17 Agustus 2026 di Gedung Sate
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Tahun ini upacara 17 Agustus di Gedung Sate, Bandung beda. Panasnya sama, pidatonya sama, tapi tenda VVIP-nya yang bikin heboh. Gubernur Jabar KDM — Kang Dedi Mulyadi — tahun ini mutusin "VVIP itu singkatan dari: Very Very Intinya Pejuang". Maka yang duduk di barisan paling depan, beralaskan karpet merah, bukan pejabat, bukan artis, bukan konglomerat, bukan oligarki.
Yang duduk di sana:
1. Pak Ujang, buruh pabrik tekstil dari Majalaya. 23 tahun ngelembur. Tangannya kapalan. Tahun ini dia diundang karena anaknya juara robotik tingkat Asia di Seoul.
2. Bu Yayah, petani padi dari Indramayu. 4 musim gagal panen karena banjir, musim ke-5 panennya tembus 8 ton. Dia datang pakai kebaya pinjaman dari PKK.
3. Mas Dika, abang ojek online dari Bandung. Rating 4.98. 6 tahun hujan-panas nganterin orang. Dia diundang karena sempet nolongin pelajar yang pingsan di jalan dan diantar ke RS gratis.
4. Aira,16 tahun, pelajar SMAN 3 Bandung. 2 bulan lalu bawa pulang medali emas Olimpiade Fisika Internasional. Pas ditanya mau duduk di mana, jawabnya: "Sama bapak ojek online aja Pak, biar bisa ngobrol".
Logikanya sederhana dan nyakitin: kalau selama ini yang kita hormati cuma yang punya kursi jabatan, kapan kita menghormati yang punya kursi roda dorong, kursi motor, dan kursi sekolah plastik? Satirnya di sini. Biasanya VVIP itu singkatan dari "Very, Very Important Person". Di Gedung Sate tahun ini VVIP artinya "Viral karena Very Jujur dan Ikhlas Pagi-sore".
Netizen langsung gaduh. "Itu pencitraan!" kata yang duduk nyaman di ruang ber-AC. "Pencitraan juga butuh tenaga," jawab Pak Ujang sambil ngelap keringat. "Saya 23 tahun keringetan beneran, baru tahun ini dikasih kipas." Bu Yayah pas ditawarin nasi kotak VVIP isinya salmon, dia nolak halus. "Saya bawa nasi liwet dari rumah, Bu. Biar berasa di sawah." Terus dia bagi-bagi ke barisan belakang. Mas Dika disuruh pidato 2 menit. Dia grogi. Isinya cuma: "Saya cuma mau bilang, helm saya bisa dipinjem”. Aira ditanya wartawan: "Gimana rasanya duduk sama orang biasa?" Dia jawab: "Mereka nggak biasa, Mbak. Mereka luar biasa."
Upacara selesai. Bendera naik. Tidak ada yang pingsan. Tidak ada yang ribut rebutan kursi. Yang ada cuma foto: seorang gubernur, seorang buruh, seorang petani, seorang ojol, dan seorang pelajar, sama-sama berteduh di bawah satu tenda. Terpalnya sama, merah-putihnya sama.
Mungkin ini satir paling kejam adalah mempermalukan kita dengan cara memuliakan orang yang selama ini kita sebut "orang kecil". Karena 17 Agustus seharusnya bukan soal siapa di depan dan siapa di belakang. Tapi soal siapa yang selama ini kita lupakan di barisan depan. Dan tahun ini, di Gedung Sate, barisan depan akhirnya pulang kampung.
MERDEKA ! DIRGAHAYU INDONESIA !

Komentar