Jumat, 30 Oktober 2026 | 21:47
NEWS

EyRIS Hadirkan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Risiko Penyakit

EyRIS Hadirkan Skrining Retina Berbasis AI untuk Deteksi Risiko Penyakit
Skrining retina berbasis AI untuk deteksi risiko penyakit (Dok Askara)

ASKARA - Teknologi kecerdasan artifisial (AI) mulai membuka peluang baru dalam deteksi dini penyakit. Melalui EyRIS, PT Nova Prima Utama menghadirkan teknologi skrining retina yang dapat membantu mengidentifikasi risiko diabetes, penyakit ginjal kronis, hingga gangguan kardiovaskular hanya melalui pemindaian mata dalam hitungan detik.

Direktur PT Nova Prima Utama, Aznaib I Gindo, menjelaskan retina memiliki pembuluh darah mikro yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan tubuh. Teknologi EyRIS menganalisis foto retina untuk mendeteksi perubahan pembuluh darah yang berpotensi berkaitan dengan penyakit tertentu.

“Retina memberikan gambaran langsung dan non-invasif dari pembuluh darah kecil. AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan seperti pendarahan, penyempitan pembuluh darah, dan pola pembuluh darah abnormal yang dapat mengindikasikan penyakit mata atau risiko kesehatan sistemik,” ujarnya.

Pengembangan teknologi ini didukung penelitian ilmiah, termasuk publikasi di jurnal JAMA pada 2017 yang mengevaluasi 71.896 gambar dari 14.880 pasien. Sistem SELENA+ mencatat sensitivitas 90,5 persen dan spesifisitas 91,6 persen untuk mendeteksi retinopati diabetik yang memerlukan rujukan.

Sementara untuk retinopati diabetik yang mengancam penglihatan, sensitivitasnya mencapai 99 persen dengan spesifisitas 91,1 persen. Penelitian lain dalam *The Lancet Digital Health* juga melaporkan nilai AUC 0,911 untuk model prediksi penyakit ginjal kronis berbasis gambar retina pada dataset validasi SEED.

Aznaib menegaskan, hasil penelitian tersebut harus dipahami sesuai konteks validasi masing-masing model dan tidak otomatis menggambarkan akurasi seluruh fitur EyRIS.

Menurutnya, teknologi ini berpotensi memperluas akses skrining kesehatan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemeriksaan dapat dilakukan di Puskesmas, klinik perusahaan, maupun toko optik oleh staf terlatih tanpa harus menghadirkan dokter spesialis mata di lokasi.

Meski demikian, implementasinya masih menghadapi tantangan, antara lain biaya kamera fundus, ketersediaan internet untuk layanan berbasis cloud, serta mekanisme pembiayaan dan rujukan pasien.

“Nilai utamanya berasal dari kemampuan menghubungkan skrining dengan penanganan tepat waktu serta membuktikan hasil kesehatan yang lebih baik dengan biaya yang berkelanjutan,” jelasnya.

Dalam aspek keamanan, Aznaib menjelaskan pemindaian EyRIS ditujukan untuk menganalisis kondisi pembuluh darah retina, bukan mengidentifikasi identitas biometrik seseorang. Pengelolaan data pasien juga diklaim menerapkan penyamaran identitas dan mengikuti ketentuan perlindungan data yang berlaku.

Ia menegaskan, hasil skrining AI bukan diagnosis definitif dan tidak menggantikan pemeriksaan medis, seperti tes darah maupun pemeriksaan jantung. Teknologi tersebut berfungsi membantu identifikasi risiko dan menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan, sedangkan diagnosis tetap menjadi kewenangan dokter.

Ke depan, pengembangan EyRIS juga diarahkan untuk meneliti potensi skrining penyakit ginjal diabetik, risiko stroke, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer. Setiap aplikasi baru tetap membutuhkan validasi klinis dan persetujuan regulasi sebelum digunakan secara rutin.

Melalui EyRIS, PT Nova Prima Utama berharap pemanfaatan AI dapat memperluas akses deteksi dini penyakit di Indonesia. Inovasi ini diharapkan menjadi jembatan antara kemajuan teknologi kesehatan dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan skrining yang lebih mudah dijangkau.

 

Editor: Caecilia Eersta