Indonesia Masih Ada! Ribuan Pelajar Gelar Pawai Budaya di Tengah Duka Pascabencana
ASKARA - Semangat kemerdekaan tidak padam di tengah duka pascabencana. Ribuan pelajar di Kabupaten Aceh Tengah justru mengibarkan semangat Merah Putih melalui pawai budaya menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (10/8/2026).
Sejak pukul 07.00 WIB, pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK hingga MAN bersama sanggar seni dari 14 kecamatan memenuhi ruas jalan Kota Takengon. Mereka tampil dalam balutan beragam pakaian adat Nusantara, mulai dari busana tradisional Gayo, Jawa, Batak hingga Papua.
Pawai menyusuri Jalan Merdeka menuju Lapangan Musara Alun. Sepanjang perjalanan, masyarakat memadati sisi jalan menyaksikan penampilan drumband, tari kolosal dan berbagai atraksi budaya. Tepuk tangan serta sorakan warga mengiringi setiap rombongan pelajar yang melintas.
Bagi masyarakat Aceh Tengah, perayaan kemerdekaan tahun ini memiliki makna yang berbeda. Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sebelumnya meninggalkan kerusakan pada sejumlah jalan, lahan pertanian dan fasilitas publik. Namun, kondisi tersebut tidak mampu memadamkan semangat masyarakat untuk memperingati kemerdekaan.
"Kami ingin tunjukkan bahwa semangat anak-anak Aceh Tengah tidak padam walau baru dilanda bencana. Ini bukti kami tetap cinta Indonesia," kata Mia Gustina, S.Pd., Guru Pembina OSIS SMAN 4 Takengon.
Ketua Umum Pasak Opat Nenggeri Linge, Zam Zam Mubarak, mengatakan peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat persatuan masyarakat setelah menghadapi bencana.
"Ini momentum untuk menguatkan persatuan. Di tengah duka, kita tetap harus merayakan kemerdekaan. Karena merdeka artinya kita bangkit bersama," ujarnya.
Dari Tanah Gayo, Indonesia Pernah Ditegaskan Masih Ada
Pawai budaya tersebut sekaligus membawa ingatan masyarakat pada sejarah perjuangan kemerdekaan di Tanah Gayo. Bendera Merah Putih tercatat dikibarkan di Aceh Tengah pada 4 Oktober 1945. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan melalui prasasti di salah satu titik penting di Kota Takengon.
Namun, kontribusi Gayo terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti di sana. Dari dataran tinggi inilah Radio Rimba Raya pernah menjadi suara Indonesia ketika keberadaan Republik dipertaruhkan.
Ketika Belanda menguasai ibu kota Republik dan menyebarkan propaganda melalui Radio Hilversum bahwa Indonesia telah tidak ada, Radio Rimba Raya hadir dengan pesan yang sederhana tetapi mengguncang dunia:
"Indonesia masih ada."
Siaran tersebut menjangkau sejumlah wilayah di luar Indonesia dan menjadi bagian penting dari perjuangan diplomasi serta penyebaran informasi mengenai keberadaan Republik Indonesia kepada dunia internasional.
Kini, puluhan tahun setelah suara Radio Rimba Raya menggema, semangat yang sama kembali terlihat di jalan-jalan Kota Takengon. Bedanya, kali ini yang membawa pesan bukan lagi penyiar radio di tengah perang, melainkan ribuan pelajar dengan pakaian adat, drumband, tarian dan kibaran Merah Putih.
Pawai ditutup dengan pekikan "Merdeka!" dan pengibaran bendera raksasa oleh para pelajar di tengah kerumunan masyarakat.
Dari Tanah Gayo, pesan itu kembali bergema: bencana boleh meninggalkan luka, tetapi tidak boleh memadamkan semangat Indonesia.

Komentar