Rabu, 30 September 2026 | 21:24
NEWS

Surabaya Bersiap Jadi Gerbang Logistik Indonesia Timur

Surabaya Bersiap Jadi Gerbang Logistik Indonesia Timur
CKB Logistics mengembangkan Osowilangun (Dok Askara)

ASKARA - Pergerakan industri tidak berhenti di satu kota. Barang dari kawasan produksi harus bergerak menuju pelabuhan, pergudangan, hingga pasar di berbagai wilayah Indonesia. Di tengah kebutuhan tersebut, PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics) memperkuat peran fasilitas Osowilangun, Surabaya, sebagai salah satu simpul rantai pasok yang menghubungkan industri Jawa Timur dengan pasar Indonesia Timur.

Pilihan Surabaya bukan tanpa alasan. Jawa Timur merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi dan industri nasional. BPS mencatat ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen pada triwulan I-2026 dan 5,72 persen pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tersebut ikut menciptakan kebutuhan terhadap sistem logistik yang mampu menjaga kelancaran pergerakan barang dari pusat produksi menuju berbagai tujuan.

Secara nasional, sektor transportasi dan pergudangan juga menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I-2026, sektor tersebut tumbuh 6,81 persen secara kumulatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap infrastruktur dan layanan rantai pasok terus berkembang seiring aktivitas ekonomi.

Di tengah dinamika tersebut, CKB Logistics mengembangkan Osowilangun bukan sekadar sebagai tempat menyimpan barang. Fasilitas tersebut dirancang sebagai bagian dari ekosistem logistik yang menggabungkan pergudangan, pengelolaan persediaan, penanganan barang, kepabeanan dan distribusi.

“Fasilitas Osowilangun bukan sekadar ruang gudang. Fasilitas ini merupakan simpul yang menghubungkan kebutuhan industri Jawa Timur dengan pergerakan barang menuju Indonesia Timur,” ujar Direktur Utama CKB Logistics Iman Sjafei di Surabaya, Rabu (30/9/2026).

Menurut Iman, keberadaan hub terintegrasi dibutuhkan industri untuk memperoleh visibilitas dan kepastian proses yang lebih baik. Karena itu, CKB Logistics terus menyesuaikan layanan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing pelanggan.

Kompleks pergudangan Osowilangun telah beroperasi sejak 2017 dengan luas mencapai 140.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB) seluas 20.000 meter persegi. Tingkat keterisian fasilitas atau occupancy rate CKB Logistics saat ini mencapai 82 persen.

Status sebagai PLB memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan arus barang sesuai ketentuan kepabeanan. Selain penyimpanan, fasilitas tersebut mendukung proses seperti repacking, pelabelan dan konsolidasi. Mekanisme PLB juga memungkinkan pembayaran bea dan pajak ditunda sampai barang dikeluarkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi industri yang memiliki rantai pasok panjang, integrasi tersebut menjadi penting karena setiap mata rantai membutuhkan ketepatan waktu dan informasi. Kesalahan dalam penyimpanan, penanganan maupun distribusi dapat berdampak pada keseluruhan proses produksi dan pengiriman.

CKB Logistics juga memasukkan aspek keselamatan dan keberlanjutan dalam pengoperasian fasilitas. Sejumlah langkah dilakukan melalui penggunaan forklift listrik, pemanfaatan pencahayaan alami berbasis skylight, penerapan standar keselamatan serta berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan.

Di sisi lingkungan, perusahaan menjalankan program CSR, antara lain penanaman mangrove di Romokalisari, Surabaya. Perusahaan juga menyebut penggunaan kendaraan dengan standar emisi Euro 4 sebagai bagian dari upaya mendukung operasional yang lebih ramah lingkungan.

“Skylight membantu mengoptimalkan penggunaan energi sesuai kebutuhan area. CKB terus meningkatkan keamanan, keandalan, integrasi, digitalisasi, ESG, efisiensi operasional, dan dukungan terhadap kebutuhan pelanggan secara berkelanjutan,” kata Iman.

Ke depan, tantangan logistik bukan hanya soal seberapa cepat barang dipindahkan, tetapi juga seberapa akurat data, aman prosesnya, efisien penggunaan energinya dan seberapa kuat sistem tersebut menghadapi perubahan kebutuhan industri.

Dengan posisi Osowilangun dalam ekosistem logistik Surabaya, CKB Logistics melihat peluang untuk memperkuat konektivitas rantai pasok dari Jawa Timur menuju berbagai wilayah Indonesia Timur.

“Digitalisasi membantu kami membaca kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat, sementara penerapan ESG memastikan pertumbuhan logistik berjalan seiring dengan efisiensi dan tanggung jawab terhadap lingkungan,” tutup Iman Sjafei.

 

Komentar