Pada dasarnya setiap orang memiliki apa yang disebut dengan tenaga dalam, hanya saja mereka tidak mengetahui bagaimana cara membangkitkan atau mengembangkannya.
Tenaga dalam itu sudah ada sejak manusia dilahirkan. Di saat janin berusia tiga bulan Tuhan mengirim kekuatan itu ke dalam janin.
Orang-orang Tiongkok, Tartar, Patan, Moghul mengenal beberapa tehnik silat yang dapat merobohkan orang dari jauh. Di Tiongkok terkenal beberapa macam silat yang mempergunakan kekuatan atau tenaga dalam di antaranya Gin Kang, Kwie Kang dengan jurus tinju dan Wie Kang dengan jurus terbuka.
Wie Kang disebut jurus sepuluh, jurus ini tersebar sampai Vietnam, Campa, Malaya, dan Indonesia. Tumbuhlah menjadi beberapa aliran di antaranya Silat Mandar dari Sulawesi, Silat Timpung dari Jawa Timur dan Silat Nampon dari Jawa Barat, dan juga Silat Raga Jati atau Rasa Jati dari Jawa Tengah.
Beruntunglah kami dapat belajar langsung dari Guru Besar Rasa Jati (Raga Jati) Mbah Ign. Broto Susanto yang kerap datang ke Jakarta untuk melatih. Terkadang kami datang ke Wonosobo untuk berlatih bersama saudara seperguruan dan juga napak tilas ke tempat para leluhur pernah melakukan olah batin.
Tenaga dalam pada umumnya diaktifkan melalui olah pernapasan. Dengan beberapa teknik pernapasan seperti, pernapasan perut, pernapasan dada, pernapasan pundak maupun gabungan semuanya. Olah pernafasan ini diajarkan oleh kelompok senam pernapasan dan kelompok olah raga beladiri.
Di dalam Padepokan Perguruan Tenaga Dalam Rasa Jati ketika melakukan gerak 10 jurus dan kunci pernafasan diwajibkan menyeret telapak kaki di atas tanah atau lantai tanpa mengangkat. Karena dari gesekan telapak kaki dengan tanah atau bumi maka akan dihasilkan panas atau energi yang diserap ke dalam tubuh dan disimpan.
Tenaga dalam seringkali dimanfaatkan sebagai media penyembuhan meskipun sangat sedikit penelitian yang dapat membuktikan cara kerjanya. Pada kenyataannya tenaga dalam telah digunakan selama ribuan tahun di berbagai komunitas budaya untuk menyembuhkan gangguan fisik dan mental.
Hasil dari pengamatan yang dilakukan para ahli dari Amerika dan Jepang mulai kurun tahun 1980 hingga 1992 menunjukkan bahwa dari tangan seorang penyembuh tenaga dalam (prana) terpancar medan biomagnetik di frekuensi antara 0,3-30 hz. Bahkan seorang ahli penyembuh dapat memancarkan medan energi cukup besar yang dapat deteksi melalui dua kumparan dengan 80.000 putaran lilitan.
Sebagai orang beriman, ada baiknya ketika sedang melakukan penyembuhan diisi dengan lantunan doa sesuai keyakinan agar daya yang dihasilkan bertambah besar. Karena menurut Mahatma Gandhi, doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Biarlah Tuhan sang penguasa alam semesta yang bekerja memberikan energi penyembuhan.