Rabu, 21 Oktober 2026 | 17:38
OPINI

Kejeniusan Alan Turing

Kejeniusan Alan Turing
Ilustrasi kejeniusan Alan Turing (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - The Imitation Game (2014) adalah film di mana Benedict Cumberbatch berperan utama sebagai Alan Turing setelah Sherlock (2010) dan sebelum Doctor Strange (2016) kemudian bergabung ke kelompok Avengers besutan Marvel yang akhir 2026 kembali muncul dengan lakon Doomsday.

Jenius ada dua jenis. Yang pertama menyelesaikan masalah sulit. Yang kedua menunjukkan bahwa masalah yang kita kira berbeda ternyata adalah masalah yang sama. Alan Turing adalah jenis kedua.

Kontribusinya terhadap komputer dan AI bukan satu penemuan, tapi tiga pemotongan jalan konseptual yang mengubah cara manusia berpikir tentang berpikir.

1. Mesin Universal - 1936, umur 24 tahun.

Sebelum Turing, "komputer" adalah profesi manusia, biasanya perempuan, yang menghitung tabel. Hilbert bertanya: bisakah ada prosedur mekanis untuk memutuskan semua kebenaran matematika? Turing menjawab dengan membayangkan mesin absurd yang sederhana.

Sebuah pita tak terbatas, sebuah kepala yang bisa baca, tulis, bergerak kiri-kanan, dan tabel aturan. Itu saja. Ia menyebutnya mesin-a. Lalu ia bertanya: bisakah satu mesin-a mensimulasikan semua mesin-a lain jika diberi kodenya di pita?

Jawabannya ya. Itulah Universal Turing Machine.

Ini adalah cetak biru  laptop Anda. Ide bahwa hardware sama, software berbeda. Bahwa satu mesin bisa jadi mesin ketik, kalkulator, pemutar musik, hanya dengan ganti program. Von Neumann yang membangun komputer pertama EDVAC mengaku mencuri ide arsitektur program-tersimpan dari Turing.

Jeniusnya: ia tidak menemukan komputer, ia menemukan _definisi_ komputer.

2. Bletchley Park - 1939-1945, menyelamatkan 14 juta jiwa.

Turing direkrut ke Hut 8. Tugasnya memecahkan Enigma, mesin sandi Nazi dengan 159 triliun kemungkinan. Orang Inggris punya Bombe, tapi lambat.

Turing punya dua lompatan: pertama, ia memakai statistik Bayes untuk menebak kata yang sering muncul "Wetter" (cuaca)  disebut "cribs". Kedua, ia merancang Bombe elektromekanis yang bisa menyaring kontradiksi logis secara paralel.

Hasilnya: dari 1939 tidak bisa baca apa-apa, 1943 bisa baca 90.000 pesan U-boat per bulan. Menurut para sejarawan akademis, ini memperpendek perang 2-4 tahun.

Namun Turing tidak pernah bicara soal itu. Ia pulang dan berkata: "Itu matematika yang membosankan."

3. Tes Turing dan Belajar Mesin - 1950.

Makalahnya Computing Machinery and Intelligence dimulai dengan provokasi: "Bisakah mesin berpikir?" Ia bilang pertanyaan itu tidak berguna. Ganti dengan: "Bisakah mesin meniru manusia dalam permainan menebak sehingga interogator tidak bisa bedakan?"

Itulah Imitation Game, kini Tes Turing. Tujuannya bukan mengukur kecerdasan, tapi menghindari definisi filsafat yang buntu. Kecerdasan adalah perilaku yang tidak bisa dibedakan.

Lebih penting, di makalah yang sama ia menulis dua visi AI yang masih kita pakai:

- AI simbolik: programkan semua aturan dewasa.

- AI conexionist: buat mesin anak yang belajar dari hadiah dan hukuman.

Ia memilih yang kedua. "Daripada mencoba membuat otak dewasa, buat saja otak anak dan didik.". Itulah sukma machine learning modern. ChatGPT, yang Anda pakai hari ini, adalah anak yang dididik persis seperti resep Turing 1950.

Turing bunuh diri 1954, menggigit apel sianida setelah dihukum karena homoseksual, dikebiri kimiawi oleh negaranya sendiri yang ia selamatkan. Ia baru diampuni kerajaan tahun 2013.

Jeniusnya bukan karena ia pintar. Banyak orang pintar. Jeniusnya karena ia melihat bahwa komputasi, pemecahan kode, dan kecerdasan bukan tiga bidang. Ketiganya menyatu menjadi satu pertanyaan: apa yang bisa dilakukan dengan prosedur.

Dan Alan Turing menjawab: hampir semua.

 

Editor: Dar Edi Yoga