Minggu, 07 Juni 2026 | 14:12
NEWS

Begini Rencana Penataan Wajah Kawasan Malioboro Yogyakarta

Begini Rencana Penataan Wajah Kawasan Malioboro Yogyakarta
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DI Yogyakarta, Budi Wibowo saat menyambangi kantor redaksi Askara di Gedung Menara Era, Jakarta Pusat. (Askara/Dhika Alam Noor)

ASKARA - Kawasan Malioboro merupakan kawasan yang sarat sejarah dan salah satu jalan terpopuler di Yogyakarta. 

Di sepanjang jalan, banyak pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan kerajinan khas daerah tersebut. Namun, apa jadinya jika wajah kawasan tersebut diubah menjadi lebih menarik. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DI Yogyakarta, Budi Wibowo mengatakan, pihaknya berencana menata Jalan Malioboro menjadi kawasan dengan pedestarian. Hal itu diyakini akan menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan domestik maupun internasional. 

Pihaknya, kata dia, sudah membeli dua toko, termasuk nantinya sebuah gedung yang diperuntukkan menampung para PKL sehingga tidak memadati jalan. 

"Jadi PKL di Malioboro tidak ada lagi tapi disatukan dalam satu gedung. Mereka bisa menikmati kuliner dalam satu gedung," ujar Budi Wibowo, saat berbincang dengan Askara di Gedung Menara Era, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. 

Gedung khusus PKL itu, akan menjadi sentra bagi semua pedagang. Seperti halnya di sejumlah negara maju dimana tidak ada tenda-tenda di pinggir jalan. Namun, kawasan itu dapat dinikmati untuk kenyamanan publik. 

"Saya pernah ke Cheko begitu indahnya. Menikmati betul dan masyarakat sangat merawat gedung-gedung kuno. Tapi dijaga ketika duduk di depannya, enak suasananya," kata Budi.

"Coba bayangkan. Tidak ada sepeda motor, tidak ada polusi. Areal publik itu terjaga dengan baik, tidak ada PKL dan kumuh," tambahnya. 

Kawasan Malioboro membentang dari tugu Yogyakarta hingga perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Panggung Krapyak terletak di selatan Keraton Ngayogyakarta dan berjarak kurang lebih satu kilometer dari alun-alun kidul menjadi salah satu favorit wisatawan. 

"Malioboro, Panggung Krapyak, Keraton dan Tugu. itu kan sungguh filosofi ketika zaman dulu Sultan bersemedi memandang Tugu itu lurus. Tapi sekarang hirup pikuk dengan reklame yang macam-macam. Padahal di situ untuk ketenangan jiwa harusnya," imbuhnya. 

Budi menyebut, penataan kawasan Malioboro tetap mengedepankan unsur tradisonal. Insfrastrukturnya pun sudah dibangun. Namun saat ini mereka belum memindahkan PKL lantaran bangunan yang belum rampung.

"Sudah ada sosialisasi kepada masyarakat. Di kawasan Malioboro memang infrastrukturnya sudah kita bangun. Cuma kita belum melakukan penataan terhadap PKL karena memang belum punya tempat," ungkapnya.

"Kalau nanti itu sudah ada tempatnya kita sentral kan di situ. Tidak ada PKL jadi betul-betul dinikmati. Dan pada saat tertentu memang tidak ada boleh kendaraan bermotor masuk di sana. Jadi hanya sepeda, becak yang dikayuh," tandasnya. 

Komentar