Di Hadapan Kiai Muda Cirebon, Prof Rokhmin Dahuri Beberkan Kunci Kebangkitan Islam untuk Indonesia Emas 2045
ASKARA - Potret Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, adil dan makmur ternyata mirip dengan masa keemasan umat Islam pada Abad ke-7 hingga Abad ke-18. Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS dalam Diskusi Kebangsaan bersama Kiai Muda Cirebon Raya di Nana Cafe, Kota Cirebon, Ahad (9/8).
Dalam diskusi bertema "Kiai Muda Sebagai Game Changer: Mencetak Santri Berdaya Saing Global, Berbasis Nilai Keislaman dan Sains" itu, Prof. Rokhmin yang juga Anggota Komisi IV DPR RI 2024-2029 menjelaskan, kejayaan umat Islam di masa lalu terjadi karena satu kunci: melaksanakan Islam secara kaffah dan ittiba'.
"Ketika umat Islam melaksanakan Islam secara kaffah dari Fathu Makkah sampai sebelum Revolusi Industri, umat Islam menguasai IPTEK, maju, hidup sejahtera, dan menguasai 2/3 wilayah dunia," tegasnya.
Mirip Pancasila dan Lindungi Non-Muslim
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu, dalam sejarah "The Golden Age of Islam", kemajuan peradaban Muslim tidak terlepas dari penguasaan sains dan teknologi. Para ilmuwan Muslim tidak mengenal dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan. Al-Khwarizmi, misalnya, dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan matematika dan algoritma. Spirit inilah yang perlu dihidupkan kembali: keimanan yang kokoh harus berjalan beriringan dengan keluasan ilmu, penguasaan teknologi, dan kemampuan berinovasi.
Pesan utamanya jelas: IMTAQ dan IPTEK tidak boleh dipisahkan. Kita membutuhkan generasi yang memiliki integritas spiritual sekaligus unggul secara intelektual—memahami nilai agama, menguasai sains dan teknologi, berpikir kritis, serta mampu menjadi pencipta solusi. Kemajuan umat tidak cukup dibangun hanya dengan kesalehan individual, tetapi juga dengan ilmu, kompetensi, produktivitas, dan karya nyata.
"Kehidupan di zaman keemasan tersebut sangat mirip dengan cita-cita Peradaban Bangsa Berbasis Pancasila. Mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, musyawarah, hingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat," ungkap Ketua Dewan Pakar Mhwanat Muhammadiyah ini.
Fakta menariknya, di era itu Negara Islam justru menjadi pelindung. Agama, keyakinan, jiwa, harta, dan hak-hak sipil warga non-muslim dilindungi sepenuhnya oleh negara.
Kehidupan sosial berjalan harmonis. Anak yatim terpelihara, yang kaya memberdayakan (empowering) yang miskin, dan yang miskin tidak iri, melainkan bekerjasama dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ekonomi dan perdagangan pun berjalan dalam koridor efisiensi dan keadilan tanpa kecurangan, karena masyarakatnya istiqamah menjalankan hukum Allah dan Rasul-Nya.
Pada masa itu, dunia Islam menjadi center of excellence IPTEK dunia. Para ilmuwan dari seluruh penjuru dunia belajar kepada ilmuwan muslim secara gratis, tanpa perlu hak paten. Perguruan tinggi pertama dan terbaik di dunia, Bayt Al-Hikmah di Baghdad yang didirikan tahun 832 M pada era Khalifah Al-Mansur dan Al-Ma'mun di masa Abbasiyah, bahkan menjadi rujukan Oxford dan Sorbonne University.
"Hampir seluruh IPTEK modern dari zaman Revolusi Industri sampai sekarang berasal dari karya-karya monumental ilmuwan Muslim di era kejayaan tersebut," ungkapnya mengutip Wallace-Murphy, 2007 dan Qureshi, 2007.
