Sejarah Dimulainya Penanggalan Hijriyah
ASKARA - Bulan-bulan yang kita kenal sekarang juga sudah dikenal oleh masyarakat Arab. Hanya saja mereka belum mengenal penahunan. Di masa itu, penamaan tahun bukan dengan angka tapi menggunakan peristiwa yang paling menonjol di tahun tersebut. Seperti tahun gajah karena diserangnya Kabah oleh pasukan gajah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan di dalam Al Quran bahwa hilal, Matahari, dan Bulan adalah waktu untuk manusia. Seperti dalam firman-Nya,
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi." (Quran Al-Baqarah: 197)
Demikian juga firman-Nya,
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
"Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (Quran Yunus: 5).
Kemudian muncullah kebutuhan kaum muslimin akan adanya penamaan yang baku pada tahun. Penamaan yang urut sehingga memudahkan aktivitas dan muamalah yang mereka lakukan. Kebutuhan ini terasa begitu mendesak di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu. Kemudian ia memerintahkan untuk menyusun tahun hijriyah.
Sebelum penyusunan
Perhitungan tahun yang hakiki adalah dimulai sejak Allah menciptakan Langit, Bumi, Matahari, dan Bulan. Tatkala Adam 'alaihissalam turun dari surga. Kemudian lahirlah anak-anaknya maka keturunannya menghitung waktu dari turunnya Adam tersebut. Perhitungan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nuh 'alaihissalam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari diutusnya Nuh hingga banjir yang membuat bumi tenggelam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari topan hingga pembakaran Ibrahim 'alaihissalam.
Saat anak keturunan Ismail sudah banyak mereka bermigrasi ke berbagai wilayah. Mereka menyebar. Kemudian anak keturunan Ishaq membuat penanggalan dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim hingga diutusnya Yusuf. Dari diutusnya Yusuf sampai diutusnya Musa. Dari zaman diutusnya Nabi Musa hingga masa Nabi Sulaiman. Dari masa Sulaiman hingga Nabi Isa. Dari masa Nabi Isa hingga diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dulu, orang-orang Arab sebelum Islam, menamai tahun dengan kejadian. Misalnya Tahun Pembangunan Ka'bah, Tahun al-Fijar (Perang Fijar), Tahun Gajah, Tahun Sail al-Arim (Banjir Arim), dan lain-lain. Kemudian setelah diutusnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan munculnya syiar Islam di Mekah kemudian hijrah ke Madinah, kaum muslimin memiliki penamaan tersendiri. Penamaan tersebut memiliki nama-nama yang khusus juga, seperti Tahun al-Khandaq di mana terjadi Perang Khandaq. Tahun Kesedihan karena terdapat peristiwa yang begitu membuat Rasulullah sedih yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun al-Wada' tahun terjadinya haji al-wada', Tahun ar-Ramadah (abu) karena kemarau yang panjang di tahun tersebut hingga tanah menjadi abu karena terbakar Matahari. Ini terjadi di masa pemerintah Umar radhiallahu 'anhu.
Yang membuat penanggalan hijriyah
Tahun-tahun senantiasa disebut dengan peristiwanya hingga terjadi sesuatu di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu. Negeri-negeri banyak yang bergabung dengan Madinah. Muncullah kebutuhan untuk mengurutkan tahun. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Umar bin al-Khattab perihal utang piutang. Ada seseorang yang berutang yang jatuh tempo di bulan Sya'ban. Karena ia belum membayar saat jatuh tempo tersebut, pihak pemberi utang melaporkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu. Kemudian Umar meresponnya dengan menanyakan bulan Sya'ban tahun kapan. Dari situlah akhirnya dirumuskan permasalahan penetapan tahun.
Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu mengumpulkan para sahabat dan berdiskusi dengan mereka. Kata Umar "Tentukan sesuatu untuk masyarakat yang mereka bisa mengetahui waktu." Ada yang mengatakan "Tulislah dengan menggunakan penanggalan Romawi." Pernyataan ini dikomentari "Mereka itu membuat penanggalan sejak zaman Dzul Qarnain. Itu terlalu jauh masanya."
Kemudian ada yang mengatakan "Tulislah dengan penanggalan Persia." Lalu ditanggapi "Orang-orang Persia kalau berganti raja maka warisan (kebijakan penguasa) sebelumnya ditinggalkan." Kemudian para sahabat bersepakat untuk menghitung "Berapa lamakah Rasulullah tinggal di Madinah" Lamanya adalah 10 tahun. Lalu ditulislah penanggalan dengan menghitung sejak Rasulullah berhijrah.
