Rabu, 21 Oktober 2026 | 12:38
MILITER

Kardinal Suharyo Sapa Prajurit di Makodam Mulawarman, Gereja Hadir di Tengah Pengabdian

Kardinal Suharyo Sapa Prajurit di Makodam Mulawarman, Gereja Hadir di Tengah Pengabdian
Brigjen TNI Deni Sukwara, S.E., M.Si., M.Han., Kapoksahli Pangdam VI/Mulawarman, beserta jajaran, foto bersama Kardinal Suharyo dan rombongan dari OCI (Dok OCI)

ASKARA - Di balik seragam loreng, pangkat dan tugas menjaga kedaulatan negara, ada manusia yang juga membutuhkan sapaan, penguatan dan pendampingan rohani. Karena itu, Gereja hadir bukan hanya di altar dan rumah ibadah, tetapi juga di tengah para prajurit yang menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa.

Pesan tersebut terasa dalam kunjungan pastoral Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri melalui Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), ke Markas Komando Daerah Militer (Makodam) VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (21/10/2026).

Kardinal Suharyo didampingi Wakil Uskup OCI, Romo Kolonel (Purn.) Yos Bintoro, Pr., serta sejumlah tokoh dan purnawirawan TNI-Polri. Rombongan antara lain Romo Letda Inf. Jimmy Yohanes Hyronimus, S.Fil.; Irjen Pol (Purn.) Heribertus Dahana; Marsda TNI (Purn.) A. Joko Takarianto; Laksda TNI (Purn.) A.R. Agus Santoso; Lettu Sus Marselinnus Yudhi; dan Dar Edi Yoga.

Vikaris Jenderal Keuskupan Samarinda, Romo Moses Komela Avan, Pr., turut mendampingi rombongan.

Kehadiran rombongan disambut Brigjen TNI Deni Sukwara, S.E., M.Si., M.Han., Kapoksahli Pangdam VI/Mulawarman, beserta jajaran. Deni mewakili Pangdam VI/Mulawarman yang berhalangan hadir karena sedang menjalankan tugas.

Pertemuan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Tidak sekadar membicarakan institusi, perjumpaan tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal sekaligus memperkenalkan lebih jauh keberadaan OCI yang secara khusus memberikan pelayanan pastoral bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri.

Brigjen TNI Deni Sukwara mengaku mendapat pengalaman dan pemahaman baru mengenai keberadaan OCI. Dia memberikan apresiasi terhadap kehadiran pastor militer yang secara khusus memberikan pendampingan rohani kepada prajurit dan anggota Polri.

"Saya sangat salut dengan keberadaan pastor militer. Terus terang, saya baru mengenal OCI lebih jauh melalui pertemuan ini," ujar Deni.

Menurutnya, keberadaan pelayanan pastoral tersebut penting karena prajurit tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik dan profesionalitas dalam menjalankan tugas, tetapi juga keteguhan moral dan spiritual.

Deni juga menyampaikan dukungan terhadap kegiatan OCI. Bahkan, jajaran Kodam VI/Mulawarman akan mengerahkan anggota untuk mengikuti misa yang dijadwalkan berlangsung sore hari di Lanud Dhomber.

"Kami sangat mendukung kegiatan OCI. Semuanya untuk kebaikan dan pelayanan kepada umat," katanya.

Ia juga menyampaikan pemahamannya mengenai posisi OCI dalam struktur Gereja yang memiliki kekhasan tersendiri dan berada dalam tata hierarki Gereja Katolik.

Dalam pertemuan tersebut, Kardinal Suharyo menjelaskan sejarah terbentuknya Keuskupan TNI dan Polri. OCI lahir dari kebutuhan Gereja untuk memberikan pelayanan pastoral kepada umat Katolik yang menjalankan tugas di lingkungan pertahanan dan keamanan negara.

Menurut Kardinal Suharyo, umat Katolik yang menjadi prajurit TNI maupun anggota Polri tetap memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan pastoral, meskipun mereka memiliki mobilitas dan karakter penugasan yang berbeda.

Kardinal juga menegaskan posisi Gereja dalam kehidupan kebangsaan.

"Gereja menjaga kebersamaan. Karena itu, Gereja tidak boleh berpolitik," ujar Kardinal Suharyo.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan, Gereja memiliki ruang pengabdian yang berbeda. Gereja hadir untuk mendampingi umat, memperkuat persaudaraan dan merawat kehidupan bersama, bukan menjadi bagian dari pertarungan politik praktis.

