Minggu, 01 November 2026 | 16:05
COMMUNITY

300 Watt dari PLN yang Menyelamatkan Ikan: Kisah Bayu di Belawa dan Jalan Terang Bioflok Indonesia

300 Watt dari PLN yang Menyelamatkan Ikan: Kisah Bayu di Belawa dan Jalan Terang Bioflok Indonesia
Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri berdialog dengan Bayu dari Kelompok Belawa Selfish, Desa Belawa, Cirebon (dok.askara)

ASKARA – Di tengah gemuruh aerator yang tak pernah padam, Bayu (32) berdiri mematung. Matanya menatap pusaran air cokelat di dalam kolam bundar diameter 4 meter miliknya. Pusaran itu bukan sekadar air, itu adalah tanda bahwa ikannya hidup. Air coklat kaya flok itu adalah tanda kehidupan.

Pemandangan sederhana di Kelompok Belawa Selfish, Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon ini, justru menjadi jawaban atas teka-teki besar yang membuat program miliaran rupiah di seluruh Indonesia mangkrak.

Semua orang mengira penyebabnya adalah bibit ikan yang jelek atau petani yang malas. Ternyata, rahasianya bukan di bibit, tapi di listrik.

Padahal, enam bulan lalu, kolam-kolam bantuan dari pemerintah di desa-desa lain banyak yang mangkrak. Ikan mati, pakan boros, petani kapok.

Rahasianya? Bukan bibit ikan mahal, tapi listrik.

Di Kelompok Belawa Selfish, Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, inilah kunci sukses itu ditemukan.

Fakta itulah yang membuat Guru Besar IPB University yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., tertegun saat turun langsung meninjau.

"Saya harus jujur, sekitar 70 persen bantuan bioflok KKP di Indonesia belum maksimal. Setelah saya cek, biang keroknya jelas: aerasi. Daya yang diberikan dalam paket bantuan hanya 100 watt. Mana mungkin kuat mengaduk? Oksigen di dasar kolam rendah, flok tidak jadi, proses biologisnya mati," ungkap Prof. Rokhmin, dikutip Minggu (1/11).

Bantuan bernilai miliaran itu gagal bukan karena petani tidak mau bekerja, tapi karena napasnya tidak diberi cukup. Dan napas bagi sistem bioflok adalah listrik.

Inovasi 300 Watt

Bayu menolak takdir gagal. Bersama kelompoknya, ia merombak total sistem. Ia merakit aerator rakitan berdaya 200 hingga 300 watt per kolam.

"Taruhannya nyawa ikan. Kalau listrik PLN di sini byar-pet, selesai sudah. Aerator mati 30 menit saja, ikan saya bisa mabuk massal. Alhamdulillah, sejak kami tambah daya ke PLN, listrik stabil terus. Aerator muter terus, ikan sehat," tutur Bayu.

Di sinilah peran PLN menjadi penentu hidup-mati.

Konsekuensinya jelas: butuh pasokan listrik yang andal dan stabil. Dan di sinilah peran PLN menjadi vital.

"Kalau listrik PLN di sini sering padam, selesai sudah ikan saya. Alhamdulillah, sejak pasang daya tambahan, listrik stabil 24 jam. Aerator muter terus, ikan sehat," kata Bayu.

Hasilnya tidak main-main. Dengan aerasi 300 watt yang stabil dari PLN, penggunaan pakan pelet komersial bisa dihemat hingga 30 persen karena ikan memakan flok alami. Kebutuhan ganti air berkurang drastis hingga 70 persen, pertumbuhan ikan lebih cepat 15 hari, dan keuntungan meningkat dua kali lipat.

Satu kolam bioflok diameter 4 meter kini bisa menghasilkan keuntungan bersih Rp 3,5 juta per siklus panen 3 bulan.

Komitmen PLN: Listrik Untuk Ketahanan Pangan

Di sinilah peran PLN menjadi penentu hidup-mati. Dengan pasokan listrik 300 watt yang stabil dari PLN, keajaiban itu datang.  Dampak ekonominya langsung terasa. Satu kolam bioflok yang dulu dianggap proyek merugi, kini mampu menghasilkan keuntungan bersih hingga Rp 3,5 juta per siklus panen 3 bulan.

Temuan di Belawa ini mendapat perhatian serius dari PLN ULP Cirebon Kota, yang wilayah kerjanya mencakup Lemahabang,  bahwa keandalan listrik untuk sektor produktif seperti perikanan adalah prioritas.

Prinsip di PLN adalah listrik harus hadir untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Kasus di Belawa Selfish ini menjadi bukti nyata bagaimana listrik yang andal mampu menyelamatkan program ketahanan pangan. PLN ULP Cirebon Kota siap mendukung penambahan daya dan menjaga keandalan pasokan untuk kelompok-kelompok tani dan budidaya di seluruh Kabupaten Cirebon. Ini sejalan dengan program Transformasi PLN untuk mendukung UMKM dan Electrifying Agriculture.

Di balik kolam-kolam yang berputar kencang itu, ada arus perubahan yang lebih besar. Data PLN UID Jawa Barat mencatat, hingga Oktober 2026, revolusi senyap itu telah terjadi: lebih dari 1.200 petani dan pembudidaya ikan di Cirebon kini meninggalkan diesel dan beralih ke listrik PLN melalui program Electrifying Agriculture. Total daya 4,2 MVA telah tersambung untuk menggerakkan ekonomi desa, mendorong konsumsi listrik sektor produktif meroket 18 persen. Listrik kini bukan lagi soal penerangan, tapi soal penghidupan.

Di balik pusaran kolam-kolam itu, data berbicara lebih lantang. Hingga Oktober 2026, revolusi senyap telah terjadi di Cirebon. Listrik di Cirebon kini bukan lagi sekadar untuk menyalakan lampu, tapi untuk menghidupkan penghidupan.Lebih dari 1.200 petani dan pembudidaya ikan telah meninggalkan mesin diesel yang bising dan mahal, lalu berhijrah ke listrik PLN melalui program Electrifying Agriculture. Total daya 4,2 MVA telah tersambung untuk menggerakkan ekonomi desa, mendorong konsumsi listrik sektor produktif meroket 18 persen.

Temuan ini akan dibawa Prof. Rokhmin ke Senayan sebagai lesson learned nasional ke dalam rapat kerja Komisi IV bersama KKP dan PLN di Jakarta.

"Bantuan yang baik itu harus sesuai kebutuhan lapangan. Kita tidak bisa memberi kolam dan ikan tanpa memberi napas yang cukup. Napas itu adalah listrik. Pengalaman Belawa Selfish dengan dukungan listrik PLN 300 watt ini harus menjadi standar baru nasional. Dengan begitu, bioflok benar-benar menyejahterakan, bukan malah membebani pembudidaya," pungkas Prof. Rokhmin.

Dari sebuah desa kecil di Cirebon, sebuah pelajaran besar mengalir: ketika negara hadir dengan bantuan yang tepat dan listrik Diang andal, maka kolam yang semula sekarat bisa menjadi lumbung harapan.

Editor: Husnie