Bosan dengan Cara Belajar Lama? Mahasiswa Undip Ubah Suasana Kelas di Kebondowo
ASKARA - Apa jadinya jika ruang kelas di desa mulai diperkaya dengan teknologi digital, tetapi tetap mengutamakan cara belajar yang ramah anak?
Pertanyaan itu coba dijawab Tim EduTech Sustainable Development Goals (SDGs) BEM Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) melalui program “Sistem Pembelajaran Terpadu SD Negeri Kebondowo 3” di Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Program yang dilaksanakan pada Juli 2026 tersebut tidak sekadar menghadirkan perangkat digital ke sekolah. Tim EduTech mengintegrasikan Smart Digital Classroom, media pembelajaran visual-interaktif, literasi digital, hingga pendekatan pembelajaran ramah anak.
Gagasan tersebut berangkat dari hasil observasi tim terhadap kondisi pembelajaran di SD Negeri Kebondowo 3. Dari 47 siswa aktif, tingkat kehadiran harian disebut berada di kisaran 70–75 persen. Pembelajaran masih banyak menggunakan metode konvensional, sementara pemanfaatan perangkat dan media digital di ruang kelas belum optimal.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri. Sebagian siswa disebut mudah merasa bosan dan membutuhkan media visual maupun praktik langsung agar lebih mudah memahami materi.
Tim EduTech kemudian menghadirkan perangkat Smart Digital Classroom berupa proyektor, speaker aktif, serta perangkat penghubung dengan telepon genggam atau laptop guru.
Namun, teknologi bukan menjadi satu-satunya fokus. Tim juga menyiapkan bank media ajar visual-interaktif berbasis kurikulum, modul literasi digital, video tutorial, serta standar operasional penggunaan perangkat.
Para guru mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar perangkat tersebut dapat digunakan secara mandiri. Materi pembelajaran dapat dikembangkan melalui animasi, simulasi, video edukatif hingga aplikasi pembelajaran.
“Melalui program EduTech, kami ingin membantu guru tidak hanya mampu mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga menggunakannya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, aman, dan ramah anak,” ujar Ketua Tim EduTech, Isra Nur ‘Aini.
Mahasiswa Teknik Sipil Undip itu berharap fasilitas yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan perangkat, tetapi dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan oleh sekolah untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa.
Program tersebut juga memperluas perhatian pada aspek pendidikan karakter. Materinya mencakup pencegahan perundungan, pembiasaan hidup bersih dan sehat, edukasi sosial serta lingkungan.
Untuk memperkuat pendekatan tersebut, Tim EduTech menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Semarang sebagai mitra. Kolaborasi diarahkan untuk mendukung edukasi kesehatan, keselamatan, nilai-nilai kemanusiaan, serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Program ini diketuai Isra Nur ‘Aini dengan pendampingan Muhammad Mujiya Ulkhaq, S.T., M.Sc., Ph.D., dosen Teknik Industri Fakultas Teknik Undip.
Pelaksanaannya melibatkan BEM FT Undip, Universitas Diponegoro, SD Negeri Kebondowo 3, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, serta PMI Kabupaten Semarang.
Bagi Tim EduTech, kehadiran teknologi di sekolah bukan sekadar soal memasukkan perangkat digital ke dalam ruang kelas. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi benar-benar menjadi alat yang membantu guru dan membuat siswa lebih mudah memahami pelajaran.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa terhadap sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain pendidikan berkualitas, kesehatan dan kesejahteraan, inovasi dan infrastruktur, pengurangan kesenjangan, aksi terhadap perubahan iklim, hingga penguatan kemitraan.
Dari sebuah sekolah dasar di Kebondowo, Tim EduTech BEM FT Undip mencoba menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran dapat dimulai dari langkah sederhana, membuat ruang kelas lebih interaktif, guru lebih siap menggunakan teknologi, dan anak-anak memiliki pengalaman belajar yang lebih menarik.

Komentar