Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara Bahas Masa Depan Wirausaha
ASKARA – Universitas Paramadina mempertemukan akademisi, pendidik, praktisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa dari Indonesia, Inggris, serta Vietnam dalam International Forum for Entrepreneurship Educators (IFE) 2026 yang digelar beberapa waktu lalu.
Forum internasional bertema “Glocalizing Entrepreneurship Education: Cultivating Mindsets for a Sustainable Future” tersebut membahas perubahan paradigma pendidikan kewirausahaan di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan dinamika dunia usaha yang semakin cepat.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan pendidikan kewirausahaan tidak cukup hanya mengajarkan teori bisnis. Perguruan tinggi perlu memberikan pengalaman nyata agar mahasiswa berani mencoba, berinovasi, mengambil peluang, serta mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Menurut Didik, jejaring internasional yang terbentuk melalui forum tersebut juga harus menghasilkan kolaborasi berkelanjutan. Bentuknya antara lain riset bersama, pertukaran dosen, publikasi ilmiah, hingga berbagai program akademik lintas negara.
Keynote speaker dari Glasgow Caledonian University, Dr. Vasilios Stouraitis, menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam pendidikan kewirausahaan. Ia membedakan entrepreneurship education dengan entrepreneurial education yang cakupannya lebih luas.
Pendekatan tersebut tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan mendirikan bisnis, tetapi juga membangun kemampuan menghadapi ketidakpastian, mengenali peluang, bereksperimen, membangun resiliensi, dan menciptakan nilai secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Prof. Dr. Gancar C. Premanto dari Universitas Airlangga memperkenalkan konsep Holistic Entrepreneur Ecosystem. Model tersebut mencakup empat subsistem, yakni sistem pembelajaran, ekosistem kemitraan, fasilitas pendukung, serta pengukuran hasil.
Konsep tersebut mendorong perguruan tinggi mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek, mentoring alumni, keterlibatan praktisi, pemanfaatan platform digital, konsultasi bisnis, hingga kompetisi kewirausahaan tingkat nasional dan internasional.
AI Tak Menggantikan Nilai Manusia
Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu pembahasan penting dalam IFE 2026. Dr. Angelina Nath Hanh Le dari University of Economics Ho Chi Minh City (UEH), Vietnam, mengaitkan perkembangan pendidikan kewirausahaan dengan transformasi pemasaran hingga konsep Marketing 7.0.
Menurutnya, ketika AI mampu menghasilkan berbagai konten secara cepat dan sempurna, nilai-nilai manusia seperti empati, autentisitas dan storytelling justru semakin penting.
“Something real, something imperfect, is more important than something that looks very perfect,” ujarnya.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa teknologi semestinya menjadi alat untuk memperkuat kreativitas dan kemampuan manusia, bukan menghilangkan karakter manusia dalam membangun bisnis.
Dari Universitas Paramadina, Adrian Azhar Wijanarko, MM, mengangkat persoalan akses pembiayaan yang masih menjadi tantangan bagi UMKM. Menurutnya, persoalan tersebut tidak selalu berkaitan dengan minimnya dana, tetapi juga menyangkut bankability pelaku usaha.
Sebagian UMKM masih menghadapi kendala berupa keterbatasan agunan, riwayat kredit, serta pencatatan keuangan yang belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, integrasi data dinilai penting untuk memperkuat akses pembiayaan dan inklusi keuangan UMKM.
Luncurkan Kelompok Riset Internasional
IFE 2026 juga menjadi momentum peluncuran International Research Group for Entrepreneurship & SME (IRGESME) yang diketuai Dr. Iyus Wiadi.
Kelompok riset tersebut akan menjadi wadah pengembangan penelitian dan kolaborasi internasional di bidang kewirausahaan dan UMKM. Agenda yang disiapkan mencakup riset bersama, publikasi ilmiah, pengajuan hibah, proyek buku, serta kerja sama akademik lintas negara.
Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menekankan pentingnya pendidikan kewirausahaan yang berorientasi pada tindakan.
Prinsip “Think global, act local” dinilai relevan untuk membentuk entrepreneur yang mampu membaca perubahan global sekaligus memahami kebutuhan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Sandiaga juga mendorong pemanfaatan AI dan robotika untuk mempercepat kreativitas, inovasi, dan pengembangan bisnis. Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kemampuan manusia.
Sementara itu, Ibnu Riyanto, Founder dan CEO Trusmi Group, menilai jejaring merupakan salah satu modal penting dalam pengembangan bisnis.
“Memperluas network adalah salah satu strategi penting dalam membangun bisnis. Semakin luas kita berjejaring, semakin banyak kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan menemukan peluang baru,” ujarnya.
Rangkaian pembahasan IFE 2026 memperlihatkan bahwa pendidikan kewirausahaan kini bergerak jauh melampaui kemampuan mendirikan perusahaan. Kewirausahaan semakin dipandang sebagai mindset untuk menghadapi perubahan, membaca peluang, mengelola risiko, dan menciptakan nilai.
Melalui forum tersebut, Universitas Paramadina mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan kewirausahaan yang lebih interdisipliner, berbasis pengalaman, terhubung dengan industri dan masyarakat, serta mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah era AI, pesan utama forum ini justru sederhana: semakin canggih teknologi, semakin penting manusia memiliki keberanian, kreativitas, empati, autentisitas, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Komentar