Rabu, 30 September 2026 | 15:42
NEWS

KUNJUNGAN PASTORAL OCI DI MAKASSAR: IMAN YANG HADIR DALAM PENGABDIAN

Kunjungan Pastoral OCI di Makasar: Iman yang Hadir dalam Pengabdian

Kunjungan Pastoral OCI di Makasar: Iman yang Hadir dalam Pengabdian

ASKARA - Kunjungan Pastoral Uskup Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, Prof. Dr. Ignatius Kardinal Suharyo, ke Makassar, Selasa (29/9), bukan sekadar kunjungan kelembagaan. Di balik perjumpaan dengan Gereja lokal dan jajaran TNI-Polri, tersimpan satu pesan sederhana: iman harus hadir dalam pengabdian.

Didampingi jajaran Dewan Karya Pastoral OCI dan unsur pembina rohani TNI, Kardinal Suharyo mengawali kunjungan dengan Perayaan Ekaristi di Stasi Bunda Maria Mandai. Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum pengukuhan Dewan Karya Pastoral Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) Wilayah Keuskupan Agung Makassar (KAMS), penyerahan pataka, dan penandatanganan prasasti pembentukan OCI KAMS.

Dalam kesempatan tersebut dikukuhkan pula tiga Pelayan Militer dan Kepolisian Republik Indonesia (Pasyanmilpol) untuk wilayah pelayanan KAMS, yakni Romo Albert, Pr. untuk Sulawesi Selatan; Romo John Salama, Pr. untuk Sulawesi Tenggara; dan Romo Anselmus Sengga, CMF untuk Sulawesi Barat.

Sementara itu, Ketua Dewan Karya Pastoral OCI Wilayah KAMS dipercayakan kepada Marsekal Pertama TNI Vincentius Endy Hadi Putra, M. Han., Komandan Lanud Sultan Hasanuddin. Kehadiran struktur pastoral ini menandai semakin nyata dan terorganisasinya pelayanan Gereja bagi umat Katolik yang mengabdi di lingkungan TNI dan Polri di wilayah KAMS.

Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Yesus harus menjadi sumber inspirasi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Bagi umat Katolik yang mengabdi sebagai prajurit TNI dan anggota Polri, iman tidak berhenti di altar. Iman menemukan wujudnya dalam disiplin, integritas, tanggung jawab, pelayanan, dan kesetiaan kepada bangsa.

Di sinilah peran OCI menemukan maknanya. Pastoral OCI bukan sekadar menjaga kehidupan rohani, tetapi hadir mendampingi pribadi dan keluarga, menguatkan nilai kebangsaan, serta menolong umat menghayati iman di tengah tuntutan pengabdian kepada negara.

Karena itu, kunjungan dilanjutkan dengan silaturahmi bersama Kapolda Sulawesi Selatan, Pangkodau II Sultan Hasanuddin, Dankosek II, serta jajaran TNI-Polri lainnya. Perjumpaan tersebut menegaskan karakter khas OCI: pastoral yang berjalan di tengah realitas kedinasan, sekaligus berjejaring dengan Gereja lokal.

Dalam ramah tamah di Keuskupan Agung Makassar, Kardinal Suharyo kembali mengingatkan warisan Gereja Indonesia melalui keteladanan para misionaris, khususnya Romo Frans van Lith, SJ. Cinta kepada Gereja dan cinta kepada tanah air bukan dua jalan yang berlawanan. Keduanya dapat tumbuh dari sumber iman yang sama.

Pesan itu menjadi semakin relevan bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri. Iman dipanggil hadir dalam ruang pengabdian: membangun pribadi yang tangguh, keluarga yang kokoh, semangat kebangsaan yang dewasa, serta kehidupan bersama yang menghargai martabat manusia.

Pada akhirnya, kunjungan pastoral ini bukan terutama tentang banyaknya tempat yang didatangi atau pejabat yang ditemui. Ia berbicara tentang kehadiran Gereja di tengah mereka yang mengemban tugas menjaga negeri—menjadi sahabat dalam pergulatan rohani, pendamping bagi keluarga, penguat nilai kebangsaan, sekaligus jembatan Gereja dengan kehidupan bangsa.

Sebab iman yang hidup tidak berhenti pada kata-kata. Ia harus menjelma menjadi pengabdian yang menghadirkan Indonesia yang aman, adil, bersatu, dan berkeadaban.

 

Komentar