Minggu, 09 Agustus 2026 | 00:41
COMMUNITY

Festival Bedhayan VI 2026: Memayu Hayuning Bawana, Merayakan Harmoni Budaya dan Alam Lewat Tari Tradisi

Festival Bedhayan VI 2026: Memayu Hayuning Bawana, Merayakan Harmoni Budaya dan Alam Lewat Tari Tradisi
Para pemain foto bersama pada Festival Bedhayan VI 2026 (foto.askara)

ASKARA - Warisan adiluhung Nusantara kembali berdenyut di jantung ibu kota. Festival Bedhayan VI resmi digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, menghadirkan kemegahan 16 kelompok tari klasik dari berbagai penjuru Indonesia.

Mengusung tema filosofis "Memayu Hayuning Bawana", sebuah falsafah Jawa yang berarti memperindah, memelihara, dan menjaga keseimbangan dunia, festival tahun ini tidak hanya menyajikan keindahan gerak, tetapi juga pesan mendalam tentang harmoni manusia, alam, dan kehidupan.

"Festival Bedhayan merupakan perhelatan rutin sekaligus perayaan luhur warisan seni budaya Nusantara yang mengandung makna mendalam, nilai-nilai spiritual, serta filosofi kehidupan yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang," ujar Dr. H. Fadli Zon, M.Sc., Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.

Diselenggarakan oleh Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Yayasan Swargaloka, festival ini konsisten menjadi ruang pelestarian tari Bedhaya — tari klasik keraton yang sakral — sekaligus menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan maestro, akademisi, seniman, hingga generasi muda.

16 Karya, Satu Nafas Nusantara

Festival tahun ini dibagi dalam dua sesi pertunjukan yang menampilkan ragam kekhasan koreografi dan filosofi. Di antaranya Bedhayan Arum Dalu oleh tuan rumah JSPA, Bedhaya Brama Astra oleh Satria Buwana, Bedhayan Ura-ura oleh Cunduk Andum, hingga Bedhayan Dewi Sri oleh Wulangreh Omah Budaya dan Bedhaya Nawagraha oleh Paguyuban Adi Yuswa Abaksa.

Tak hanya tari, pengunjung juga akan dimanjakan dengan Pasar UMKM yang menghadirkan kuliner legendaris seperti Karisae by Mie Ayam Gondangdia dan Pawon Omah Wulangreh, serta deretan wastra terbaik dari Altamagi, Batik Nitik Wundri, Cinta Batik Indonesia, hingga Klambine Bu Broto.

Untuk menjaga kualitas artistik, festival ini turut melibatkan para maestro tari Indonesia sebagai pengamat, seperti Theodora Retno Maruti, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng), dan Dr. Sal Murgiyanto, M.A., Ph.D.

Melalui Festival Bedhayan VI, penyelenggara berharap seni tradisi tidak berhenti sebagai tontonan estetika.

"Di tengah perubahan zaman, seni tradisi diharapkan tetap hidup, berkembang, dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga identitas budaya Indonesia," tutup penyelenggara.

Festival ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI, Bakti Budaya Djarum Foundation, BCA, MURI, dan berbagai mitra budaya lainnya.

Komentar