Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed._
ASKARA - Sebuah pernyataan di media sosial X dari akun “Sumatera Adil & Federal” menyebut keberhasilan modifikasi cuaca pemerintah Malaysia membuat Kalimantan mulai hujan. Pernyataan itu kemudian disertai tuduhan bahwa Indonesia sebenarnya mampu melakukan hal serupa, tetapi anggarannya disebut lebih memilih digunakan untuk “beli saham alias dikorupsi”, bahkan menyinggung dugaan keterlibatan kerabat mantan pejabat BNPB.
Pernyataan seperti ini perlu dibaca secara kritis agar masyarakat tidak mencampuradukkan fakta, opini, dugaan dan tuduhan.
Saya memiliki pengalaman yang membuat persoalan ini cukup dekat. Sekitar 1991, saya pernah bergabung dalam proyek hujan buatan BPPT yang berpusat di posko sekitar Pangkalan Udara Militer Jenderal Ahmad Yani, Semarang, berkaitan dengan kebutuhan sumber air kawasan Kedung Ombo.
Secara sejarah, Waduk Kedung Ombo dibangun pemerintah sejak pertengahan 1980-an (era Soeharto - BJ Habibie) untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, irigasi, pengendalian banjir dan pembangkitan listrik. Pengisian awal waduk berlangsung pada 1989 dan waduk tersebut diresmikan pada 18 Mei 1991. PLTA Kedung Ombo kemudian menjadi bagian dari pemanfaatan waduk tersebut dengan kapasitas sekitar 22,5 MW.
Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa membuat hujan buatan bukan pekerjaan sederhana. Sebelum penyemaian atau seeding, diperlukan pengamatan kondisi atmosfer secara matang, antara lain keberadaan awan potensial seperti Cumulus, arah dan kecepatan angin, kelembapan serta parameter cuaca lainnya.
Jika kondisi dinilai memungkinkan, dilakukan penyemaian bahan tertentu ke dalam awan potensial. Dalam pengalaman yang saya ikuti saat itu, salah satu bahan yang digunakan adalah NaCl (natrium klorida atau garam). Dalam kondisi awan dan kelembapan yang sesuai, proses tersebut dapat membantu pertumbuhan butiran air hingga akhirnya menjadi hujan.
Namun ada satu hal penting yang sering tidak dipahami: manusia tidak sepenuhnya dapat menentukan di mana hujan akan turun.
Arah angin menjadi faktor sangat menentukan. Hasil pengamatan sebelum operasi belum tentu persis sama dengan kondisi ketika awan bergerak dan berkembang. Karena itu, dalam pengalaman tersebut, tidak jarang hujan yang diharapkan turun di lokasi target justru bergeser dan jatuh di wilayah lain.
Pengalaman itu relevan untuk memahami Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) saat ini, termasuk penggunaannya menghadapi kekeringan dan karhutla. OMC bukan tombol yang dapat ditekan untuk langsung menciptakan hujan di lokasi tertentu. Harus tersedia bibit awan dan kondisi atmosfer yang memungkinkan. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, operasi tidak dapat dipaksakan.
Karena itu, anggapan bahwa Indonesia tidak melakukan OMC juga keliru. Pada 2026, OMC telah dilakukan di berbagai wilayah, termasuk Sumatera dan Kalimantan, untuk membantu menghadapi kekeringan, pembasahan lahan gambut dan karhutla. Namun keberhasilannya tidak selalu sesuai harapan karena kondisi atmosfer merupakan faktor alam yang berada di luar kendali manusia.
Di sinilah kita perlu memahami batas teknologi. Manusia dapat melakukan ikhtiar melalui ilmu pengetahuan, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi hukum alam yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa.
Yang lebih serius adalah tuduhan bahwa anggaran OMC digunakan untuk “beli saham alias dikorupsi”. Secara jurnalistik, tuduhan tersebut tidak boleh langsung dianggap fakta. Harus ada bukti mengenai anggaran, transaksi, aliran dana, pihak yang menerima manfaat, hasil audit, penyelidikan atau putusan hukum.
Begitu pula penyebutan seseorang sebagai “adik kandung mantan pejabat BNPB” bukan bukti tindak pidana. Jika ada dugaan korupsi, yang harus dibuktikan adalah perbuatannya, bukan hubungan keluarganya.
Masyarakat berhak mengkritik pemerintah dan menuntut transparansi anggaran. Pemerintah juga wajib menjelaskan pelaksanaan OMC, hasil, kendala teknis dan penggunaan anggarannya.
Jurnalistik harus menempatkan persoalan secara proporsional, fakta harus diuji, tuduhan harus dibuktikan, pemerintah harus transparan, dan masyarakat memperoleh informasi yang utuh. OMC adalah ikhtiar teknologi, tetapi hasil hujan tetap dipengaruhi kompleksitas alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.