Uskup Amboina Titip Pesan Moral kepada Ketua Presidium PMKRI
ASKARA - Ada pesan yang lebih panjang umurnya daripada sebuah jabatan. Pesan itu adalah amanah. Hal tersebut terasa dalam pertemuan Mandataris MPA XXX/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028, Christian A D Rettob, dengan Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, di Rumah Keuskupan Amboina, Kamis (27/8/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana dialog dan kekeluargaan. Christian menyampaikan sejumlah pandangan mengenai arah perjalanan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke depan, termasuk komitmen untuk menjadikan organisasi sebagai ruang kaderisasi yang tetap independen sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa.
"PMKRI akan dikelola sebaik-baiknya dengan setulus hati. Kami ingin menjadikan perhimpunan ini sebagai oase pembinaan setiap anggota agar menjadi intelektual yang beriman, berintegritas, dan berpihak kepada kaum marjinal," ujar Christian.
Menurutnya, PMKRI juga akan terus membangun kemitraan strategis sekaligus kritis dengan berbagai pihak, termasuk Gereja, pemerintah, serta lembaga-lembaga lainnya. Kemitraan tersebut diperlukan agar kader PMKRI tidak hanya tumbuh secara intelektual, tetapi juga mampu mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menanggapi hal tersebut, Mgr. Seno Ngutra memberikan apresiasi atas terselenggaranya Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, seluruh proses organisasi yang telah dilalui merupakan momentum penting untuk memperkuat kebersamaan di antara kader PMKRI.
"Proses yang diselenggarakan dengan hasil yang optimal. Agenda kongres menjadi momentum memperkuat kebersamaan antar-adik-adik anggota PMKRI. Kita semua berharap prosesi pelantikan pengurus dapat berjalan lancar sesuai rencana," ujar Bapa Uskup.
Namun, di balik apresiasi tersebut, Mgr. Seno menitipkan pesan penting kepada jajaran kepengurusan baru. Menurutnya, mereka yang menerima amanah untuk memimpin dan melayani organisasi harus memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang duduk di sebuah posisi, melainkan juga menyangkut tanggung jawab terhadap konstitusi organisasi.
Ia mengingatkan pentingnya memastikan status legalitas kepengurusan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Kejelasan tersebut menjadi fondasi agar setiap langkah organisasi memiliki legitimasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kepemimpinan dan langkah-langkah organisasi membutuhkan karakter kader yang peka dan bermental dewasa. Yang ditugaskan pun harus sesuai dengan konstitusi organisasi," tegas Mgr. Seno, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Pesan Uskup kemudian bergerak lebih jauh, dari persoalan organisasi menuju tanggung jawab kebangsaan. Sebagai organisasi yang menghimpun mahasiswa Katolik, PMKRI dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga persatuan, baik dalam kehidupan menggereja maupun kehidupan bernegara.
Mgr. Seno mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial merupakan kenyataan yang harus diterima dan dirawat bersama, bukan dijadikan alasan untuk saling menjauh.
"Bangsa ini memiliki masyarakat yang multikultural. PMKRI harus menyikapi keanekaragaman sebagai sebuah perbedaan dengan tetap berpegang teguh pada jiwa kekatolikannya," pesan Mgr. Seno.
Pesan tersebut menjadi bekal moral bagi Christian A D Rettob bersama jajaran kepengurusan baru PP PMKRI. Tantangan kepemimpinan ke depan tidak hanya bagaimana menjalankan roda organisasi, tetapi juga memastikan PMKRI tetap menjadi rumah kaderisasi yang melahirkan kaum intelektual muda yang memiliki iman, integritas, keberanian berpikir kritis, serta keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.
Christian A D Rettob sendiri terpilih secara aklamasi dalam Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI yang berlangsung di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada 19–28 Juli 2026.
Kini, setelah proses kongres dan MPA berakhir, amanah baru telah berada di pundaknya. Pertemuan dengan Uskup Amboina menjadi salah satu pengingat bahwa kepemimpinan PMKRI bukan semata tentang menjalankan program kerja, melainkan tentang menjaga nilai, merawat persatuan, dan memastikan kaderisasi tetap melahirkan generasi muda yang mampu memberi arti bagi Gereja dan Indonesia.

Komentar