Selasa, 27 Oktober 2026 | 15:27
TRAVELLING

Nazaya Zulaikha, Hijab, dan Diplomasi Wisata Saitama Jepang

Nazaya Zulaikha, Hijab, dan Diplomasi Wisata Saitama Jepang
Nazaya Zulaikha Duta Wisata Saitama Jepang (ilustrasi)

ASKARA - Di tengah persaingan destinasi wisata dunia, Nazaya Zulaikha, perempuan Muslim asal Indonesia, kembali dipercaya menjadi Duta Humas Prefektur Saitama, Jepang, untuk periode 2026–2027. Kepercayaan ini bukan sekadar kebanggaan bagi Indonesia. Ia membuka pertanyaan lebih besar: bagaimana pengalaman lintas budaya dapat menjadi kekuatan promosi daerah, dan sejauh mana citra keterbukaan diterjemahkan menjadi pelayanan pariwisata yang nyata bagi wisatawan internasional?

DARI PENGAKUAN MENUJU TANGGUNG JAWAB

Perjalanan Nazaya sebagai Saitama PR Ambassador dimulai pada 2025. Pemerintah Prefektur Saitama mengumumkan penunjukannya bersama para duta lainnya pada 20 Mei 2025. Ia kemudian kembali terpilih untuk periode 1 Juni 2026 hingga 31 Mei 2027. Food Diversity, 20 Mei 2025, melaporkan bahwa Nazaya menjadi Muslim pertama yang dipercaya menduduki posisi tersebut. Pemerintah Prefektur Saitama, 19 Mei 2026, mengonfirmasi keberlanjutan program duta untuk periode berikutnya.

Fakta ini penting, tetapi maknanya tidak semestinya berhenti pada simbol seorang perempuan berhijab yang mendapat kepercayaan di Jepang. Prestasi tersebut lebih menarik jika dilihat sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang menjembatani budaya, memahami lingkungan setempat, dan menyampaikan informasi kepada audiens yang beragam.

Nazaya telah tinggal di Jepang sejak 2015. Pengalaman hidup di negeri itu memberinya perspektif yang berbeda dari wisatawan yang hanya datang untuk berlibur. Ia dapat memperkenalkan Saitama bukan semata-mata melalui brosur atau daftar objek wisata, melainkan dari sudut pandang seseorang yang mengenal kehidupan lokal. Analisa Medan, 28 Juli 2025, mengulas latar belakang dan kiprahnya dalam promosi daerah tersebut.

MENEMBUS BAYANG-BAYANG TOKYO

Ketika membicarakan Jepang, banyak wisatawan langsung mengingat Tokyo, Kyoto, atau Osaka. Saitama, yang berada di utara Tokyo, menawarkan alternatif melalui budaya lokal, keindahan musim, kuliner, festival, serta pengalaman keseharian masyarakatnya.

Peluang inilah yang hendak diperluas melalui program Saitama PR Ambassador. Pemerintah prefektur memanfaatkan Instagram sebagai saluran promosi, baik melalui unggahan mandiri para duta maupun konten kolaborasi dengan akun resmi pemerintah. Food Diversity, 24 Mei 2026, menjelaskan bahwa Nazaya ingin memperkenalkan bukan hanya tempat populer, tetapi juga budaya dan pengalaman lokal yang belum banyak dikenal.

Strategi tersebut masuk akal. Promosi pariwisata tidak cukup mengundang orang datang ke sebuah daerah; promosi juga perlu membantu mereka menemukan alasan untuk tinggal lebih lama, menjelajahi lokasi lain, dan membelanjakan uang pada usaha masyarakat setempat.

Namun, perhatian di media sosial tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan kunjungan atau pendapatan lokal. Tanpa data mengenai jangkauan kampanye, jumlah pengunjung, dan keterlibatan pelaku usaha, keberhasilan program masih harus dinilai secara hati-hati. Popularitas merupakan pintu masuk, bukan bukti akhir keberhasilan.

WISATA RAMAH MUSLIM, UJIAN KETERBUKAAN

Latar belakang Nazaya sebagai Muslimah Indonesia juga membuka peluang menjangkau wisatawan yang membutuhkan informasi lebih spesifik. Bagi sebagian pelancong Muslim, pertanyaan tentang makanan halal, tempat salat, dan fasilitas penginapan dapat memengaruhi keputusan perjalanan.

Food Diversity, 20 Mei 2025, melaporkan bahwa Nazaya aktif membagikan informasi mengenai pariwisata, kuliner, serta pilihan yang relevan bagi komunitas Muslim dan masyarakat Asia Tenggara. Perspektif tersebut dapat membantu calon pengunjung memahami destinasi melalui pengalaman orang yang memiliki kebutuhan budaya serupa.

Meski demikian, promosi ramah Muslim harus bertumpu pada ketepatan informasi. Restoran yang menyediakan makanan tanpa babi tidak otomatis bersertifikat halal. Begitu pula, keberadaan musala atau perlengkapan salat harus diperiksa berdasarkan lokasi dan ketersediaannya. Belum cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa seluruh destinasi di Saitama telah menyediakan fasilitas tersebut secara merata.

Keterbukaan tidak cukup diukur melalui pesan promosi. Ukurannya juga terletak pada mutu pelayanan, kemudahan memperoleh informasi, dan kesesuaian antara janji dengan kenyataan. Di sinilah promosi yang jujur justru lebih berharga daripada klaim yang berlebihan.

DIPLOMASI YANG HARUS TERUKUR

Kehadiran Nazaya memperlihatkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu berlangsung melalui pertemuan pejabat atau perjanjian resmi. Cerita tentang makanan, tradisi, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari dapat membangun kedekatan antara masyarakat dua negara.

Namun, seorang duta tidak dapat bekerja sendirian. Pemerintah tetap bertanggung jawab menyediakan informasi yang akurat, akses wisata yang memadai, dan pelayanan yang konsisten. Peran Nazaya akan semakin berarti apabila didukung data, koordinasi dengan pengelola destinasi, serta evaluasi berkala atas hasil kampanye.

Pemerintah Prefektur Saitama, 19 Mei 2026, mengonfirmasi program duta untuk periode 2026–2027. Keberlanjutan ini menyediakan kesempatan untuk memperkuat promosi sekaligus menilai manfaatnya secara lebih terukur, bukan sekadar mengulang keberhasilan seremoni pengangkatan.

Kisah Nazaya Zulaikha bukan hanya tentang hijab yang melintasi batas negara. Ini juga tentang kompetensi, kepercayaan, dan kemampuan menghubungkan masyarakat yang berbeda latar belakang. Indonesia patut mengapresiasi kiprahnya, sementara Saitama perlu memastikan bahwa citra keterbukaan berjalan seiring dengan kualitas pelayanan.

Sebab, keberagaman bukan sekadar ornamen promosi. Ia menjadi kekuatan ketika diterjemahkan menjadi pengalaman yang nyaman, informasi yang dapat dipercaya, dan kesempatan yang setara. Di antara Indonesia dan Jepang, Nazaya berpeluang menjadi jembatan. Seberapa kuat jembatan itu, pada akhirnya, ditentukan bukan oleh simbol semata, melainkan oleh manfaat nyata yang mampu dihadirkannya.

Editor: Husnie