Shifa Damayanti Toreh Sejarah, Perempuan Pertama Hike and Fly Gamalama-Gamkonora
ASKARA - Langit Maluku Utara menjadi saksi pencapaian bersejarah Shifa Damayanti, pilot paralayang dari Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), dalam ekspedisi Fly the Spice Islands.
Shifa, anggota Mapala UI dengan nomor M-1087-UI, tercatat sebagai perempuan pertama yang berhasil melakukan hike and fly di Gunung Gamalama dan Gunung Gamkonora. Hike and fly merupakan aktivitas mendaki gunung kemudian terbang menggunakan parasut paralayang untuk menuruni gunung.
Shifa yang saat ini merupakan mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan UI dan telah mengantongi lisensi pilot paralayang tingkat pertama sejak 2023, memulai petualangannya di Gunung Gamalama.
Pada Jumat, 7 Agustus 2026, tim memulai pendakian melalui jalur Moya. Sehari kemudian, Shifa mencoba melakukan penerbangan dari puncak Gamalama. Setelah percobaan pertama belum berhasil, ia akhirnya berhasil mengudara sekitar pukul 15.00 WIT.
Namun, penerbangan tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Menjelang pendaratan di Pantai Danau Tolire Kecil yang telah ditentukan sebagai landing zone, kecepatan angin meningkat hingga lebih dari 30 kilometer per jam dari arah barat-selatan.
Kondisi tersebut membuat Shifa harus mengambil keputusan cepat. Ia mengubah arah penerbangan dan memilih melakukan pendaratan darurat di daratan sekitar satu kilometer dari titik pendaratan yang direncanakan. Pendaratan berlangsung selamat dan disambut antusias masyarakat setempat.
Gamkonora Kembali Hadirkan Tantangan
Beberapa hari kemudian, ekspedisi berlanjut menuju Gunung Gamkonora. Pada Rabu, 12 Agustus 2026, tim melakukan pendakian melalui jalur Desa Gamsungi untuk menuju titik lepas landas.
Kamis, 13 Agustus 2026, menjadi salah satu momen paling menentukan. Warga Desa Talaga sejak pagi memadati area landing zone karena penasaran menyaksikan penerbangan paralayang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Antusiasme warga bahkan membuat kegiatan tersebut diumumkan melalui pengeras suara masjid desa sehingga masyarakat dari berbagai penjuru Desa Talaga mengetahui aksi penerbangan tim Mapala UI.
Setelah dua kali percobaan lepas landas, Shifa akhirnya mengudara pada pukul 14.47 WIT. Kembali, tantangan muncul menjelang pendaratan. Kecepatan angin di landing zone mencapai 30–40 kilometer per jam dari arah selatan-barat.
Kondisi tersebut membuat Shifa tidak dapat mendarat di lapangan bola desa sebagaimana rencana awal. Dengan cepat ia kembali membaca kondisi angin dan mengambil keputusan untuk mengubah arah penerbangan.
Pendaratan darurat akhirnya berlangsung mulus tepat di depan kantor kecamatan setempat. Begitu Shifa menyentuh tanah, sorak-sorai warga langsung pecah.
Sejumlah ibu bahkan terlihat memeluk dan mencium Shifa sebagai bentuk kegembiraan dan haru. Momen tersebut direkam warga dan kemudian menyebar luas melalui media sosial hingga viral dalam waktu singkat.
Zita Anjani: Perempuan Punya Ruang yang Sama
Keberhasilan Shifa mendapat perhatian Zita Anjani, Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata. Zita menilai ekspedisi Fly the Spice Islands menunjukkan bagaimana pemerintah, anak muda dan komunitas dapat berkolaborasi untuk memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia.
“Bagi saya, Ekspedisi Fly the Spice Islands di Maluku Utara merupakan contoh bagaimana pemerintah dapat berjalan bersama anak muda dan komunitas untuk mengeksplorasi sekaligus memperkenalkan kekayaan pariwisata Indonesia,” ujar Zita.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap pencapaian Shifa sebagai perempuan pertama yang melakukan penerbangan tersebut di Maluku Utara.
“Saya juga mengapresiasi pencapaian penerbangan perempuan pertama di Maluku Utara sebagai langkah inspiratif yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berani mengeksplorasi dan membuka potensi baru dalam pariwisata Indonesia,” katanya.
Menurut Zita, ekspedisi tersebut diharapkan menjadi awal bagi semakin banyak kegiatan eksplorasi dan kolaborasi di Maluku Utara, sekaligus mendorong generasi muda mengenal kekayaan alam Indonesia secara lebih dekat.
“Karena semakin banyak yang mengenal, semakin banyak pula yang dapat ikut menjaga dan mengembangkan potensi yang kita miliki,” tuturnya.
Pencapaian Shifa tidak hanya menjadi catatan baru bagi olahraga paralayang dan aktivitas hike and fly. Ekspedisi tersebut juga membuka perspektif baru mengenai potensi wisata petualangan dan pariwisata udara di Maluku Utara.
Dari puncak Gamalama hingga Gamkonora, Shifa membuktikan bahwa keberanian, keterampilan membaca alam dan ketepatan mengambil keputusan dapat membuka langit baru bagi perempuan Indonesia.

Komentar