River Ranger Kenalkan Metode Belajar Cinta Lingkungan
ASKARA - Banjir selalu jadi masalah di Jakarta. Karena itu, komunitas peduli lingkugan River Ranger Jakarta menyadarkan kembali pentingnya tidak membuang sampah sembarangan dan memisahkan jenis sampah plastik.
Wakil dan pembuat kurikulum kelas Andriana menyatakan, hal itu untuk memberi edukasi terhadap anak-anak dalam upaya mencegah banjir dan penumpukan sampah plastik saat terjadi banjir.
''Selalu diingatkan kalau membuang sampah tidak sembarang. Tapi justru yang utama adalah mengurangi sampah, memilah sampah agar tidak dibuang dan berakhir ke tempat pembuangan akhir,'' ujarnya kepada redaksi, Selasa (28/1).
Hal lain yang diajarkan kepada anak-anak ialah melakukan pengelolaan sampah sehingga jumlah sampah tidak terus meningkat. Itu juga menjadi wujud kepedulian lingkungan.
''Serta mengkompos dan bukan membuang sampah organik di dalam plastik. Untuk ditumpuk di tempat pembuangan akhir yang menghasilkan gas metana dan melepaskan CO2 dalam jumlah besar ke udara,'' jelas Nana, sapaan akrabnya.
Selain itu, River Ranger Jakarta juga mengajarkan ecobricks yang merupakan teknik mengolah sampah plastik menjadi benda-benda bermanfaat. Kegiatan ini dapat membantu mengurangi penumpukan sampah plastik.
''Ada ecobrick untuk mengurangi pemakaian sampah plastik dan pengelolaan sampah plastik agar tidak dibuang,'' ucap Nana.
Antusiasme anak-anak untuk belajar peduli lingkungan terus meningkat. Meski awal tahun ini sejumlah wilayah Jakarta dilanda banjir namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar.
''Pastinya tidak dong. Malah mereka sudah nunggu untuk mulai belajar lagi karena sempat diliburkan sampai banjir surut dan selesai beres-beres rumah,'' tutur Nana.
Kegiatan belajar dilakukan rutin setiap Rabu dan Jumat yang digelar di rumah warga atau taman dekat Sungai Ciliwung.
''Besok di kebun kelasnya. Syahiq yang ngajar, belajar tanaman,'' kata Nana.
River Ranger Jakarta sendiri terbentuk sejak 17 Juli 2017. Terdapat empat pengurus yaitu Syahiq Harpi selaku ketua, Andriana sebagai wakil dan pembuat kurikulum kelas serta Rizal Wahyudi sebagai media dan creative creator dan Khusyairi Andi menjabat field coordinator.

Komentar