Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:28
MILITER

Kunjungi Lanud Dhomber, Kardinal Suharyo Bawa Pesan Iman dan Kebangsaan

Kunjungi Lanud Dhomber, Kardinal Suharyo Bawa Pesan Iman dan Kebangsaan
Kardinal Suharyo dan Danlanud Dhomber foto bersama di depan Mako Lanud (Dok OCI)

ASKARA - Suasana hangat dan penuh persaudaraan mewarnai kunjungan pastoral Uskup umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI), Ignatius Kardinal Suharyo, ke Pangkalan Udara Dhomber Balikpapan, Kamis (22/10/2026).

Kedatangan Kardinal Suharyo bukan sekadar kunjungan seorang pemimpin Gereja kepada umatnya. Di hadapan keluarga besar TNI Angkatan Udara, kunjungan itu menjadi ruang untuk berbicara tentang iman, pengabdian, persaudaraan, dan kecintaan kepada Indonesia.

Kardinal Suharyo didampingi Wakil Uskup TNI-Polri, Romo Kolonel (Purn.) Yos Bintoro, Pr., serta Romo Kasmir Agung, MSF. Rombongan juga terdiri dari Romo Letda Inf. Jimmy Yohanes Hyronimus, S.Fil., Irjen Pol (Purn.) Heribertus Dahana, Marsda TNI (Purn.) A. Joko Takarianto, Laksda TNI (Purn.) A.R. Agus Santoso, Lettu Sus Marselinnus Yudhi, serta Dar Edi Yoga.

Komandan Lanud Dhomber Balikpapan, Kolonel (Pnb) I Gusti Ngurah Sorga Laksana, menyambut kedatangan Kardinal Suharyo dan rombongan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kunjungan pastoral tersebut merupakan kehormatan sekaligus momentum untuk memperkuat kehidupan rohani personel TNI-Polri dan keluarga.

"Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami atas kunjungan pastoral ini. Kehadiran Bapak Kardinal menjadi momentum yang sangat berharga untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat iman, serta memberikan penguatan rohani bagi umat Katolik, khususnya yang bertugas di lingkungan TNI dan Polri di wilayah Balikpapan," ujarnya.

Menurutnya, kekuatan seorang prajurit tidak semata-mata dibangun dari kemampuan fisik maupun profesionalisme dalam menjalankan tugas.

"Kekuatan sejati seorang prajurit tidak hanya ditentukan oleh ketangguhan fisik, kesehatan, profesionalisme dalam mengoperasikan alutsista maupun melaksanakan tugas operasi, tetapi juga ditopang oleh keteguhan mental, kematangan moral, dan kekuatan spiritual," katanya.

Karena itu, pembinaan rohani, lanjutnya, menjadi bagian penting dalam membentuk karakter personel yang memiliki integritas serta mampu memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara.

Pesan lain yang mengemuka adalah pentingnya merawat keberagaman. TNI dan Polri menjadi ruang perjumpaan berbagai suku, agama, dan latar belakang. Perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan ketika dirawat dengan sikap saling menghormati.

"Perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan landasan kokoh untuk saling menghormati, memperkuat toleransi, serta membangun semangat kebersamaan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.

Menjaga Tanggung Jawab Sejarah

Dalam kesempatan tersebut, Kardinal Suharyo mengajak hadirin melihat kembali perjalanan panjang kehadiran Gereja Katolik di tengah kehidupan TNI dan Polri.

Ia menjelaskan, pelayanan Gereja Katolik bagi umat di lingkungan militer Indonesia telah memiliki sejarah panjang. Ordinariatus Castrensis Indonesia, menurut Kardinal, mulai hadir di Indonesia pada 1949.

"Keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri sudah mulai di Indonesia sejak tahun 1949. Jadi, sudah lama," kata Kardinal Suharyo.

Menurut dia, keberadaan OCI memiliki kekhasan karena memberikan pelayanan pastoral kepada umat Katolik yang berada dalam lingkungan TNI dan Polri, di tengah tugas dan dinamika pengabdian mereka kepada negara.

