Selasa, 11 Agustus 2026 | 02:03
COMMUNITY

Vatican News Soroti Pesan Mgr. Kleden tentang Gereja Asia

Vatican News Soroti Pesan Mgr. Kleden tentang Gereja Asia
Uskup Agung Paul Budi Kleden, SVD, dari Ende, Indonesia (Paul Budi Kleden).

ASKARA Peran Gereja Katolik di Asia mendapat perhatian Vatican News, Senin (10/8/2026) setelah Uskup Agung Ende sekaligus Wakil Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Budi Kleden, SVD, membagikan refleksinya mengenai masa depan Gereja di tengah masyarakat Asia yang plural dan sebagian besar menempatkan umat Katolik sebagai kelompok minoritas.

Dalam wawancara dengan Vatican News setelah berakhirnya Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Jakarta, Mgr. Budi Kleden menegaskan bahwa posisi sebagai minoritas bukan alasan bagi Gereja untuk kehilangan harapan. Justru kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menemukan cara baru dalam memberikan kesaksian iman secara sederhana dan rendah hati.

“Being a minority is not a reason to lose hope and to give up,” ujar Mgr. Kleden. Menurutnya, umat Katolik di Asia justru dipanggil untuk kreatif menemukan cara-cara kecil dan rendah hati dalam menghidupi nilai-nilai Injil di tengah masyarakat.

Ia menggunakan ungkapan “whispering the Gospel” atau “membisikkan Injil” untuk menggambarkan karakter kesaksian Gereja di Asia. Bagi Mgr. Kleden, membisikkan Injil bukan bentuk kelemahan, melainkan cara Gereja Asia memberikan sumbangan khas bagi Gereja universal melalui kesaksian yang tenang, rendah hati dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Refleksi tersebut lahir dari pengalaman mengikuti Sidang Pleno XII FABC di Jakarta. Menurut Mgr. Kleden, perjumpaan dengan para peserta dari berbagai negara Asia memperluas wawasan sekaligus membuka kesadaran bahwa Tuhan bekerja dalam beragam realitas Gereja lokal.

“Every genuine encounter is an opportunity to experience greater things,” katanya. Baginya, mendengarkan pengalaman Gereja-Gereja lokal di Asia membuat hati semakin terbuka dan membantu melihat kehadiran Tuhan di tengah komunitas-komunitas kecil yang hidup sebagai minoritas.

Empat Pertobatan Gereja

Dalam refleksinya mengenai pesan akhir Sidang Pleno FABC, Mgr. Kleden menekankan bahwa sinodalitas tidak berhenti pada perubahan struktur organisasi. Perubahan harus dimulai dari hati, terutama melalui cara para pemimpin Gereja menjalankan kepemimpinan.

Pertama, menurutnya, diperlukan pertobatan menjadi pemimpin yang mau mendengarkan. Mendengarkan tidak hanya ditujukan kepada umat Katolik, tetapi juga kepada pemeluk agama lain, alam, perempuan, anak-anak, kaum muda dan masyarakat miskin.

Kedua adalah pertobatan menuju interkulturalitas. Keragaman budaya Asia menuntut Gereja untuk berani mengoreksi prasangka yang sering membuat seseorang gagal melihat kebaikan dan karya Tuhan dalam diri orang lain.

Ketiga adalah pertobatan menuju spiritualitas Ekaristi. Mgr. Kleden mengingatkan bahwa Gereja bukan milik para pemimpin atau manusia, melainkan milik Tuhan. Karena itu, kepemimpinan harus dipahami sebagai pelayanan dan partisipasi dalam kasih Kristus.

Keempat adalah syukur. Gereja dipanggil untuk tetap bersyukur atas umat yang dipercayakan kepadanya, termasuk ketika jumlah umat relatif kecil. Minoritas tidak seharusnya menjadi alasan untuk kehilangan harapan karena karya Tuhan memiliki jalan-Nya sendiri.

Gereja Dipanggil Menjadi Jembatan

Gagasan tentang Gereja sebagai jembatan dan pembangun jembatan menjadi salah satu benang merah refleksi Mgr. Kleden.

Jembatan itu, katanya, tidak hanya dibangun dalam hubungan antaragama. Gereja juga harus membangun hubungan dengan generasi muda, para migran, kelompok budaya yang berbeda, masyarakat sipil, pemerintah, serta semua orang yang memiliki kehendak baik.

Di tengah perubahan cepat di Asia, ia menilai Gereja juga harus semakin peka terhadap persoalan ekologis. Krisis lingkungan disebut sebagai salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi Gereja-Gereja Asia.

Pembangunan ekonomi di sejumlah negara Asia, menurutnya, sering dibarengi eksploitasi sumber daya alam yang mengabaikan dampak jangka panjang. Deforestasi, perampasan lahan dan aktivitas pertambangan ekstraktif menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

Misi Adalah Karya Tuhan

Pandangan Mgr. Kleden berakar pada konsep Missio Dei, yakni keyakinan bahwa misi pada dasarnya merupakan karya Tuhan sendiri. Gereja bukan pemilik misi, melainkan dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya Allah di tengah dunia.

“Only because it is Missio Dei, God’s mission, the Church in Asia has a future,” tegasnya.

Keyakinan tersebut juga membentuk pandangannya tentang kepemimpinan Gereja. Ia mendorong model kepemimpinan sinodal yang mau mendengar, membuka ruang bagi berbagai suara dan tidak takut berbagi tanggung jawab.

“We shall not fear of losing power, but inviting and encouraging more people to participate in the leadership,” ujarnya.

Menurut Mgr. Kleden, masa depan Gereja adalah berjalan bersama dan berbagi tanggung jawab.

Di akhir refleksinya kepada umat Katolik Asia, Mgr. Kleden menyampaikan pesan sederhana namun kuat: “Take courage to be bridges and bridge-builders, as Jesus has done for us.”

Pesan tersebut seolah merangkum perjalanan Gereja Asia ke depan. Di tengah masyarakat yang beragam, kesaksian iman mungkin tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras. Gereja justru dipanggil untuk mendengar lebih dalam, berjalan lebih rendah hati dan membangun jembatan dengan lebih sabar.

Bagi Mgr. Kleden, di situlah kekuatan kesaksian Gereja Asia: bukan sekadar berbicara tentang Injil, tetapi menghadirkannya secara nyata, bahkan dengan suara yang lirih, seperti bisikan yang mampu menyentuh hati.

 

Komentar