Menyingkap Misteri Gunung Padang di Malam Hari
CIANJUR: Daya tarik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur memang sangat luar biasa karena mampu menggerakkan tiga orang pendaki wanita yang sedang berada di lereng Gunung Lawu untuk datang berkunjung beberapa waktu yang lalu.
"Kami tidak ada rencana sedikitpun untuk berkunjung ke tempat ini, karena usai mendaki Gunung Prau kami akan lanjut mendaki Gunung Kembang," ungkap Yanni Krishnayanni.
Yanni Krishnayanni beserta Onaria Fransisca dan Silvia Sembiring memang pendaki wanita asal Surabaya, Jakarta, dan Medan. Dari awal mereka tidak pernah kepikiran untuk ke Gunung Padang karena memang tidak mengetahui tentang situs megalitikum ini.
"Saya langsung tertarik dan mengajak yang lain ketika Om Dar Edi Yoga bercerita tentang Gunung Padang. Saat itu kami sedang beristirahat di Tawangmangu usai dari Candi Ceto," ujar Silvya.
Perjalanan dari Tawangmangu dilanjutkan ke Cianjur menembus jalan tol yang telah dibangun di era Presiden Jokowi dan SBY. Jalan menuju Gunung Padang pun sudah lebar dan dicor semen pasca Presiden SBY berkunjung ke tempat ini.
Sampai di Gunung Padang hari sudah mulai gelap ketika rombongan tiba di rumah Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang. Kendati hari sudah gelap, Juru Pelihara Gunung Padang Nanang tetap semangat menemani para pendaki menapaki 378 anak tangga menuju punden berundak berusia antara 5000 hingga 14.000 tahun sebelum Masehi dan terbesar se Asia Tenggara dengan luas areal sekitar 3 hektar.
Malam yang gelap dan dingin tidak menyurutkan langkah mereka menuju teras pertama dari kompleks situs berukuran kurang lebih 900 m² dengan ketinggian 885 mdpl. Rasa capek dan lelah seketika sirna ketika mencapai teras pertama Gunung Padang.
"Disini udaranya bagus dan bersih, banyak kadar oksigen sehingga membuat kita cepat pulih dari rasa capek usai mendaki," jelas Nanang seraya mengajak untuk duduk di teras pertama.
Ditambahkan Nanang, Gunung Padang selain sebagai obyek wisata yang luar biasa, juga menjadi obyek olah spiritual bagi sejumlah kalangan karena daya atau energi yang menyelimuti dan memancar dari Gunung Padang dianggap sebagai sesuatu hal yang baik atau positip.
"Gunung Padang bila dilihat dari sejarahnya terdapat beberapa kerajaan yang berhubungan dengan kerajaan di Jawa Barat, salah satunya Kerajaan Siliwangi," ungkap Nanang yang menjabat Koordinator Juru Pelihara Gunung Padang.
Dalam pandangan Nanang, teras pertama Gunung Padang ibaratnya seperti orang yang masuk ke dalam rumah besar yang terdiri dari ruang tunggu atau tempat transit para tamu di bagian depannya.
Di teras pertama terdapat dua batu andesit ukuran sekitar 1.5 meter yang dapat mengeluarkan nada-nada tertentu bila diketuk dengan jari atau telapak tangan. Nada yang dihasilkan akan memantul dari pohon yang ada di sekitar bebatuan seperti yang diperagakan Nanang malam itu. Ada kesan mistis saat mendengar alunan nada yang dipancarkan dari batu persegi panjang.
Langkah selanjutnya menuju ke teras kedua dimana tampak dua pohon besar, salah satunya diikat pita merah dan satunya lagi dibatasi tali agar tidak ada yang melewatinya kecuali keperluan khusus seperti pelaku spiritual.
"Bila ingin bermeditasi di bawah pohon besar ini, sebaiknya di atas jam 12 malam, karena di bawah jam 12 malam masih banyak CO2 yang dihasilkan oleh pohon besar ini sehingga dapat membuat halusinasi," jelas Nanang.
Di teras ketiga terdapat Batu Maung dengan cap tangan, tumit dan tongkatnya Prabu Siliwangi yang dahulu diyakini duduk disitu dan menghadap ke arah timur menyongsong matahari terbit ketika melakukan tirakat spiritual. Nanang pun memperagakan sikap duduk Prabu Siliwangi di atas Batu Maung.
"Maung sendiri adalah singkatan dari manusia unggul," jelas Nanang.
Onaria Fransisca, Yanni Krishnayanni serta Dar Edi Yoga sempat mencium aroma wangi dari sekitar batu yang ada di antara teras dua dan tiga. Salah satu batu yang wangi itu terdapat simbol senjata kujang yang entah bagaimana cara membuat simbol itu pada jaman dulu.
Di teras keempat terdapat satu buah batu yang dikelilingi batu lainnya. Batu ini bila di pegang bagian atasnya terasa sangat dingin bila dibandingkan sisi sekelilingnya. Dahulu batu ini sering diangkat-angkat para wisatawan karena dipercaya bila berhasil mengangkat maka doanya akan dikabulkan, sehingga disebut batu gendong atau Batu Eyang Balung Tunggal.
Memasuki teras kelima terdapat belasan batu andesit yang tersusun rapih seperti tempat untuk berbaring sehingga dapat menyaksikan terangnya bintang di malam hari. Warga sekitar Gunung Padang mempercayai tempat itu adalah singgasana Prabu Siliwangi.
Sementara itu, menurut Dar Edi Yoga, bangunan punden berundak Gunung padang ini memang terbuat dari batu andesit yang bentuk dan ukurannya hampir sama. Batu ini sengaja disusun oleh manusia, dan jika dilihat dengan mata batin maka pintu masuk ke dalam ruangan di bawah situs ini terletak di sisi teras keempat.
"Menurut saya, Gunung Padang ini tidak berdiri sendiri karena masih ada bangunan-bangunan lain yang tersembunyi dan belum disingkap di balik perbukitan di sekeliling tempat ini," duga Dar Edi Yoga, yang juga pengamat spiritual.
Gunung Padang, tegas Dar Edi Yoga, adalah kearifan mulia yang sudah seharusnya dipelihara, menjadi monumen abadi peradaban manusia nusantara yang agung. Di tengah keheningan dan kemisteriusan Gunung Padang ada pelajaran hidup yang tak ternilai harganya sebagai pegangan hidup bangsa Indonesia.

Komentar