Kardinal kemudian mengaitkan sejarah tersebut dengan semangat kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa menjadi umat Katolik sekaligus warga Indonesia bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Ia mengutip semboyan yang pernah diperkenalkan dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik Indonesia: "100 persen Katolik, 100 persen Indonesia."

"Inilah yang kami jaga sebagai tanggung jawab sejarah, khususnya di dalam lingkungan umat Katolik di TNI. Tanggung jawab sejarah untuk menanamkan semangat cinta tanah air," tuturnya.

Bagi Kardinal Suharyo, cinta tanah air tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kecintaan kepada Tuhan, keluarga, masyarakat, Gereja, dan bangsa.

"Cinta tanah air itu untuk Tuhan pasti, untuk keluarga, untuk masyarakat, untuk Gereja juga, dan untuk tanah air dengan segala macam bentuknya," katanya.

Istiqlal dan Katedral: Simbol Indonesia yang Rukun

Kardinal Suharyo kemudian membawa pembicaraan pada sebuah simbol toleransi yang sangat dikenal di Jakarta: Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.

Ia menceritakan bagaimana kedekatan kedua rumah ibadah tersebut sejak awal memiliki makna simbolis bagi kehidupan kebangsaan Indonesia.

Menurutnya, kedekatan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral menggambarkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang dapat hidup berdampingan, saling menghormati, dan membangun persaudaraan meskipun berbeda keyakinan.

"Masjid Istiqlal berdampingan dengan Gereja Katedral. Jaraknya sangat dekat. Gagasan seperti itu tentu mempunyai makna simbolik. Inilah cita-cita hidup bangsa Indonesia: rukun dan bertetangga," ujarnya.

Kardinal juga menyinggung Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Baginya, terowongan tersebut bukan sekadar fasilitas penghubung, tetapi dapat menjadi ruang edukasi mengenai kehidupan bersama yang damai.

Ia menggambarkan bagaimana suara azan dan lonceng gereja dapat menjadi bagian dari simbol kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup berdampingan dalam keberagaman.

"Ini adalah tempat yang sangat bagus untuk menceritakan kehidupan toleransi di dalam masyarakat Indonesia," katanya.

Bagi Kardinal Suharyo, pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman bahkan menjadi sesuatu yang membanggakan ketika diperkenalkan kepada masyarakat internasional.

Ia mengisahkan pengalamannya bertemu dengan sejumlah orang dari berbagai negara yang terkejut mengetahui bahwa Indonesia memiliki pelayanan keuskupan khusus bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

"Teman-teman saya heran. Indonesia bisa hidup dengan cara seperti itu. Saya dengan bangga mengatakan, itulah Indonesia," ujarnya.

Ketika Iman Menjadi Kekuatan dalam Pengabdian

Kunjungan pastoral di Lanud Dhomber Balikpapan akhirnya tidak berhenti pada persoalan kehidupan keagamaan. Pesan yang dibawa Kardinal Suharyo menyentuh sisi yang lebih manusiawi dari kehidupan prajurit: bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada manusia yang membutuhkan kekuatan batin.

Kardinal menegaskan pentingnya pendampingan rohani bagi umat Katolik yang menjalankan tugas di lingkungan TNI dan Polri. Kekuatan spiritual diharapkan dapat berjalan beriringan dengan profesionalisme, integritas, disiplin, dan loyalitas.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara Gereja dan institusi negara untuk memperkuat semangat pengabdian yang berakar pada nilai kemanusiaan dan persaudaraan.

Bagi keluarga besar Lanud Dhomber Balikpapan, kehadiran Kardinal Suharyo menjadi sapaan pastoral yang membawa pesan sederhana namun mendalam: menjalankan tugas kepada negara bukan hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga hati yang kuat, moral yang teguh, serta kesadaran bahwa keberagaman Indonesia adalah sesuatu yang harus dijaga bersama.

Di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang, persaudaraan tetap menjadi titik temu.

Dan di sanalah iman, pengabdian, serta cinta tanah air menemukan ruang untuk berjalan bersama.

 

Editor: Dar Edi Yoga