90 Gempa Hybrid Terekam, Merapi Kembali Luncurkan Awan Panas Sejauh 2 Kilometer
ASKARA - Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan adanya suplai magma yang berlangsung. Pada Sabtu (26/9/2026), teramati satu kali awan panas guguran (APG) dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter ke arah Kali Boyong.
Selain awan panas, aktivitas guguran lava juga masih terjadi. Pemantauan mencatat dua kali guguran lava ke arah yang sama, yakni Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter.
Aktivitas kegempaan Merapi sepanjang periode pengamatan turut menunjukkan dinamika vulkanik yang masih berlangsung.
Tercatat satu kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 129,64 detik.
Selain itu, terjadi 64 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–34 milimeter dan durasi 28,66–200,42 detik.
Aktivitas lainnya berupa 90 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–43 milimeter. Gempa tersebut memiliki nilai S-P 0,3–0,9 detik dan durasi 10,18–49,77 detik.
Pemantauan juga mencatat satu kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 2 milimeter dan durasi 22,81 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 5–12 milimeter dan durasi 56,48–120,54 detik.
Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Merapi yang masih menunjukkan adanya suplai magma. Kondisi itu dinilai dapat memicu terjadinya awan panas guguran di wilayah yang masuk zona potensi bahaya.
Masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya. Ancaman guguran lava dan awan panas terutama berada pada sektor selatan-barat daya, meliputi alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng hingga maksimal 7 kilometer.
Sementara pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain bahaya awan panas dan guguran lava, lontaran material vulkanik juga perlu diwaspadai. Jika terjadi letusan eksplosif, material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar dan awan panas guguran, khususnya ketika hujan terjadi di sekitar Gunung Merapi.
Gangguan akibat abu vulkanik dari aktivitas erupsi juga perlu diantisipasi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Pemantauan aktivitas Merapi terus dilakukan. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
Untuk saat ini, masyarakat diminta mengikuti informasi resmi terkait perkembangan Gunung Merapi dan tidak memasuki wilayah yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

Komentar