Pemimpin Sederhana dan Tidak Ada Orang Miskin
Ketua Umum GNTI (Gerakan Nelayan Tani Indonesia) ini juga menyoroti keteladanan pemimpin Muslim. Ia mengutip pesan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq: “Kalian memilihku sebagai khalifah, tetapi aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Oleh karena itu, turutilah aku sepanjang sesuai aturan Allah SWT dan Rasulullah SAW, kalau tidak tinggalkan aku.”
Serta prinsip Khalifah Umar bin Khattab: “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”
Hasilnya nyata. Pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, Harun Al-Rasyid, hingga Muhammad Al-Fatih, tidak ada satu pun penduduk yang miskin. Bahkan zakat, infaq, shodaqoh, dan IPTEK pun diekspor ke seluruh penjuru dunia.
8 Agenda Umat untuk Indonesia Emas
Lantas, apa yang harus dilakukan umat Islam hari ini untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045? Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany ini memberikan 8 langkah konkret:
1. Melaksanakan Islam secara kaffah dan ittiba'. 2. Senantiasa meningkatkan IMTAQ kepada Allah SWT. 3. Menjadi muslim yang kokoh IMTAQ dan berakhlak mulia: shidiq, amanah, fathonah, tabligh, qanaah, syukur, sabar, tangan di atas, dan rahmatan lil a'lamin. 4. Menuntut, menguasai, dan mengamalkan IPTEK yang diridhai Allah. 5. Memperkuat Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniah, dan Ukhuwah Basariyah. 6. Memilih pemimpin - Kepala Negara, Menteri, DPR, DPRD, hingga Kepala Daerah - yang Smart, Good (ber-IMTAQ dan berakhlak mulia), dan Strong. 7. Memperkuat HANKAM, sistem informasi, perdagangan dan geopolitik global. 8. Waspada dengan istijraj.
Pesan itu disambut antusias para Kiai Muda Cirebon yang hadir, yang diharapkan menjadi game changer pencetak santri berdaya saing global.
Dalam kesempatan itu, Prof Rokhmin menegaskan bahwa kemajuan sebuah negara tidak bisa lepas dari sejumlah prasyarat. Mulai dari penegakan hukum yang berkeadilan, meritokrasi, tata kelola pemerintahan yang baik, hingga kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas.
Namun, di atas semua itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah faktor penentu.
"Saudaraku, saya mengajak untuk kita peduli dengan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu faktor utama. Pendidikan berkualitas, peningkatan keterampilan, riset, inovasi, serta penguatan iman dan takwa dinilai menjadi bagian penting dalam membangun manusia Indonesia yang kompeten, kreatif, inovatif, memiliki etos kerja tinggi, dan berakhlak mulia," ujar Prof Rokhmin.
Menurutnya, Indonesia sejatinya memiliki modal besar untuk menjadi negara maju: bonus demografi, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, hingga posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis. Modal tersebut harus dikelola dengan pembangunan yang terarah.
Sebab, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Di dalam negeri, masih ada persoalan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, disparitas wilayah, deindustrialisasi, hingga kualitas SDM dan kerusakan lingkungan. Sementara di level global, dunia dihadapkan pada ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis ekologis, serta disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan robotika.
Untuk menjawab itu, Honorary Ambassador of Jeju Islands and Busan Metropolitan City, South Korea ini menawarkan konsep pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi juga berkualitas, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Mulai dari transformasi struktural ekonomi, kedaulatan pangan dan energi, hingga penguatan konektivitas dan pengembangan ekonomi baru seperti blue economy, green economy, dan ekonomi berbasis teknologi. "Di sinilah peran strategis umat Islam dan para kiai muda," tegasnya.
Ia mendorong pesantren untuk tidak hanya menjadi pusat pembinaan keagamaan, tetapi juga pusat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kiai muda diharapkan mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan sains dalam mendidik santri.
"Dengan pendekatan tersebut, pesantren dan para kiai muda diharapkan tidak hanya berperan dalam pembinaan keagamaan, tetapi juga ikut menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, kreativitas, dan daya saing untuk menghadapi tantangan Indonesia menuju 2045," pungkas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, para kiai muda antusias berdialog mengenai masa depan peran pesantren di era disrupsi teknologi.

Komentar