Selasa, 16 Juni 2026 | 00:47
NEWS

Banjir Menahun di Jakarta, Begini Analisis Pakar Kebumian Prof Jan Sopaheluwakan

Banjir Menahun di Jakarta, Begini Analisis Pakar Kebumian Prof Jan Sopaheluwakan
Pakar Kebumian Prof Jan Sopaheluwakan, saat menyambangi dan berbincang dengan redaksi Askara di Gedung Menara Era, Jalan Raya Senen, Jakarta Pusat. (Lopi Kasim/Askara)

ASKARA - Bencana banjir di Jakarta yang kerap berulang jika tidak ditangani dengan benar dampaknya dapat merambat cukup luas. Banyak faktor penyebab banjir, salah satunya penurunan muka tanah (land subsidence) yang meningkatkan risiko genangan air.

Penurunan muka tanah yang terus berlanjut maka air laut akan semakin banyak masuk ke daratan alias rob. Serta tidak terlepas dengan masifnya pengambilan air tanah serta pembangunan yang masif.

Pakar Kebumian Prof Jan Sopaheluwakan menyatakan, berbagai wilayah di Jakarta mengalami penurunan muka tanah rata-rata sekitar 11 sentimeter per tahun. Bahkan, sebagian wilayah lain ada yang melebihi angka itu. 

"Paling cepat turunnya adalah di Jalan Benyamin Sueb, Jakarta Pusat itu dekat lapangan golf itu 11-15 sentimeter dan di Pluit, Jakarta Utara juga. Seperti wilayah Rawa Buaya itu paling besar penurunnya," ujarnya, berbincang di Kantor Redaksi Askara, Gedung Menara Era, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (27/2).

Menurut Prof Jan, penurunan muka tanah akan terus berlangsung lantaran Jakarta belum mencapai titik stabil. Bahkan, penurunannya paling tajam di antara kota-kota di Asia lainnya.

"Yang masih terus menurun cukup terjal itu Jakarta. Daerah kita ini tempat kita (Senen Jakarta Pusat) berdiri 1 sampai 5 sentimeter per tahun turunnya," terangnya. 

Pensiunan peneliti senior Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI itu memberi contoh Tokyo pada tahun 1940 sudah mengalami penurunan tanah. Kemudian Kota Osaka dan Kota Seoul. Namun Tokyo sudah stabil saat ini. 

"Tokyo cepat melalukan itu, karena pemerintahnya segera melarang pengambilan air tanah dan dibarengi dengan peremajaan kotanya. Jadi saat itu air tanahnya menjadi naik lagi kemudian stabil," ucapnya. 

Penurunan permukaan muka tanah disebabkan beban permukaan tanah yang berlebih akibat bangunan tinggi. Dengan begitu, beban permukaan tanah semakin berat dan membebani lapisan di bawahnya. 

Selain itu, terjadinya pemantapan tanah yang bersifat natural. Contohnya ada bagian yang terbentuk dari endapan lengkungan pasir-pasir halus yang kemudian mengeras. 

"Itu sebenarnya bagaimana alam menyesuaikan diri dengan beban yang dia terima. Tanahnya sendiri dalam proses memadat ditambah ada beban bangunan lagi jadi lengkap semuanya," tuturnya.

Menurutnya, masalah yang merudung Jakarta saat ini adalah sulit melakukan peremajaan kota. Karena kepemilikan tanah negara hanya sedikit dan Jakarta dibiarkan berkembang untuk kekuatan pasar. 

"Jadi Jabodetabek mekar itu karena kekuatan pasar. Misalnya, yang penting saya bangun di sini. Tak peduli kalau ada protes. Pantai Indah Kapuk juga tadinya tempat air kemudian diurug," ujarnya.

Prof Jan mengatakan, bencana tidak pernah terjadi secara tiba-tiba, tapi ada tanda-tanda awal. Kecuali ilmu dan teknologi gempa yang bisa menprediksi tapi jaraknya sangat cepat. Tentu itu berharga terutama untuk menyelamatkan diri. 

Sementara, bencana banjir tanda-tanda awalnya sudah jauh-jauh hari dan tidak tiba tiba datang. Sehingga mampu untuk diantisipasi banjir yang sudah menjadi bencana menahun di ibukota ini. 

"Tinggal persoalannya bahwa kita tidak berkeinginan melakukan pemantauan. Cuma kita seberapa canggih mengerti risiko," kata pria yang menempuh pendidikan Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Geologi itu. 

Mengenai penurunan muka tanah, jika semuanya sudah tidak mengambil air tanah. Maka kondisi untuk stabil membutuhkan waktu yang lama. Umumnya setiap wilayah yang menghargai air merupakan masyarakat yang baik. 

"Mungkin butuh 20-30 tahun. Tapi itu terkait dengan penataan kota," imbuhnya. 

Untuk itu, manajemen pengelolaan air harus melibatkan semua pihak. Meski sudah ada dalam sistem tata ruang tahun 2030 untuk mengatasi banjir dengan sistem folder seperti yang ada di Belanda. 

Dalam tata ruang kota 2030 terdapat 62 folder. Sistem folder merupakan kombinasi tanggul dan pompa untuk mengatasi persoalaan banjir. Mengingat Jakarta sudah berada di permukaan laut. 

Komentar