Permasalahan berikutnya adalah tentang awal bulan dalam satu tahun tersebut. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata "Ada seseorang yang datang kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu, orang itu berkata "Tetapkanlah penanggalan." Umar berkata "Penggalan apa?" Orang itu menjawab "Sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang non Arab. Mereka menulis di bulan sekian pada tahun sekian." Umar berkata "Itu bagus. Tetapkanlah penanggalan." Mereka berkata "Dari bulan apa kita memulai?" Ada yang mengatakan "Bulan Ramadhan." Ada lagi yang mengatakan "Dari bulan Muharram. Karena ini adalah waktu di mana orang-orang pulang dari haji. Itulah bulan Muharram." Mereka pun menyepakatinya.
Pada 20 Jumadil Akhiroh 17 tahun dari hijrahnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dimulailah penggunaan penanggalan Islam, penanggalan hijriyah. Peristiwa ini bertepatan dengan 15 Juli 622 M, dan tahun ini disebut dengan tahun izin (Arab: سنة الإذن). Maksudnya diizinkannya Rasulullah dan para sahabat untuk hijrah dari Mekah ke Madinah.
Digunakanlah penanggalan hijriyah dengan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam setahun. Penanggalan ini sudah dikenal oleh bangsa Arab karena mereka orang-orang Arab menentukan waktu dengan Bulan. Hari pertama dimulai dengan masuknya waktu malam. Berbeda dengan kaum lainnya yang menentukan waktu dengan Matahari.
Tahun hijriyah ini terdiri dari 12 bulan qamariyah. Jadi satu tahun hijriyah itu sama dengan 354 hari dan satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.
Mengapa Muharam
Tentang awal bulan untuk tahun hijriyah, para sahabat mengajukan beberapa usulan kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu 'anhu. Ada yang mengusul bulan Sya'ban sebagai awal tahun, ada yang mengajukan Ramadhan. Kemudian mengerucut ke pendapat Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu yaitu bulan Muharam. Dengan alasan karena di bulan ini jamaah haji pulang dan Muharram adalah bulan Allah. Ini alasan dari sisi syariat. Adapun dari sisi sosial budaya, Muharam merupakan bulan yang dipilih oleh bangsa Arab untuk memulai tahun-tahun mereka sebelum Islam datang sehingga mereka telah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah Islam datang, Rasulullah mengukuhkannya dengan menyebut bulan ini syahrullah (bulan Allah).
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan "Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram. Dan tidak ada bulan setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah melebih bulan Muharram. Bulan ini dinamai dengan bulan Allah karena saking besar kemuliaannya."
Peristiwa-peristiwa Penting di Bulan Muharam
Bulan Muharam adalah bulan suci dalam Islam. Di bulan ini pula banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting dalam syariat maupun dalam sejarah.
Pertama, penting secara syariat
Dianjurkannya Puasa 10 Muharam
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma, ia berkata,
قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: “مَا هَذَا؟” قالوا: هذا يومٌ صَالِح، هذا يوم نجَّى الله بني إسرائيل من عدوِّهم فصامه موسى، قال:”فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah. Lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharam). Beliau bertanya "Mengapa demikian?" Mereka menjawab "Ini adalah hari baik. Hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Lalu Musa pun berpuasa di hari tersebut." Nabi berkata "Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian." Rasulullah berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu."
Kedua, peristiwa penting dalam catatan sejarah
Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah yang terjadi di bulan Muharam adalah datangnya orang-orang Habasyah dengan pasukan gajah mereka di Kota Mekah. Mereka dipimpin oleh Abrahah al-Asyram dengan misi merobohkan Ka'bah. Di bulan ini juga kiblat kaum muslimin berpindah, semula di Baitul Maqdis kemudian menuju Ka'bah. Perubahan ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.
Pada bulan Muharam ini pula kaum muslimin di masa kekhalifahan Umar berhasil menguasai kota penting di Irak, Bashrah. Hal ini terjadi pada tahun 14 H. Kemudian pada tahun 20 H kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir dengan panglima mereka Amr bin al-Ash radhiallahu 'anhu. Kemudian bulan ini juga mencatat duka dengan syahidnya cucu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Husein bin Ali radhiallahu 'anhuma di Karbala.
Peristiwa-peristiwa lainnya juga yang disebut-sebut terjadi pada bulan ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan Nabi Nuh 'alaihissalam dari banjir besar. Diangkatnya Nabi Idris 'alaihissalam ke langit ke empat. Padamnya api Namrud di masa Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Nabi Ya'qub 'alaihissalam yang lama berduka dipertemukan lagi dengan putranya Nabi Yusuf 'alaihisslam. Diterimanya taubat Nabi Dawud 'alaihissalam kemudian ia dijadikan pemimpin di Bumi. Dikembalikannya kekuasaan Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Nabi Musa 'alaihissalam dan kaumnya diselamatkan dari Firaun. Dan di bulan ini pula Nabi Isa 'alaihissalam diangkat ke langit. (kisahmuslim/why)

Komentar