Minggu, 01 November 2026 | 16:05
COMMUNITY

Sekitar 200 Perantau Agam-Bukittinggi Berkumpul di Banten, Ada Apa?

Sekitar 200 Perantau Agam-Bukittinggi Berkumpul di Banten, Ada Apa?
Sekitar 200 tokoh serta perantau Agam-Bukittinggi dari berbagai daerah berkumpul di Banten (Dok Askara)

ASKARA - Kerinduan terhadap kampung halaman dan semangat menjaga persaudaraan mempertemukan hampir 200 tokoh serta perantau Agam-Bukittinggi dari berbagai daerah. Mereka berkumpul dalam Pertemuan Tokoh dan Perantau Agam-Bukittinggi Nasional di Ruang Blandongan Lantai 4, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (1/11/2026).

Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menyatukan potensi masyarakat Agam dan Bukittinggi di perantauan, sekaligus menggagas pembentukan wadah bersama yang dapat bergerak di tingkat nasional hingga internasional.

Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran hampir 200 orang yang terdiri atas tokoh adat, pejabat pemerintahan, politisi, pengusaha, perwakilan komunitas, dan masyarakat perantau. Beragam latar belakang itu bertemu dalam satu semangat: menjaga ikatan dengan ranah sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi kampung halaman.

Salah satu tokoh yang hadir adalah Dr. H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Ia merupakan penghulu adat Minangkabau atau Niniak Mamak dari Suku Melayu, Jorong Padang Cantiang, Kanagarian Kapau, Kabupaten Agam. Ferry Taslim saat ini juga mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara.

Kehadiran Dt. Toembidjo menjadi gambaran bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, hubungan dengan nagari asal tetap memiliki tempat penting. Dalam tradisi Minangkabau, Niniak Mamak bukan hanya pemangku adat, tetapi juga penjaga nilai kekerabatan, persatuan, dan warisan budaya antargenerasi.

Sejumlah tokoh lainnya turut hadir, di antaranya Bupati Agam Ir. H. Benni Warlis, M.M., Dt. Tan Batuah; anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat H. Nofrizon, S.Sos., M.M.; tokoh nasional Drs. H. Guspardi Gaus, M.Si.; Direktur Utama PT Bank Nagari Gusti Candra; serta tokoh adat Maninjau, Dt. Mangkuto.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah diwakili Kepala Badan Penghubung Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di Jakarta, Aschari Cahyaditama. Sementara Wali Kota Bukittinggi Muhammad Ramlan Nurmatias diwakili Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis.

Sebagai tuan rumah, Pemerintah Kota Tangerang Selatan diwakili Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan. Hadir pula mantan Wakil Wali Kota Bukittinggi periode 2021–2025, Marfendi, Dt. Basa Balimo.

Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut adalah gagasan membentuk organisasi atau wadah bersama yang dapat menghimpun masyarakat Agam-Bukittinggi di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Wadah ini diharapkan menjadi simpul komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi antartokoh serta komunitas perantau.

Melalui wadah tersebut, potensi intelektual, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat perantauan diharapkan dapat disinergikan dengan kebutuhan pembangunan di daerah asal. Hubungan dengan pemerintah daerah dan masyarakat di kampung halaman juga diharapkan semakin kuat.

Bagi masyarakat Minangkabau, merantau bukan berarti memutus hubungan dengan ranah. Ada ikatan sejarah, adat, identitas, dan tanggung jawab yang terus melekat, sekalipun kehidupan telah membawa seseorang jauh dari tanah kelahirannya.

Pertemuan di Tangerang Selatan ini menjadi upaya merawat ikatan tersebut agar tidak berhenti sebagai nostalgia. Persaudaraan diharapkan tumbuh menjadi kekuatan bersama yang mampu melahirkan gagasan, kerja nyata, dan kontribusi berkelanjutan bagi Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat, serta Indonesia.

 

Editor: Caecilia Eersta