Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:06
NEWS

Petani Marind Tetap Jibaku Rawat Padi di Tengah Kemarau El Nino

Petani Marind Tetap Jibaku Rawat Padi di Tengah Kemarau El Nino
Petani Marind tetap merawat padi di tengah kemarau El Nino (Dok JGG)

ASKARA - Semangat petani Marind di Padepokan Wasur II, Merauke, untuk mempertahankan tanaman padi hingga masa panen terus diuji di tengah suasana kemarau dan ancaman El Nino. Keterbatasan air tidak menyurutkan tekad para penggiat tani untuk merawat tanaman yang telah mereka tanam.

Tokoh masyarakat Papua Selatan, John Gluba Gebze (JGG), menyampaikan kondisi tersebut melalui keterangannya, Minggu (23/8/2026). Ia menggambarkan bagaimana para petani Marind mengerahkan seluruh ketangguhan dan kemampuan yang dimiliki untuk menjaga tanaman padi tetap tumbuh di tengah kondisi kekeringan.

"Di tengah kekurangan air, seluruh jibaku ketangguhan dikerahkan para penggiat tani Marind untuk mempertahankan harapannya agar tetap panen nanti dalam kondisi kekeringan ekstrem El Nino sekalipun," ujar John Gluba Gebze.

Menurut JGG, kondisi kemarau menjadi tantangan serius bagi tanaman padi di sawah Padepokan Wasur II. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang harus terus diperhatikan agar tanaman mampu bertahan sampai memasuki masa panen.

Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat para petani menyerah. Dengan segala upaya yang tersedia, mereka tetap eksis merawat tanaman padi. Semangat tersebut menjadi gambaran ketangguhan petani Marind dalam menghadapi tantangan alam sekaligus mempertahankan harapan terhadap hasil pertanian.

"Semangat pantang frustasi, petani Marind tetap eksis merawat tanaman padinya sampai panen nanti," kata JGG.

Bagi John, perjuangan para petani tersebut bukan hanya persoalan mempertahankan tanaman pangan, tetapi juga bagian dari membangun kemandirian masyarakat melalui kerja nyata di bidang pertanian. Sawah yang tetap dirawat di tengah keterbatasan air menjadi simbol bahwa harapan terhadap ketahanan pangan harus terus dijaga.

Ia pun mengaitkan perjuangan tersebut dengan keyakinan dan pesan spiritual yang menjadi landasan semangat para penggiat tani.

"Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan," demikian pesan yang dikutip John dari Amsal 28:19.

Pesan tersebut menjadi penguat bagi para petani untuk tidak mudah menyerah dalam mengolah lahan. Bekerja, merawat tanaman, dan mempertahankan produktivitas lahan dipandang sebagai bagian dari ikhtiar untuk menghasilkan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Padepokan Wasur II sendiri menjadi salah satu lokasi kegiatan pertanian yang selama ini mendapat perhatian dalam pengembangan pertanian di Merauke. Upaya petani Marind mengelola sawah di tengah tantangan iklim menunjukkan bahwa pengembangan pertanian di Papua Selatan membutuhkan ketekunan, dukungan sarana produksi, serta pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.

Di tengah ancaman kekeringan, perjuangan para petani tersebut kini berpacu dengan waktu. Setiap tanaman yang mampu dipertahankan hingga panen menjadi buah dari ketekunan dan kerja keras mereka.

John Gluba Gebze berharap semangat para petani Marind tidak padam. Menurutnya, selama masih ada kemauan untuk mengolah tanah dan merawat tanaman, harapan untuk menghasilkan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tetap terbuka.

"Pantang frustasi. Tanah dikerjakan, tanaman dirawat, dan harapan panen tetap dipertahankan," demikian semangat yang tercermin dari perjuangan para petani Marind di Padepokan Wasur II Merauke.

 

Komentar