Selasa, 29 September 2026 | 21:52
NEWS

Bijak Kelola Sisa Pangan, DLH Merauke dan WWF Ajak Pelajar Selamatkan Bumi

Bijak Kelola Sisa Pangan, DLH Merauke dan WWF Ajak Pelajar Selamatkan Bumi
Para Narasumber talk show yang difasilitasi oleh WWF Indonesia Program Papua foto bersama para peserta (Dok Winona)

ASKARA -  Kebiasaan sederhana seperti mengambil makanan secukupnya dan menghabiskannya ternyata memiliki dampak besar bagi lingkungan. Pesan itu mengemuka dalam talk show “Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi” yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Merauke bersama Yayasan WWF Indonesia di SMP Al Ma’arif, Senin (29/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Kesadaran Bijak Kelola Sampah Makanan di Hari Kesadaran Susut dan Sisa Pangan 2026” tersebut menjadi ruang edukasi bagi generasi muda mengenai pentingnya mengurangi makanan terbuang sekaligus mengelola sampah organik sejak dari sumbernya.

Talk show diikuti 19 sekolah menengah pertama (SMP) serta perwakilan tiga komunitas lingkungan. Kegiatan ini juga menjadi tindak lanjut Training of Trainers (ToT) Sekolah Adiwiyata yang telah dilaksanakan pada 15 September 2026.

Kepala SMP Al Ma’arif Dra. Hasmiyati, Hs membuka kegiatan secara resmi. Sementara sejumlah narasumber dari pemerintah daerah dan WWF-Indonesia memberikan pemahaman mengenai hubungan antara kebiasaan konsumsi, pengelolaan sampah dan perubahan iklim.

Kabid Pengendalian, Perizinan dan Bahasa Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, Untung, S.Pd, menekankan pentingnya sekolah dalam membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini.

“Pembangunan karakter dini anak perlu dibentuk di bangku sekolah. Bangun kebiasaan melalui sekolah, edukasi. Selain itu, kita juga dorong perilaku hidup bersih dan sehat. Anak perlu melihat dulu lingkungan sekitarnya sudah bersih dan sehat atau belum,” tegas Untung.

Menurutnya, kebiasaan mengelola lingkungan tidak cukup hanya disampaikan sebagai teori. Anak perlu melihat, mempraktikkan dan membangun kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hal senada disampaikan Kabid Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Merauke, Widodo Supriyatno. Ia mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari sumber, termasuk lingkungan sekolah.

“Melalui penerapan praktik pengurangan, pemilahan, dan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah, warga sekolah tidak hanya membangun kebiasaan peduli lingkungan, tetapi juga mendukung penerapan indikator Sekolah Adiwiyata di lingkungan sekolah,” tutur Widodo.

Ia menambahkan, pembagian peran masing-masing pihak perlu diperkuat melalui penyadartahuan agar pengelolaan sampah menjadi kebiasaan bersama.

Sementara itu, Dony Kristiawan, Waste Management Specialist WWF-Indonesia Program Papua, memaparkan hasil kajian mengenai timbulan sampah makanan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke.

Menurut Dony, persoalan sampah makanan bukan hanya mengenai makanan yang terbuang, tetapi juga sumber daya yang ikut terbuang dalam proses produksi, distribusi hingga konsumsi.

Sisa makanan yang tidak dikelola dengan baik juga dapat menimbulkan persoalan lingkungan. Ketika sampah organik terurai tanpa oksigen di tempat pembuangan akhir, proses tersebut dapat menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

“Perubahan dalam pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumber. Melalui kolaborasi dan kegiatan kampanye seperti ini, kita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kesadaran dan kebiasaan baru di masyarakat agar sampah, termasuk sisa pangan, dapat dikurangi dan dikelola sejak dari sumbernya,” ujar Dony.

Talk show tersebut sekaligus menjadi momentum untuk melihat sejauh mana sekolah-sekolah Adiwiyata menerapkan materi yang diperoleh melalui ToT. Implementasinya antara lain melalui edukasi, sosialisasi serta penyebarluasan pesan mengenai susut dan sisa pangan melalui media sosial sekolah.

Paparan mengenai pengelolaan sampah makanan juga diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Siswa, guru, pengelola kantin, keluarga dan komunitas didorong menjadi bagian dari gerakan mengurangi makanan terbuang.

Papua Selatan Landscape Leader WWF-Indonesia William Iwanggin mengatakan perubahan kebiasaan membutuhkan kolaborasi dan komitmen jangka panjang.

“Komitmen kerja sama ini harapannya dapat dibawa sebagai penguatan kolaborasi hingga 2030. Tentunya ini juga komitmen dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Merauke, khususnya pendampingan Sekolah Adiwiyata,” kata William.

Ia berharap pendampingan tersebut dapat melahirkan sekolah sebagai penggerak perubahan, termasuk dalam menghadapi perubahan iklim melalui upaya mengurangi emisi metana.

“Pastinya, dengan komitmen pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat, praktik baik dari Merauke dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah lain,” ujarnya.

Bagi Merauke, pesan yang dibawa dalam kegiatan tersebut sesungguhnya sederhana: ambil secukupnya, habiskan, dan kelola sisanya dengan bijak.

Sebab, makanan yang diselamatkan bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menjaga sumber daya dan membantu menjaga bumi untuk generasi berikutnya.

 

Komentar