Malam Jumat Kliwon di Gunung Padang, Menunduk dalam Cahaya Purnama
ASKARA - Kamis malam, 24 September 2026, menjadi Malam Jumat Kliwon, sebuah malam yang dalam tradisi Jawa kerap dimaknai sebagai waktu untuk hening, berdoa dan melakukan perenungan.
Nuansa itu terasa semakin kuat di Gunung Padang, ketika Bulan sedang bergerak menuju purnama. Secara astronomis, purnama mencapai puncaknya pada 26 September. Namun sejak malam 24 September, cahaya Bulan sudah tampak terang dan hampir penuh, menerangi jejak batu yang telah bertahan melewati perjalanan panjang generasi manusia.
Di tengah keheningan itu, Gunung Padang dapat menjadi ruang untuk kembali menundukkan hati. Bukan untuk menyembah batu atau mengultuskan leluhur, melainkan menjadikan alam dan peninggalan masa lalu sebagai pengingat akan kebesaran Tuhan.
Batu bukan Tuhan. Leluhur bukan Tuhan. Tuhanlah Sang Pencipta.
Leluhur cukup dihormati melalui doa dan dengan menjaga apa yang diwariskan: tanah, hutan, air, budaya dan kehidupan. Sebab menghormati leluhur bukan hanya mengingat mereka, tetapi juga memastikan warisan itu tidak rusak di tangan generasi sekarang.
Di sinilah makna tobat ekologis menemukan tempatnya. Manusia diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar sumber yang boleh diambil, tetapi titipan yang harus dirawat.
Malam Jumat Kliwon di Gunung Padang akhirnya bukan tentang ketakutan terhadap sesuatu yang gaib. Ia tentang keheningan untuk mendengar suara hati, bersyukur kepada Tuhan, mengingat leluhur dan memperbaiki hubungan manusia dengan alam.
Ketika cahaya Bulan semakin penuh menerangi Gunung Padang, semoga bukan hanya batu-batu tua yang terlihat lebih jelas.
Semoga hati manusia juga ikut diterangi.

Komentar