Jumat, 07 Agustus 2026 | 20:03
NEWS

Di C-Day 2026 FPIK IPB, Prof. Rokhmin Dahuri Tantang Mahasiswa: Jangan Jadi Job Seeker, Jadilah Raja Ekonomi Biru!

Di C-Day 2026 FPIK IPB, Prof. Rokhmin Dahuri Tantang Mahasiswa: Jangan Jadi Job Seeker, Jadilah Raja Ekonomi Biru!
Prof. Rokhmin Dahuri menjadi pembicara pada C-Day 2026 FPIK IPB (IG rokhmindahuriid)

ASKARA – Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengungkap besarnya harta karun Indonesia yang masih tertidur di sektor ekonomi biru (blue economy).

Hal itu ia sampaikan saat memberikan pembekalan kepada ribuan mahasiswa baru dalam kegiatan C-Day 2026 FPIK IPB University di Bogor, 4 Agustus 2026

Menurut Prof. Rokhmin, potensi ekonomi biru Indonesia mencakup 11 sektor raksasa, yakni: (1) Perikanan Tangkap, (2) Perikanan Budidaya, (3) Industri Pengolahan Hasil Perikanan dan Seafoods, (4) Industri Bioteknologi Kelautan, (5) ESDM Pesisir dan Lautan, (6) Pariwisata Bahari, (7) Transportasi Laut, (8) Kehutanan Pesisir, (9) Sumber Daya Wilayah Pulau-pulau Kecil, (10) Industri dan Jasa Maritim, dan (11) SDA non-konvensional pesisir dan kelautan.

"Potensi nilai ekonomi total dari 11 sektor tersebut sekitar 1,4 triliun USD per tahun atau sama dengan nilai seluruh ekonomi Indonesia (PDB) saat ini. Potensi lapangan kerjanya lebih dari 45 juta orang," tegas Prof. Rokhmin.

Ironisnya, dari potensi sebesar itu, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 25 persen. Artinya, 75 persen kekayaan laut masih menganggur.

Rantai Pasok yang Terputus

Prof. Rokhmin menyoroti akar masalah klasik yang membuat nelayan dan pembudidaya tidak sejahtera. Ekonomi pada dasarnya adalah produksi, konsumsi, dan distribusi yang harus terintegrasi. Namun di sektor perikanan, rantai pasok dari produsen ke konsumen masih terputus.

"Kalau lagi enggak ada ikan harganya tinggi, begitu lagi panen raya harganya turun karena enggak ada integrasi manajemen, enggak ada manajemen koperasi atau pelelangan ikan," jelasnya.

Akibatnya, saat panen raya, harga anjlok karena hasil melimpah tidak diimbangi kesiapan pasar, transportasi, dan kelembagaan ekonomi. Solusinya, manajemen rantai pasok harus diperkuat. Saat musim panen, buyer harus sudah standby dan sarana angkut siap mendistribusikan hasil perikanan ke pusat konsumsi seperti Jakarta, Bandung, dan kota besar lainnya.

Jangan Hanya Jadi Job Seeker

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga inovatif dan berjiwa entrepreneur.

Prof. Rokhmin berharap mahasiswa FPIK IPB tidak hanya bercita-cita menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi harus bertransformasi menjadi pencipta lapangan kerja (job creator), entrepreneur, inovator, dan pemimpin masa depan di sektor kelautan dan perikanan.

Untuk itu, mahasiswa diminta menguasai dua hal: hard skills (matematika, kelautan, perikanan, teknik, ekonomi, hukum) dan soft skills (kolaborasi, leadership, disiplin, etos kerja unggul, dan akhlak mulia) melalui kegiatan belajar, praktikum, penelitian, serta aktif di organisasi kemahasiswaan seperti HMI, PMII, IMM, GMNI, GMKI, dan PMKRI.

"Potensi ekonomi biru harus kita transformasikan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan kemakmuran nyata bagi seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

 

Komentar