Kamis, 04 Juni 2026 | 12:00
COMMUNITY

King Gunawan, Ahli Foto Aura dengan Kenangan Kerusuhan Anti-Tionghoa 1998

King Gunawan, Ahli Foto Aura dengan Kenangan Kerusuhan Anti-Tionghoa 1998
King Gunawan, menunjukkan kamera foto aura di ruangannya. Kamera yang dibeli langsung dari Guy Coggins, Insinyur penemu teknologi foto aura asal Amerika Serikat. (Aprilia Rahapit/Askara)

ASKARA - Kejadian kerusuhan dengan sentimen etnis Tionghoa pada bulan Mei 1998 mesih terus membekas hingga saat ini. Saat itu, toko dan rumah milik warga etnis Tionghoa hancur dijarah, bahkan dibakar. Kejadian itu menjadi kisah pilu dan titik terendah kondisi kehidupan seorang King Gunawan. Bisnisnya hancur. Tokonya di Glodok sedikit pun tak tersisa.

Askara coba menemui pria kelahiran Jakarta, 1 November 1949 ini di tokonya di Mangga Dua Mal. Saat itu, dia nampak serius mengamati renovasi tokonya. Redaksi disambut dengan baik dan mempersilakan masuk ke dalam ruang kerjanya yang tertata rapi dengan meja bersih mengkilat.

Di dalamnya, terpajang fotonya dengan Guy Coggins, seorang insinyur asal Amerika Serikat yang menemukan teknologi foto aura. Terlihat juga satu unit kamera dengan monitor serta PC yang nampak seperti keluaran lama. Dua alat lainnya berada di samping kanan kiri kursi di mana alat itu ditempelkan dengan kedua telapak tangan saat memotret.

Ternyata, semua yang ada di ruangannya itu adalah pengubah hidup seorang King Gunawan. Sejumlah kisah haru juga turut dalam perjalanannya pasca tokonya di Glodok Plaza hancur berkeping-keping. 

"Ya, saya itu dari muda umur 25 itu sudah bisnis usaha, macam-macam, akhirnya di tahun 1998 itu kerusuhan, nah saya habis di situ. Show Room di Glodok Plaza, furniture habislah pokoknya. 25 tahun saya berbisnis dalam sekejap habis," kenangnya. 

Pikiran tak menentu bersarang dalam pikirannya, namun menyerah bukan pilihan King. Rekannya bernama David memberinya semangat untuk bangkit. Ia mengirimkan pesan dari Amerika Serikat dan mengajak King untuk mempelajari ilmu foto aura.

"Dia tanya sana, tanya sini akhirnya dapat nomor telepon rumah saya, namanya David di Amerika. Di telepon dia tanya keadaaan, saya sendiri bahkan lupa mukanya David gimana, cuma saya tahu dan inget ini teman sekolah," ujarnya.

"Akhirnya dia bilang sudah, coba kamu ke Amerika ada kamera aura, belajarlah aura. Dia kasih tahu bahwa pada tahun 1995 di Amerika sudah mulai booming, kayaknya di Indonesia belum ada, ah saya nggak tertarik saya sudah trauma dan capek," lanjutnya.

Namun upaya David tidak sampai di situ, dia terus menghubungi King dan menyemangatinya. King pun mulai menyadari semua perhatian dari David tidak seperti kepada teman-teman lainnya. Rasa bimbang menyelimutinya sebab foto aura akan membawanya berhadapan dengan banyak orang, konsultasi dan memberinya penjelasan yang dinilainya pasti akan sangat rumit, dibandingkan bisnisnya yang sebelumnya.  

"Dulu saya bisnisnya di belakang meja, di kantor angkat telepon jual beli, lepas. Untuk ikut itu saat itu suruh berhadap-hadapan, gimana ya saya bingung apa bisa. Saya pikir-pikir setelah saya bingung akhirnya saya coba," ujarnya.

Tekad yang tinggi membuat King akhirnya menjual semua asetnya untuk bekal selama di Amerika, mulai alat musik, jam tangan, dan lainnya. Terlebih, menggali ilmu foto aura tidaklah sebentar. Beruntung, David juga turut membantu King dari segi tempat tinggal dan lainnya. Ia pun memulai tantangannya di negeri Paman Sam tersebut.

"Akhirnya saya berangkat, di sana saya belajar mulai dari alat-alat gelombang, seperti periksa jantung begitu digolongkan dengan warna kan alat-alatnya besar tuh. Saya nggak ngerti orang bisnis belajar gitu kan bingung, akhirnya seminggu saya stress," tuturnya.

Sebelum kedatangannya di Amerika, Guy Coggins telah diberi tahu bagaimana kondisi dirinya oleh David. Hingga selama belajar King mengaku mendapatkan perhatian dan bimbingan khusus dari seorang Guy. King pun bahkan diberi batu kristal dari Guy yang membuatnya lebih stabil.    

