Profesor Gatot Soegiarto Ketum Baru Peralmuni
ASKARA – Prof. Dr. dr. Gatot Soegiarto, SpP.D.,Subsp. A.I.(K), FINASIM menjadi Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (PERALMUNI) periode tahun 2026-2029 dalam acara 11th National Conggres Indonesian Society of Allergy and Immunology dan PIT PERALMUNI Immunofestival 2026 dengan tema Unity in Diversity di Harris Hotel & Convention, Denpasar, Bali yang diselenggarakan pada 18-19 September.
“Saya berterima kasih atas kepercayaan teman-teman di PERALMUNI atas jabatan baru ini. Kenapa saya mau menerima tanggung jawab ini karena saya hanya sebagai petugas yang harus melanjutkan perjuangan. Saya akan melanjutkan dan mempertahankan apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh ketua umum sebelumnya, dan menggapai beberapa target yang mungkin belum tercapai dan masih harus diperjuangkan bersama,” kata Prof. Gatot yang merupakan Konsultan Alergi Imunologi Klinik di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Menurutnya, penderita penyakit alergi dan imunologi, termasuk penderita penyakit autoimun itu seperti fenomena gunung es, dimana yang muncul di permukaan itu hanya sedikit (walaupun dari waktu ke waktu tampak bertambah banyak). Yang berada di bawah permukaan itu jauh lebih banyak karena banyak faktor: underdiagnosis karena tidak dipahami sebagai penyakit imunologis, banyak yang didiagnosis sebagai penyakit kategori lain, banyak yang belum dan tidak mau berobat karena mengkhawatirkan adanya stigma. “Kemungkinan orang tidak mau diekspos karena adanya segala macam stigma di tempat kerja dan sebagainya. Bagi kami para dokter yang bekerja di bidang alergi dan imunologi, selain kami ingin para sejawat lebih memahami penyakit yang masih terus berkembang ini, kami juga ingin memberikan pelayanan dengan kualitas yang lebih baik, lebih memuaskan, dan manusiawi kepada para penyintas penyakit autoimun. Di sisi lain kami juga ingin menghindari adanya overdiagnosis penyakit autoimun.” jelas mantan pejabat Kepala Divisi Alergi-Imunologi Klinis Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.
Prof. Gatot lebih lanjut menjelaskan bahwa selain faktor genetik, faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab semakin banyaknya penyakit autoimun di Indonesia dan negara-negara lain. Faktor genetik bisa menjadi dasar adanya kerentanan, namun kondisi lingkungan yang tidak sehat: seperti pemanasan global, perubahan iklim, polusi udara, lingkungan pro-inflamatorik, pola perilaku tertentu (kepribadian tipe A, stress, kurang tidur) dan konsumsi makanan yang pro-inflamatorik, termasuk penggunaan antibiotika yang tidak tepat juga bisa menjadi pendorong munculnya manifestasi penyakitnya.
Prof. DR. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia periode 2019-2023 dan 2023-2026 berharap PERALMUNI akan semakin maju di bawah kepemimpinan yang baru ini.
“Memimpin PERALMUNI selama dua periode merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami kerjakan bersama untuk terus meningkatkan pengobatan autoimun. Saya berharap PERALMUNI terus maju ke depannya di bawah kepemimpinan Prof. Gatot,” kata Prof. Iris.
Selain memilih ketua umum yang baru, KONAS PERALMUNI yang diselenggarakan bersamaan dengan PIT Imunofestival ini juga menggelar sembilan sesi simposium untuk memberikan pemahaman dan informasi terbaru tentang berbagai hal yang berhubungan dengan alergi dan imunologi.
“Dengan diselenggarakannya acara ini kami harap para dokter bidang alergi imunologi dan para dokter bidang lain yang ikut hadir dapat mendapatkan update ilmu sesuai dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi saat ini,” kata Prof. Iris Rengganis
Acara ini dihadiri 150 para dokter spesialis dari berbagai provinsi di Indonesia. Dalam kegiatan ini hadir para nara sumber yang merupakan dokter ahli dari dalam dan luar negeri, termasuk Prof. dr. Roy Gerth van Wijk, Professor of Allergology Section of Internal Medicine Erasmus MC Rotterdam, The Netherlands yang hadir secara langsung.
Dalam acara ini, Prof. Iris juga menjadi salah satu pembicara dengan tema Peran Vitamin D. “Indonesia merupakan negara tropis, dimana secara teori seharusnya cukup mendapatkan vitamin D dari sinar matahari. Tapi, faktanya banyak yang tubuhnya kekurangan vitamin D. Salah satu penyebabnya antara lain adalah tidak mau berjemur di matahari dan memakai sunscreen sehingga sinar UV yang bermanfaat malah tidak bisa masuk,” jelasnya. Ada tiga sumber vitamin D, yaitu sinar matahari khususnya UV B, makanan, dan suplemen.
Vitamin D sangat dibutuhkan seluruh organ tubuh. Defisiensi vitamin D menyebabkan banyak penyakit, termasuk autoimun. Penyintas autoimun yang kekurangan vitamin D biasanya akan lebih rentan mengalami kekambuhan dibandingkan dengan pasien yang memiliki cukup vitamin D.
PERALMUNI didirikan pada tahun 1977 oleh Prof. DR. dr Karnen Garna Baratawidjaja, Sp.PD, K-AI, FINASIM, FAAAAI. Selama ini PERALMUNI bernaung di bawah Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), namun untuk memperluas cakupan dan jangkauan, karena penyakit alergi dan imunologi melibatkan keahlian multidisipliner, dimulailah proses panjang untuk menjadi organisasi seminat dibawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Setelah melalui perjuangan tidak kenal lelah dari para pengurus PERALMUNI pada saat itu dan juga bantuan dari IDI dan PAPDI, maka melalui proses Muktamar IDI di Samarinda (23-28 Oktober 2018) ditetapkanlah PERALMUNI menjadi organisasi seminat di bawah IDI. Proses kemudian dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus Pusat PERALMUNI yang pertama kali dilakukan di Jakarta tanggal 24 Februari 2019.

Komentar