OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Saya Nasrani dan sepuluh tahun belajar dan mengajar di Jerman namun tidak pernah minum bir, wain, wisky apalagi absinthe setetes pun jua. Alasannya bukan agama tapi sekadar selera subyektif saya sendiri saja yakni tidak suka
Kenapa aturan alkohol tiap agama beda-beda ? Ternyata jawabannya sederhana: semua agama menghadapi masalah yang sama — manusia suka mabuk — tapi solusinya beda.
1. Tegas
Posisi Islam paling jelas dan konsisten. Al-Qur'an melalui proses bertahap - dari boleh, lalu jangan shalat saat mabuk, hingga akhirnya diharamkan total di Al-Maidah ayat 90. Logikanya teologis: akal adalah syarat ibadah, alkohol merusak akal, jadi haram. Tidak ada ruang nego. Tidak ada wine halal. Selesai disertai tanda seru.
2. Ritual Sakral.
Ini yang sering disalahpahami sebagai "Judaisme melarang." Justru sebaliknya. Judaisme tidak melarang alkohol sama sekali. Anggur adalah pusat ibadah. Setiap Sabat harus ada Kiddush - doa di atas anggur. Anggur Paskah wajib 4 cangkir. Yang dilarang adalah mabuk yang menghilangkan kendali, bukan anggurnya.
Kekristenan mengambil jalur yang sama tapi lebih jauh. Yesus mukjizat pertamanya mengubah air menjadi anggur di Kana. Dalam Ekaristi Katolik dan Ortodoks, anggur adalah darah Kristus. Bukan simbol. Secara teologi transubstansiasi, itu darah itu sendiri.
Jadi logikanya: bagaimana mungkin yang haram dijadikan tubuh Tuhan? Maka alkohol tidak haram. Yang haram adalah penyalahgunaannya. Paulus bahkan menyuruh Timotius minum sedikit anggur untuk kesehatannya.
Agama yang lahir di padang gurun yang sama punya dua kesimpulan hukum yang bertolak belakang dari bahan yang sama: gandum yang difermentasi.
3. Jalan Tengah
Hinduisme dan Buddhisme tidak punya fatwa haram-halal ala Abrahamik. Aturannya berbasis karma dan kesadaran.
Dalam kitab Hindu awal, Soma - minuman memabukkan dewa - dipuji-puji. Dalam praktik Bali, tuak dan arak adalah sarana upacara. Tapi di sisi lain, Manusmriti melarang Brahmana minum. Jadi posisinya abu-abu: tidak diharamkan agama, tapi tidak dimuliakan jika berlebihan.
Buddhisme lebih ketat di teks. Sila kelima: Surameraya-majja-pamadatthana veramani - hindari minuman yang menyebabkan kelengahan. Untuk biksu, itu mutlak. Untuk umat awam, itu adalah latihan kesadaran, bukan vonis neraka. Mabuk bukan dosa, tapi kebodohan yang akan menambah penderitaanmu sendiri.
Jadi tidak benar "mabuk dianggap kelaziman." Lebih tepat: mabuk dianggap manusiawi, tapi merugikan.
4. Seni Bela Diri
Dan ketika semua agama pusing mengatur alkohol, datanglah sinema Hong Kong dengan solusi paling jujur: Jurus Dewa Mabuk (Zui Quan). Jackie Chan dalam “Drunken Master” mengajarkan teologi pamungkas: kalau tidak bisa mengalahkan alkohol, jadikan alkohol sebagai teknik bela diri.
Mabuk bukan lagi haram, halal, atau karma. Mabuk adalah strategi.
Mungkin inilah kesimpulannya: Islam menyelamatkan akal dengan melarangnya. Judaisme dan Kristen menyelamatkan akal dengan menyucikannya. Hindu-Buddha menyelamatkan akal dengan menyadarinya. Sedangkan Kung Fu menyelamatkan akal dengan pura-pura kehilangan akal, supaya musuh bingung. Malah diri sendiri sebenarnya lebih bingung.
Tuhan yang sama, alkohol yang sama, mabuk yang berbeda-beda.