Menyelam 27 Meter Mengejar Kepastian Korban KM Virgo
ASKARA - Laut Jawa menyimpan persoalan yang tak terlihat dari permukaan. Di kedalaman sekitar 27 meter, penyelam gabungan bekerja di sekitar bangkai KM Virgo Transport 8 yang posisinya masih labil. Waktu di bawah air terbatas, akses ke bagian dalam berisiko, sementara puluhan korban masih dicari. Setiap penyelaman bukan sekadar keberanian, melainkan perhitungan keselamatan dan kemanusiaan. Keputusan harus terus diambil dalam hitungan menit.
Operasi SAR memasuki fase paling rumit ketika pencarian bergeser ke badan kapal. iNews.id, 28 September 2026, melaporkan penyelam hanya dapat berada di dalam air maksimal sekitar 20 menit pada kedalaman 27 meter karena kondisi gas density. Angka itu bukan batas universal penyelaman, melainkan kondisi operasional yang dijelaskan pejabat Basarnas dalam kasus ini.
Risiko bertambah karena bangkai kapal masih mengalami perubahan trim atau derajat kemiringan. ANTARA, 29 September 2026, mengutip Basarnas yang menyebut posisi kapal di dasar laut masih labil sehingga penyelam tidak berani masuk terlalu jauh. Evakuasi diprioritaskan pada jasad yang dapat dijangkau dari sisi luar. Upaya membuka akses, termasuk memecahkan kaca kapal, telah dilakukan untuk menjangkau korban.
Namun bahaya tidak menghentikan pencarian. Pada hari ke-14, tim gabungan menemukan 11 jasad: empat melalui penyelaman di bangkai kapal dan tujuh di Kalimantan Tengah. ANTARA, 26 September 2026, mencatat operasi diperpanjang tujuh hari dan dievaluasi setiap tiga hari.
Pada 28 September, lima jasad kembali ditemukan dari dalam badan kapal. ANTARA, 28 September 2026, melaporkan kelima korban dievakuasi untuk identifikasi. Hingga pukul 18.00 WITA, 179 orang telah ditemukan dari 243 orang dalam manifes: 108 selamat dan 71 meninggal. Sebanyak 64 orang masih dicari.
Angka tersebut membuat operasi memasuki persoalan lebih besar: bagaimana mencari korban tanpa menambah korban baru. Penyelam Basarnas, TNI AL dan potensi SAR lainnya bekerja dalam ruang tidak stabil, dengan waktu terbatas dan akses yang sulit. Tidak memasuki bagian kapal yang terlalu berbahaya bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari disiplin keselamatan operasi.
Karena akses penyelaman memiliki batas, pengangkatan bangkai kapal menjadi penting. ANTARA, 29 September 2026, melaporkan peralatan salvage telah tersedia di Singapura. Pada hari yang sama, Kementerian Perhubungan menegur pihak Protection and Indemnity karena pelaksanaan salvage dinilai lambat.
Di daratan, pekerjaan belum berakhir ketika jasad ditemukan. Identifikasi menjadi tahap berikutnya agar keluarga memperoleh kepastian. Operasi tidak berhenti pada penyelaman: korban harus ditemukan, dievakuasi, diidentifikasi dan diserahkan secara layak.
Tragedi KM Virgo bukan hanya cerita tentang penyelam yang turun 27 meter. Ini tentang batas manusia ketika berhadapan dengan bangkai kapal, kedalaman, ketidakstabilan dan waktu. Keberhasilan tidak hanya diukur dari korban yang ditemukan, tetapi juga keselamatan penyelamat dan upaya mencari 64 orang yang belum ditemukan.

Komentar