Selasa, 18 Agustus 2026 | 16:51
NEWS

25 Tahun Menapaki Jalan Imamat, Romo Pungki Tuangkan Kisah Panggilan dalam Sebuah Buku

25 Tahun Menapaki Jalan Imamat, Romo Pungki Tuangkan Kisah Panggilan dalam Sebuah Buku
Pater Leonardus Piter Pungki Setiawan SVD dengan buku berjudul Liku-Liku Perjalanan Panggilanku (Dok Raldy Doy)

ASKARA - Perjalanan 25 tahun sebagai imam Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) dituangkan Pater Leonardus Piter Pungki Setiawan SVD dalam sebuah buku berjudul Liku-Liku Perjalanan Panggilanku.

Buku tersebut diluncurkan bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), di Gedung Karya Pastoral Gereja St. Bartholomeus, Galaxi, Bekasi. Peluncuran buku dihadiri sekitar 200 orang yang datang untuk mengikuti sekaligus merayakan perjalanan panggilan imamat Romo Pungki.

Bagi Romo Pungki, setiap pilihan hidup memiliki cerita yang khas dan unik. Demikian pula keputusan untuk menjadi pastor dan biarawan Katolik. Ada lika-liku, tantangan, kegembiraan, keberhasilan hingga berbagai pengalaman yang membentuk perjalanan seseorang dalam menjalani panggilannya.

Melalui buku setebal 131 halaman tersebut, Romo Pungki membagikan 25 kisah tentang iman, panggilan dan perjalanan hidupnya selama menjalani tugas sebagai imam SVD.

“Allah tidak memanggil orang yang sudah mampu, tetapi memampukan orang yang dipanggil.”

Kalimat tersebut menjadi salah satu refleksi penting yang menggambarkan pengalaman Romo Pungki selama menjalankan karya imamatnya.

Menurutnya, perjalanan selama 25 tahun justru memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan Allah hadir dalam berbagai situasi yang dihadapinya.

“Peran dan penyelenggaraan Allah luar biasa dalam karya imamat saya, bisa dibaca dalam buku ini,” ujar Romo Pungki.

Tiga Fase Perjalanan Panggilan

Liku-Liku Perjalanan Panggilanku mengisahkan tiga fase penting dalam perjalanan hidup Romo Pungki sebagai seorang biarawan dan imam.

Fase pertama adalah masa pendidikan di Seminari, ketika benih panggilan mulai tumbuh dan dibentuk. Fase berikutnya adalah perjalanan sebagai calon imam, dengan berbagai proses pendidikan dan pembinaan sebelum akhirnya menerima tahbisan.

Fase ketiga merupakan pengalaman menjalani karya sebagai imam Serikat Sabda Allah. Pada tahap inilah berbagai pengalaman pastoral, perjumpaan dengan umat, tantangan pelayanan dan dinamika kehidupan imamat menjadi bagian dari perjalanan yang dituangkan dalam buku tersebut.

Buku itu tidak dimaksudkan sekadar menjadi catatan perjalanan pribadi. Romo Pungki berharap kisah yang dibagikannya dapat menjadi bahan refleksi sekaligus memperkaya pengalaman rohani para pembaca.

Lebih jauh, buku tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda yang tengah mempertimbangkan panggilan hidup sebagai biarawan maupun biarawati Katolik.

“Semoga buku ini bisa ikut memotivasi kehadiran Pungki-Pungki muda,” kata Romo Pungki saat mengakhiri acara peluncuran.

Ungkapan tersebut menjadi harapan agar pengalaman 25 tahun perjalanan imamatnya tidak berhenti sebagai kisah masa lalu, tetapi dapat menjadi benih bagi tumbuhnya generasi baru yang berani menjawab panggilan untuk mengabdikan hidupnya bagi Gereja dan masyarakat.

Menariknya, buku Liku-Liku Perjalanan Panggilanku tidak diterbitkan dalam bentuk cetak. Buku setebal 131 halaman tersebut tersedia dalam format digital dan dapat diakses melalui barcode yang disediakan dalam kegiatan peluncuran.

Peluncuran buku pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun memberikan makna tersendiri. Di tengah perayaan kemerdekaan bangsa, Romo Pungki merayakan bentuk kemerdekaan lain: keberanian seseorang memilih dan menjalani jalan hidup yang diyakininya sebagai panggilan Tuhan, dengan segala liku, tantangan dan pengharapan di dalamnya.

Penulis: Raldy Doy

Komentar