Irjen Pol (Purn.) Heribertus Dahana menilai keberadaan OCI dari perspektif organisasi memiliki nilai positif, terutama dalam memperkuat silaturahmi di antara umat Katolik yang berada di lingkungan TNI dan Polri.

"Dari sisi organisasi, keberadaan OCI sangat bagus untuk silaturahmi," kata Herry.

Sementara itu, Laksda TNI (Purn.) A.R. Agus Santoso selaku ketua rombongan menjelaskan, kunjungan ke Makodam VI/Mulawarman merupakan bagian dari rangkaian silaturahmi pastoral.

Sebelumnya, rombongan telah mengunjungi Lanal dan akan mengunjungi Polda, serta Lanud. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pelayanan OCI yang memiliki 18 karya pastoral.

"Setiap tahun kami melakukan kunjungan dengan program-program rutin di lingkungan internal TNI dan Polri. Kami mencoba menyatukan, karena perpecahan sangat mudah terjadi," ujar Agus.

Menurut dia, semangat persatuan tidak boleh berhenti pada internal umat Katolik. Persaudaraan harus menjadi energi bersama dalam kehidupan bangsa yang majemuk.

"Harus diciptakan persatuan di antara kalangan umat beragama," katanya.

Karena itu, OCI secara rutin menjalankan program kerja dengan mengunjungi dan menyapa umat Katolik yang berada di lingkungan TNI dan Polri di berbagai wilayah.

Wakil Uskup OCI Romo Kolonel (Purn.) Yos Bintoro, Pr., menegaskan, keberadaan OCI dibutuhkan untuk memberikan pendampingan rohani kepada anggota TNI dan Polri dalam menjalankan tugas pengabdian.

Menurut Romo Yos, jumlah pastor yang sekaligus menjadi anggota militer relatif sedikit. Kondisi tersebut membuat OCI perlu menghadirkan pola pelayanan pastoral yang mampu menjangkau kehidupan prajurit dan keluarganya.

"Keberadaan OCI dibutuhkan di lingkungan TNI dan Polri. Karena sangat sedikit pastor yang menjadi tentara, maka OCI menghadirkan pastor untuk melayani kehidupan militer dan Polri," ujar Romo Yos.

Ia menjelaskan, dalam menjalankan karya pastoral, Kardinal Suharyo didampingi Dewan Karya Pastoral. Berbagai program kemudian dilakukan untuk memastikan umat tetap mendapatkan pendampingan, termasuk misa rutin setiap Jumat pertama bagi anggota TNI dan Polri.

Namun, pelayanan tidak berhenti pada perjumpaan tatap muka.

Di tengah luasnya wilayah penugasan TNI dan Polri, OCI juga menyiapkan pelayanan melalui teknologi digital, termasuk pertemuan melalui Zoom.

"Pelayanan melalui Zoom akan terus kami kembangkan untuk menjangkau anggota yang berada di berbagai daerah. Jarak tidak boleh membuat umat merasa jauh dari Gereja," tutur Romo Yos.

Bagi Romo Yos, pelayanan pastoral kepada prajurit memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan keagamaan.

Pelayanan tersebut merupakan upaya menjaga manusia yang berada di balik profesinya. Seorang prajurit dituntut kuat menghadapi tugas, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk merefleksikan kehidupan, keluarga, iman dan panggilannya.

Karena itu, pelayanan teritorial pastoral dinilai memiliki arti penting sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa.

"Pelayanan teritorial pastoral sangat berarti. Ini merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang, terutama dalam membangun ketahanan moral, persaudaraan dan kehidupan bersama," kata Romo Yos.

Kunjungan Kardinal Suharyo ke Makodam VI/Mulawarman akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda pastoral. Ia menjadi perjumpaan antara Gereja dan para penjaga bangsa. Perjumpaan yang mengingatkan bahwa di balik tugas menjaga wilayah dan kedaulatan negara, ada manusia yang perlu didampingi dan diteguhkan. Gereja tidak datang membawa kepentingan politik. Gereja datang membawa sapaan, menyapa mereka yang bertugas, mendengarkan pergulatan mereka, menguatkan keluarganya, dan menjaga agar iman tetap menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan pengabdian.

Di tengah keberagaman Indonesia, pesan itu menjadi sederhana sekaligus penting: persatuan harus terus dirawat, karena bangsa yang besar bukan bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai jalan menuju persaudaraan.

 

Editor: Dar Edi Yoga