"Sampai akhirnya dia (Guy) kasihan, akhirnya pelan-pelan dia lihat saya seperti orang bingung, galau, hopeles, akhirnya dia kasih batu kristal disuruh pakai, saya pakai beberapa hari kok rasanya tenang," ungkapnya.

Jawaban mengapa fokus yang sudah didapatkannya melalui batu kristal tersebut tidak langsung dijawab Guy. Guy bahkan menginginkan dirinya untuk terus fokus mempelajari foto aura. Dia menyebut foto aura membuatnya mengerti dengan gelombang elektromagnetik dalam tubuh manusia, mulai bagaimana cara merekam gelombang elektromagnetik seseorang, hingga memahami arti warna dari gelombang tersebut.

"Misalnya yang kuat warnanya merah, merah ini adalah orang yang apa, ilmu psikologi digabungkan ceroboh, nekat, emosi akhirnya kan ya ada bagusnya ada yang nekat tapi nggak pakai pikirin ceroboh kan, ada juga diam dia mikir, gelombang halus tapi tidak berani dia bertindak, nah di situlah saya tertarik," katanya.

Rasa tertarik membuatnya semakin mendalami ilmu pseudosains ini. Dua tipikal tersebut selanjutnya mencari bagaimana agar bisa mengakselerasikan kehidupannya hingga mencapai kesuksesan. Sejumlah motivasi dari apa yang dipelajarinya ini membuat dirinya semakin bersemangat, salah satunya adalah tentang fokus.

"Tipe-tipe seperti itu kata dia (Guy) bisa sukses, yang merah bisa, halus putih, bisa sukses, yang penting apa? Fokus. Bagaimana kita memfokuskan sesuatu yang kita inginkan, apa yang terfokus bisa terjadi dia bilang, di situ saya mulai sangat tertarik. Jadi intinya fokus," tuturnya.

"Bidang apapun kalau kita tekun, kita fokus di situ akan ketemu, ketemu jalan. Saya terus pelajari sampai dua shift dari pagi sampai jam malam sampai cepat selesai, akhirnya saya dinilai bagus," sambungnya.

Hingga akhirnya, King pun memutuskan untuk membeli kamera foto aura tersebut seharga Rp 200 juta. Adapun sejumlah batu kristal juga dibelinya sebagai bentuk pendukung dari hasil foto aura, di mana kristal ini memiliki gelombang elektromagnetik piezo.

"Kalau yang kuliah elektro pasti tahu, piezo elektrik kristal jadi badan kita ada gelombang elektromagnetik dan kristal ini sifatnya piezo elektrik jadi dua gelombang yang sifatnya berbeda begitu dia nempel akan terjadi tarik menarik," ungkapnya.

Setelah empat bulan menekuni ilmu tersebut di Amerika, King pun langsung membuka usaha foto auranya di Mangga Dua Mal. Dia yakin, apa yang dipelajarinya lantaran ada bukti ilmiah dan teknologi, sehingga usaha yang dijalaninnya saat ini sama sekali tidak ada yang berhubungan dengan hal-hal berbau mistis.

Bahkan, King bisa dinilai satu-satunya ahli foto aura di Indonesia, terlebih belajar langsung dibimbing oleh Guy sebagai seorang penemu pertama foto aura. Hingga akhirnya mampu mengubah hidupnya lebih baik pasca hancur akibat sentimen anti-Tionghoa saat itu.

"Di situ mulailah dari media cetak pada datang, pertama saya talkshow di radio-radio, saya keliling promosi di Indonesia ada foto aura bisa mengetahui tentang kepribadian seseorang," ujarnya.

Dia pun tidak menyangka nasibnya bisa sebaik saat ini. Guy pun, terus memotivasinya untuk tetap semangat. Keahliannya tersebut juga membawa kehidupannya melesat lebih tinggi, sejumlah televisi swasta bahkan membuat program khusus untuk King dengan bayaran 7-12 juta per episode. Bahkan pada Maret 2019, King tampil dengan membawa peralatan foto auranya dalam sebuah program televisi swasta yang dibawai oleh Deddy Corbuzier.

"Si Guy Coggins ini bilang lo mau jatuh berapa kali, misalnya jatuh ke tujuh kali, elo bangkit ke delapan kali. Selama kita ada nafas di situ kita ada kesempatan. Sebenarnya ini nggak disangka, yang kita itu nggak bisa pikirkan. Pokoknya jalan terus saja, ketemu jalan ya saya jalan lagi, ketemu lagi saya jalan, ke kanan kiri bercabangkan sampai akhirnya promosi, radio sampai ke televisi, itukan di luar dugaan," ungkapnya.

Bagi Anda yang penasaran dengan Foto Aura, Anda bisa mengunjungi dan menemui King yang berlokasi di Mal Mangga Dua, lantai 2 Nomor 46, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Di lokasi tersebut Anda akan mengetahui warna aura yang akan dianalisis oleh King, untuk satu kali potret King memberikan harga sebesar Rp 200 ribu. Adapun batu kristalnya mulai dijualnya sekitaran Rp 1,5 juta.

Komentar