Warga Keluhkan Air PDAM Pondok Ungu Keruh hingga Berbau
ASKARA - Keluhan warga mengenai kualitas air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kembali mencuat. Kali ini, keluhan datang dari pelanggan di kawasan Pondok Ungu Permai, Kabupaten Bekasi, yang mengaku menerima air dengan kondisi keruh, berbau, dan bahkan disebut terdapat cacing kecil.
Keluhan tersebut disampaikan melalui akun TikTok @sri.yani87121. Dalam unggahannya, pemilik akun mempertanyakan kualitas layanan air bersih yang diterimanya, terlebih dirinya mengaku baru memasang sambungan PDAM dengan biaya yang tidak sedikit.
“Kualitas air PDAM Pondok Ungu Permai buruk sekali, bau, keruh, kotor, bahkan ada cacing kecilnya. Padahal baru pasang dan biayanya mahal, tapi kualitasnya tidak sesuai harga,” tulis akun tersebut sembari menanyakan apakah pelanggan lain mengalami persoalan serupa.
Unggahan yang ditungkil, Senin (10/8/2026) itu kemudian memancing sejumlah komentar warga lain yang mengaku menghadapi masalah serupa. Salah satunya, akun @dwieyt, mengaku sudah lelah menyampaikan keluhan terkait layanan air di Pondok Ungu.
“Udah males ngomongin air PAM Pondok Ungu. Kita ngeluh/komplain, pinter banget ngelesnya,” tulisnya.
Keluhan juga datang dari warga Babelan. Akun @Honey collection1 menyebut kondisi air membuat warga enggan menggunakannya untuk kebutuhan tertentu. Bahkan, ia mengaku menggunakan air galon untuk menyikat gigi dan memandikan bayinya.
“Babelan juga. Sampai jijik mau sikat gigi. Pakai air galon buat sikat gigi dan mandiin baby,” tulisnya.
Sementara itu, akun @Subli Santoso menyoroti kondisi air yang menurutnya kerap berubah menjadi keruh kecokelatan ketika musim kemarau. Ia mempertanyakan tanggung jawab penyedia layanan karena pelanggan tetap membayar air yang diterima.
“Betul, herannya tiap musim kemarau air keruh coklat. Mana tanggung jawab PDAM? Konsumen beli, bukan gratis,” tulisnya.
Ia juga mempertanyakan alasan yang pernah diterima pelanggan ketika mengadukan kondisi tersebut, yakni adanya dugaan kebocoran pipa. Menurutnya, alasan itu belum menjawab mengapa kondisi air justru cenderung lebih buruk pada musim kemarau.
“Kalau ada pipa bocor, kenapa saat musim hujan agak bersih? Tidak bersih ya. Lain dengan di Priok, keadaan apa pun tetap jernih,” lanjutnya.
Komentar lain dari akun @MLYD menyebut persoalan kualitas air diduga tidak hanya dirasakan pelanggan Pondok Ungu. Menurutnya, wilayah Babelan dan Tarumajaya juga mengalami kondisi serupa karena disebut mendapatkan pasokan dari sumber yang sama.
“Seluruh kecamatan Babelan, Tarumajaya, Pondok Ungu sama saja dan sumbernya juga sama, PDAM yang ada di Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan,” tulisnya.
Beragam komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan kualitas air tidak hanya menjadi keluhan individual, tetapi berpotensi menjadi persoalan layanan publik yang perlu mendapatkan perhatian serius. Terlebih air PDAM digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mencuci hingga keperluan kebersihan pribadi.
Keluhan warga melalui media sosial tersebut tentunya perlu diverifikasi oleh pihak penyedia layanan. Kondisi air yang keruh, berbau maupun ditemukan benda asing seperti yang dikeluhkan warga semestinya segera diperiksa melalui pengujian kualitas air dan pengecekan jaringan distribusi.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak PDAM terkait keluhan warga tersebut, termasuk penyebab perubahan kualitas air dan langkah penanganan yang akan dilakukan.
Warga kini menunggu jawaban sederhana: jika pelanggan membayar untuk mendapatkan air bersih, apakah air yang mengalir ke rumah memang sudah memenuhi standar kualitas yang seharusnya?

Komentar