Beli Masker Via Online Shop, Wanita Muda Tertipu Rp 200 Juta
ASKARA - Riska Fatmawati (23), tiba-tiba mendatangi kantor pengacara Wahyu Prio Djatmiko di Nganjuk, Jawa Timur untuk meminta bantuan hukum karena menjadi korban penipuan sebesar Rp 200 juta.
Riska yang merupakan warga Kediri itu, mengaku tertipu atas bisnis masker untuk cegah terjangkit virus corona yang dilakukan melalui online shop.
"Dengan pembelian Rp 200 juta, seharusnya saya menerima ratusan karton kardus berisikan masker. Namun, oleh penjual hanya dikirim 1 kardus kecil yang hanya berisikan 5 lembar kertas bekas ujian sekolah," ungkap Riska.
Penipuan itu bermula saat Riska bersama 15 rekan kerjanya membeli masker dengan jumlah besar untuk dikirim ke Hong Kong.
Riska membeli banyak, karena permintaan masker dari rekannya di Hong Kong saat kasus wabah virus corona.
Riska pun kemudian memutuskan membeli ke pelaku dengan cara online via Facebook. Akun itu memakai nama Nur yang beralamat di Mataram.
"Karena pelaku meminta uang muka, maka saya mentransfer uang muka sebesar Rp 100 juta dari total pembelian Rp 200 juta, ke rekening atas nama Silviana Widiyanti Sari, beralamatkan di Cempaka Putih," ujarnya.
Setelah mengirimkan nomor rekening itu, pelaku memberikan kode resi pengiriman barang yang ditujukan ke rumah Riska dan satu korban lain rekannya.
Akan tetapi, korban kaget ternyata barang yang diterima bukanlah masker dalam puluhan karton kardus menggunakan kontainer.
Sementara, korban pun juga sudah mengirim sisa uang muka sebesar Rp 100 juta ke nomor rekening yang sama. Korban percaya karena pelaku mengirimkan no resi pengiriman ke korban.
Menurut Riska, dia baru 2020 ini memulai jual beli barang tersebut. Uang Rp 200 juta merupakan dana kumpulan dari 15 korban yang dibuat untuk membeli masker.
"Atas kasus ini, saya mendatangi pengacara guna meminta agar kasusnya bisa secepatnya diusut tuntas dan pelaku bisa tertangkap," jelas Riska.
Wahyu Prio Djatmiko, kuasa hukum korban sudah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jatim, mengingat penipuan sudah lintas-kabupaten.
"Sebab dari 15 korban merupakan warga dari kabupaten yang berbeda-beda," ungkap Wahyu.
Wahyu berharap aparat penegak hukum bisa secepatnya menangkap pelaku, sehingga tidak ada korban-korban selanjutnya. (yos/pojokpitu/lov)

Komentar