakarta dengan berbagai macam latar belakang. Untuk mengaji dan mempelajari tentang ilmu agama. Niat mereka sudah terpatri dalam hatinya menuntun ke jalan yang lebih baik.
"Pengajian tetap setiap Jumat dan Sabtu, pukul 14.00-18.00 WIB," ujar pendiri Komunitas Tasawuf Underground, Halim Ambiya kepada Askara, Kamis (19/3).
Halim Ambiya yang juga berprofesi sebagai dosen menuturkan, pengajian di kolong jembatan ini sudah berjalan satu tahun. Namun, pergerakannya sudah dimulai tiga tahun lalu dan tersebar di beberapa titik seperti di kawasan Gondangdia, Ciputat, dan Bintaro.
"Sejak tiga tahun lalu, saya turun ke beberapa titik di Jakarta seperti stasiun, terminal, pasar, perempatan. Baru setahun lalu saya bikin di sini (kolong jembatan Tebet)," tuturnya.
Awalnya, komunitas ini layaknya perkumpulan biasa dengan jumlah anggota hanya belasan orang saja. Namun, lambat laun menuai reaksi cukup positif. Saat ini komunitas ini sudah memiliki jamaah 50 orang lebih dari anak-anak hingga orang dewasa.
"Dari situ memang kita perlu serius. Kita mesti masuk ke kolong-kolong jembatan (blusukan) akhirnya reaksinya banyak," kata Halim Ambiya.
Materi pengajian yang dilakukan mulai dari belajar huruf hijaiyah hingga kajian pembenahan agama Islam dan akhlak. Metodenya dengan cara yang menyenangkan tidak terlalu formal. Sehingga lebih mudah dimengerti.
"Sebetulnya materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan yang diajarkan madrasah. Hanya teknik penyampaianya pasti berbeda. Kalau awal pasti saya suruh mengaji," jelasnya.
Saat ini mereka sudah lancar mengaji al-Quran. Bahkan mereka mengetahui makna menjalani kehidupan ini. Selain itu belajar tata cara salat dan dzikir.
"<i>Alhamdulilah</i>. Semula hanya mengenal huruf hijaiyah sekarang sudah bisa baca al-Quran. Pada saat yang sama saya ajarkan hikmah tasawuf dan baca kitab tasawuf," terang Halim.

Komentar