Selasa, 27 Oktober 2026 | 19:04
NEWS

Bertemu Petani Gunungsari, Prof. Rokhmin: Rawat Bantuan Traktor, Ringankan Beban Petani, Tumbuhkan Kemandirian

Bertemu Petani Gunungsari, Prof. Rokhmin: Rawat Bantuan Traktor, Ringankan Beban Petani, Tumbuhkan Kemandirian
Prof. Rokhmin Dahuri memberikan bantuan kepada Petani Gunungsari (foto.rd media)

ASKARA – Tidak ada panggung megah. Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., memilih duduk lesehan bersama warga di teras rumah di Desa Gunungsari, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Senin (26/10/2026).

Di tempat sederhana itulah, ia berdialog langsung dan menyerahkan secara simbolis bantuan traktor roda dua kepada kelompok tani setempat. Warga bercerita, pengajuan bantuan ini sudah diusulkan sejak tahun lalu hingga akhirnya terkabul. Rasa syukur pun mengalir, disertai harapan agar dukungan untuk pertanian tidak berhenti.

Bagi petani Gunungsari, traktor bukan sekadar alat. Ia adalah penentu apakah musim tanam bisa tepat waktu.

Dalam laporan kunjungan, warga masih menghadapi masalah klasik: keterbatasan alat, biaya olah lahan yang mencekik, dan tenaga kerja pertanian yang semakin langka. Tak heran, ongkos sewa traktor sering kali menggerus pendapatan.

"Kehadiran traktor ini diharapkan membantu mempercepat persiapan lahan dan menekan ongkos usaha, sehingga lebih banyak hasil kerja petani yang bisa menjadi pendapatan untuk keluarganya," ujar Prof. Rokhmin.

Di tengah rasa syukur itu, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University tersebut menitipkan pesan yang tidak biasa. Ia tidak hanya berpesan agar traktor dirawat, tapi agar dikelola sebagai aset bersama.

Karena belum semua petani bisa punya alat sendiri, ia meminta traktor dikelola kelompok dengan pembagian penggunaan yang adil. Yang memakai, wajib menyisihkan uang untuk servis, ganti oli, dan perbaikan.

"Jika tabungan kelompok terus berkembang, dana tersebut diharapkan kelak dapat membantu pembelian alat tambahan," pesannya.

Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004 itu, bantuan pemerintah harus membuka jalan menuju kemandirian, bukan ketergantungan. Kebiasaan merawat aset bersama, menabung, dan mengelola usaha secara bertanggung jawab adalah modal utama kelompok tani untuk naik kelas.

Melalui pengawalan program pertanian bersama Kementerian Pertanian dan pihak terkait, Prof. Rokhmin menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan dukungan sesuai kebutuhan riil di lapangan.

"Manfaat bantuan perlu terus dijaga hingga musim-musim tanam berikutnya: alat tetap berfungsi, pekerjaan petani lebih ringan, biaya lebih efisien, dan kesejahteraan keluarga semakin baik," pungkas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut.

 

 

Editor: Husnie