Menenangkan Hati Dengan Tawakal
ASKARA - Kecemasan sering kali datang tanpa diundang. Hati dipenuhi ketakutan terhadap masa depan, rezeki, kesehatan, maupun persoalan hidup yang terasa berat. Padahal dunia hanyalah tempat persinggahan yang sementara. Seorang mukmin diajarkan untuk menggantungkan seluruh harapan kepada Allah semata, karena hanya Dia Yang Mahakuasa mengabulkan doa, mengangkat kesulitan, serta memberikan ketenangan yang tidak mampu diberikan oleh siapa pun.
Dalam perjalanan kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari berbagai ujian. Ada kalanya kesulitan ekonomi menghimpit, kesehatan menurun, keluarga menghadapi persoalan, pekerjaan terasa berat, atau cita cita belum juga tercapai. Semua itu sering membuat hati gelisah hingga tanpa disadari lebih mengandalkan manusia daripada Sang Pencipta. Padahal manusia memiliki keterbatasan. Hari ini mampu membantu, esok belum tentu sanggup. Hari ini berjanji, besok bisa saja mengingkari. Karena itulah Islam mengajarkan agar hati tidak bergantung kepada makhluk, melainkan hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Hidup dan tidak pernah tidur.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya:
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. At Thalaq: 3).
Ayat ini merupakan penegas bahwa kecukupan hidup bukan bergantung pada banyaknya relasi, tingginya jabatan, atau besarnya harta, melainkan pada pertolongan Allah. Ketika seorang hamba menyerahkan urusannya kepada Allah setelah berikhtiar dengan sungguh sungguh, maka Allah sendiri yang akan mencukupkan segala kebutuhannya melalui jalan yang terkadang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Kecemasan sering lahir karena hati terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Islam mengajarkan agar seorang mukmin hidup pada hari ini dengan penuh syukur, berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Masa depan berada dalam ilmu Allah, sedangkan tugas manusia adalah berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.
Allah juga berfirman:
وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Artinya:
"Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al Qashash: 60).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa seluruh kenikmatan dunia hanyalah sementara. Rumah yang megah akan lapuk. Kendaraan akan rusak. Jabatan akan berakhir. Kekayaan dapat berpindah tangan. Bahkan usia manusia sendiri memiliki batas. Yang kekal hanyalah apa yang berada di sisi Allah berupa pahala, rahmat, dan ridha Nya. Maka sungguh tidak pantas apabila hati terlalu larut mencemaskan sesuatu yang sifatnya sementara hingga melupakan kehidupan akhirat yang kekal.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan agar umatnya hanya meminta kepada Allah.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Artinya:
"Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At Tirmidzi).
Hadis yang agung ini menjadi fondasi tauhid dalam kehidupan seorang muslim. Meminta bantuan kepada sesama manusia dalam perkara yang memang mampu mereka lakukan adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun menggantungkan hati, berharap secara mutlak, merendahkan kehormatan diri dengan mengemis belas kasihan kepada manusia, atau meyakini bahwa manusia adalah penentu rezeki dan keselamatan merupakan sikap yang bertentangan dengan kesempurnaan tawakal.
Betapa banyak orang yang menghabiskan waktunya mengetuk pintu manusia, tetapi lupa mengetuk pintu langit melalui doa. Padahal pintu manusia bisa tertutup kapan saja, sedangkan pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi hamba yang bersungguh sungguh memohon kepada Nya.
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya:
"Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60).
Doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan bukti bahwa seorang hamba mengakui kelemahan dirinya dan mengakui kebesaran Allah. Semakin sering seseorang berdoa, semakin dekat pula ia kepada Rabbnya. Sebaliknya, ketika seseorang merasa cukup tanpa doa, sesungguhnya ia sedang menjauh dari sumber pertolongan yang sejati.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ لَا يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
Artinya:
"Barang siapa tidak meminta kepada Allah, maka Allah murka kepadanya." (HR. At Tirmidzi).
Oleh karena itu, jangan pernah malu mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Tidak ada doa yang sia sia. Ada doa yang langsung dikabulkan. Ada yang ditunda karena Allah mengetahui waktu terbaik. Ada pula yang diganti dengan kebaikan lain atau disimpan sebagai pahala di akhirat. Semua merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba Nya.
Ketika hati mulai gelisah, perbanyaklah mengingat Allah. Basahi lisan dengan istigfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan membaca Al Quran. Orang yang selalu mengingat Allah akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.
Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
"Yaitu orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd: 28).
Marilah kita belajar memandang dunia sebagaimana mestinya. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang abadi. Jangan habiskan umur hanya untuk mencemaskan sesuatu yang belum tentu terjadi. Jangan kotori hati dengan ketergantungan kepada manusia. Berusahalah dengan sungguh sungguh, bekerjalah dengan jujur, ikhtiarlah semaksimal mungkin, lalu serahkan seluruh hasilnya kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang tenang, lisan yang senantiasa berdoa, jiwa yang ridha terhadap ketetapan Nya, serta kehidupan yang dipenuhi keberkahan. Semoga kita termasuk hamba yang selalu bertawakal, tidak bergantung kepada makhluk, tetapi hanya berharap kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Komentar